Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Diki dan Mira.


__ADS_3

Mira mendadak menjadi kaku, tubuhnya seketika menegang, kata-kata nya hanya menyangkut di tenggorokan, nafasnya terasa tercekat tatkala melihat seseorang yang berbeda duduk bersama orangtuanya.


"Nak, ayo kesini dulu!" panggil ayah nya dengan nada lembut.


Dengan kikuk Mira tersenyum canggung sambil langkahnya dia ayunkan mendekati sang ayah.


"Ayah, Bunda, ayo kita makan!" ajak Mira yang salah tingkah karna ada orang lain di sana.


"Ini, Nak Diki baru sampai. Dia bilang ingin mengajak kamu makan, dan dia bilang kamu juga setuju. Sejak kapan kamu mulai menyetujui berpergian dengan seorang lelaki pada malam hari?" tanya Ayah nya Mira.


Mendengar itu, Mira langsung membulatkan matanya, kapan dia menyetujuinya. Tatapan Mira langsung beralih pada Diki, ternyata dia tidak main-main dengan ancaman nya, pikir Mira.


"Aku tidak pernah mengatakan iya, Ayah! Dia sendiri yang nekat datang ke rumah. Lagian kenapa Ayah tidak memarahi nya saja? Kenapa datang ke rumah orang dan menuduh ku seperti itu?" tukas Mira balik bertanya.


Diki hanya mengangkat alisnya sebelah, wajah nya terlihat sangat santai, tidak ada ketakutan dalam diri asisten Faris tersebut.


"Apa seperti itu cara kamu berbicara dengan tamu? Dia kan bermaksud baik!" sergah Ayah nya.


Mira membola mendengar ucapan sang Ayah "Bukan kah Ayah marah tadi?" tanya Mira lirih.


"Iya, Ayah marah. Tapi setelah apa yang di katakan Nak Diki, Ayah tidak jadi marah." jawab ayahnya lagi.


"Kenapa begitu?" tanya Mira lagi.


"Kamu pergi saja sebentar dengan nya, Nak!" timpal Bunda Maya kepada sang putri.


Mira semakin di buat bingung, bukan kah seharusnya Ayah nya marah, kenapa Bunda nya malah menyuruh dirinya untuk pergi.


"Aku tidak mau, Bun! Aku mau makan." tolak Mira, dia bangkit, ingin berjalan pada meja makan.


"Kamu pergi lah sebentar, Nak!" seru Ayah Darwis membuat langkah Mira berhenti.


"Ada apa dengan Ayah dan Bunda, kenapa mereka malah menyuruh ku pergi?" batin Mira menjerit.


"Tapi, yah--"


"Saya tidak akan menyentuh mu!" imbuh Diki.


"Saya tidak menyuruh anda bicara, dan saya juga tidak ingin pergi dengan anda." sarkas Mira dengan begitu lantang.


"Mira...." panggil Ayah Darwis begitu lembut.


"Iya, Ayah!"


"Hanya sebentar, Nak!"


Mendengar itu, Mira menghembuskan nafas kasar, dengan terpaksa pun dia mengangguk.


Setelah mencium tangan keuda orang tuanya, Mira langsung berlalu pergi, gantian Diki yang menyalami tangan Ayah dan Bunda Mira.


"Saya pernah sebentar, Om, Tante!" ujar Diki.


"Jaga anak, Ayah!"


Diki hanya mengangguk dan juga ikut berlalu di hadapan bunda Maya dan Ayah Darwis, mengikuti Mira yang sudah berdiri di samping mobil.


Tanpa mengatakan apapun, Diki langsung membuka pintu mobil depan, agar Mira duduk di sebelahnya. Akan tetapi Mira langsung membuka pintu belakang, dan duduk di sana.


Melihat itu, Diki hanya menyunggingkan senyuman, dia menutup pintunya kembali dan ikut masuk duduk di bangku kemudi.

__ADS_1


"Sudah siap kucing liar?" tanya Diki pada wanita di belakangnya, dia melihat Mira melalui kaca dalam mobil, membuang wajahnya keluarga jendela, membuat nya lagi-lagi menyunggingkan senyuman.


"Kucing liar," panggil Diki lagi.


"Hem..." Mira hanya menjawab asal.


Tidak ada sahutan lagi setelah itu, Diki langsung menancap pedal gas pada mobil nya itu meninggalkan halaman rumah Mira.


...****************...


Sedangkan di mansion Bagaskara, Faris dan Nabil juga sudah siap, setelah solat magrib, Faris mengajak sang istri untuk keluar.


"Mas, kita mau kemana?" tanya Nabil penasaran.


"Ikut saja, sayang!" jawab Faris dengan tangan nya tidak lepas dari pinggang sang istri.


Setelah sampai di luar, Faris langsung membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Silahkan My sweetie," ucap Faris mempersilahkan wanita nya masuk.


Nabil terkekeh "Terimakasih My husband ku," jawab Nabil, setelah itu dia langsung masuk di bantu oleh sang suami.


