
Pagi hari, selesai solat subuh Nabil memilih keluar untuk melihat tanaman bunga sang ummi yang sedang bermekaran. Memejamkan mata, menghirup aroma wangi dan segar dari aroma bunga yang di bawa oleh tiupan angin.
Nabil memegang selang yang memang sudah terhubung dengan keran air, yang sering ummi nya gunakan untuk menyirami tanaman kesayangan itu. Dengan lembut Nabil juga menyiramkan bunga-bunga yang seperti melambai-lambai di hadapan dirinya.
"Nak, kamu di sini?" tanya ummi yang tiba-tiba sudah berada di belakang putrinya tercinta.
"Ummi!" pekik Nabil, sedikit terkejut.
"Nak, Ummi boleh bertanya kepada mu?" tanya ummi Fatimah yang sekarang sudah berdiri di sebelah Nabil.
Nabil menoleh, menatap wanita hebatnya itu "Mau bertanya apa, Mi?" tukas Nabil balik bertanya.
"Apa yang membuatmu menerima lamaran ini?" tanya sang ummi, dia menduga jika anak semata wayangnya itu menerima lamaran Faris karna keinginan dirinya.
"Apa karna keinginan Ummi kamu jadi terpaksa harus menikah?" lanjut nya lagi.
Nabil sempat terkejut dengan pertanyaan sang ummi, karna memang benar, alsan utama dirinya siap menikah karna mengingat permintaan wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
Dengan tersenyum, Nabil menjawab "Tidak ada yang terpaksa, mau sekarang atau nanti, Nabil tetap akan menikah. Dan pun, jika memang tuan Faris sudah di takdir kan menjadi jodoh Nabil, mau Nabil lari kemanapun, dia tetap akan bersama Nabil! Semua sudah tertulis di lahul mahfuz, Mi!" jawab Nabil dengan begitu bijak. Ummi yang mendengar nya merasa terharu, diapun akhirnya memeluk putri tunggalnya, tidak sia-sia mereka memasukkan Nabil ke pondok pesantren dari semasa dia kecil, karna anaknya itu menjadi penurut dan juga sangat baik.
"Allah maha tau segalanya, Nabil yakin! jika ini memang sudah tergaris, Allah selalu mempunyai rencana yang baik untuk hamba-hamba nya!" lanjut Nabil lagi.
"Semoga kamu selalu bahagia, Nak! meskipun sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang, namun kamu tetap menjadi putri kecil kami!" timpal ummi, tanpa terasa air mata menetes dari balik cadarnya.
"Mi, boleh Nabil minta sesuatu nggak?" tanya Nabil, kini dia memegang kedua tangan sang ummi.
__ADS_1
"Minta apa, Nak? Ummi akan kasih apapun yang kamu mau!" tukas ummi.
"Nabil ingin Mira juga ada di sini bersama Nabil, Mi! bisa nggak suruh supir untuk menjemput nya di pondok?" tanya Nabil, tidak mungkin dia melupakan sahabat nya dari semenjak SMP itu.
Ummi tersenyum dari balik cadarnya, kemudian meraup wajah Nabil dengan kedua tangan nya.
"Apapun untuk mu, sayang! Kamu tenang saja, sebelum akad nikah mu di mulai, dia sudah berada di sini!" ujar ummi Fatimah, Nabil pun ikut tersenyum mendengar penuturan sang ummi.
Saat keduanya masih asik dengan tanaman bunga yang terlihat begitu indah, dua mobil mewah masuk ke dalam pekarangan rumah mereka.
Ibu dan anak ini saling menatap "Siapa itu, Mi?" tanya Nabil kepada sang ummi.
"Ummi juga tidak tau, Bil! ayo kita ke sana!" ajak ummi Fatimah, Nabil pun mengiyakan. Keduanya pun melangkah mendekati mobil yang sudah berdiri tepat di depan rumah nya.
Dua di antara mereka membawa kotak persegi berwarna hitam, sedangkan duanya lagi membawakan dua paper bag besar. Wanita yang berada di tengah langsung menyapa dan berbicara dengan begitu ramah.
"Halo Assalamualaikum, Bu, Mbak!" ucap wanita itu dengan begitu sopan santun.
"Waalaikumsalam!" jawab Nabil dan ummi serentak.
"Perkenalkan kami dari salon kecantikan dan juga dari butik. Kami MUA yang di sewakan oleh Kakek Adinata untuk mendandani Nona yang bernama, Nabil!" tukas wanita cantik yang masih juga memperlihatkan senyuman di bibirnya.
Ummi dan Nabil sama-sama kaget, bahkan sepagi ini kakek Dinata sudah mengirimkan dia MUA. Namun, ummi tidak ingin mempermasalahkan nya.
"Oh iya, ini putri saya! mari silahkan masuk!" imbuh ummi, ke lima MUA tersebut hanya mengangguk.
__ADS_1
Baru ingin masuk, tiba-tiba satu mobil mewah dan juga mobil pick up yang membawa banyak barang-barang dekorasi juga memasuki halaman rumah abi Zainal.
Untung nya halaman rumah Nabil cukup luas, jadi mobil yang baru datang juga masih muat.
"Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Wendi, kami WO yang akan mendekorasi rumah ini atas perintah kakek Adinata!" ujar seorang lelaki yang baru turun dari dalam mobil yang berdiri di hadapan mereka.
"E e iya, silahkan masuk!" ucap ummi terbata-bata, dia masih merasa bingung dengan apa yang di lihat.
Abi Zainal yang sibuk dengan E-Mail undangan pernikahan putri nya di dalam rumah pun ikut keluar.
"Ada apa, Mi?" tanya abi Zainal Kepada sang istri.
"Ini, Bi! Ada beberapa orang yang datang, para wanita ini yang akan merias Nabil, kalau elalaki ini adalah WO yang akan mendekor rumah kita, Bi!" jawab ummi, Nabil hanya diam dan menunduk.
"Oh... Kalau begitu ayo silahkan masuk!"
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1