Mereka tampak begitu serasi, dengan Nabil memakai baju berwarna salem senada dengan niqab yang dia gunakan, sedangkan Faris sendiri hanya memakai jas dengan warna yang sama dengan Nabil.


Sebenarnya Faris sudah memakai celana jeans, kaos oblong dengan jaket di luar nya, tapi melihat ketampanan sang suami yang berlipat ganda dengan pakaian seperti itu, akhirnya Nabil menyuruh sang suami untuk mengganti nya.


"Kamu siap, sayang?" tanya Faris.


Nabil mengangguk, Faris langsung mencium punggung tangan sang istri, tak lupa mengelus sebentar pipi sang istri dari balik niqab nya. Setelah itu Faris langsung menjalankan kendaraan beroda empat itu.


...****************...


Di tempat lain, Diki baru menghentikan mobilnya di sebuah restoran besar. Setelah mematikan mesin nya, Diki langsung melihat ke belakang.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Mira belum berniat untuk turun.


"Untuk cuci piring." jawab Diki santai.


"Apa! Kamu mengajakku ke sini untuk menyuruh ku mencuci piring? Apa kamu tidak waras?" tanya Mira tidak terima.


"Apa kamu memang hobi marah-marah? Lain kali gunakan otak mu itu untuk berpikir," timpal Diki tidak mau kalah.


Lelaki dengan tubuh tegap ini langsung turun dan membuka pintu di mana Mira duduk.


"Ayo turun, perutmu tidak akan kenyang dengan terus marah-marah." ajak Diki.


Mira memalingkan mukanya "Aku tidak lapar." tukas nya dengan datar.


Kruk ... Kruk ... Kruk ...


Dalam seketika wajah Mira langsung berubah memerah saat mendengar bunyi perutnya yang tidak bisa di ajak kompromi.


"Aduh ... Kenapa pakek bunyi sih, dia pasti menertawakan ku. Sungguh terlalu, anggota badanku sendiri tidaj bisa di ajak kompromi." batin Mira.


Sedangkan Diki hanya tersenyum geli mendengar perut Mira yang keroncongan.


"Sudah jangan gengsi lagi, perutmu saja sudah minta di isi," ujar Diki yang masih berdiri di di samping Mira dengan memegang pintu mobil.


"Aku tidak mau." jawab Mira ketus, meski sudah ketahuan dia sangat lapar, tapi dia masih tetap menahan gengsinya.

__ADS_1


Diki menggelengkan kepalanya sedikitnya, kemudian dia langsung menarik baju Mira, agar wanita itu segera turun.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Mira sambil melotot.


"Ku ajak baik-baik tapi kamu tidak mau, sekarang ayo turun." perintah Diki, kini terlihat lebih serius.


"Aku tidak mau, aku mau pulang mau makan dengan Ayah dan Bunda." pekik Mira tetap kekeh menolak nya.


"Apa aku harus menggendong mu agar kamu mau turun?" tanya Diki dengan wajah datar.


Mendengar itu Mira membulatkan matanya, dalam sekejap pun dia sudah berdiri di sebelah Diki.


"Jangan berani macam-macam dengan ku." sarkas Mira.


"Good girls, sekarang ayo kita masuk!" tukas Diki seraya mengembangkan senyuman kemenangan nya, tangan nya pun tak melepaskan baju yang di pakai Mira.


Mira menghentakkan kaki nya lalu mengikuti langkah lelaki yang sangat nyebelin itu.


Sampai di dalam restoran, semua mata tentu saja tertuju pada mereka, dengan Diki yang menarik lengan baju Mira, wajah nya yang tampan akan tetapi sangat datar, tentu membuat perhatian para pengunjung di sana melihat ke arah mereka.


"Kenapa kamu tidak melepaskan saya?" tanya Mira sedikit berbisik.


"Saya hanya tidak ingin kamu terjatuh." jawaban simpel yang di berikan Diki, akan tetapi di tanggap berlebihan oleh Mira. Tanpa di ketahui alasannya, jantung Mira berdegup begitu kencang mendengar penuturan Diki.


Tapi sebisa mungkin dia tidak terlihat merona "Saya bisa jalan sendiri," sergah Mira lagi.


"Bisa nggak sekali kamu tidak melawan?" tanya Diki juga ikut berbisik sambil terus berjalan.


"Tidak!"


Mendengar itu, Diki langsung melepaskan lengan baju Mira dengan sedikit kasar, di dekat sebuah meja yang berada di ruangan khusus.


Setelah itu Diki langsung duduk, tanpa memperdulikan Mira yang tengah menatap nya kesal.


Diki melihat ke arah wanita berniqab di hadapannya, keningnya langsung berkerut "Kenapa tidak duduk?" tanya nya.


"Apa, benar-benar tidak peka. Seharusnya dia menarik kursi untuk ku duduk." batin Mira menjerit keras.


Tidak ada jawaban, sedikit menghentakkan kakinya di lantai, dia pun menarik kursi dengan sedikit kasar, saat ingin duduk, tanpa sengaja kakinya tersandung dengan kaki sebelah nya lagi, hingga.


Brakkkkk


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Kenapa tuh mbak Mira ya?

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2