
Nabil dan Faris saling adu pandang saat mendengar suara aneh dari seberang sana.
"Apa yang kamu lakukan, Diki, selagi ini?" tanya Faris membentak.
"A--ada apa, Ris ... Aku la--gi bersah-ma istri ku--hh ... Ah..." jawab Diki di seberang dengan masih suara d*s*h*n keluar dari mulutnya.
"Cepat katakan kamu dimana? Kenapa tidak ada lagi di hotel?"
"Ka--kami sudah pulang ke Apartemen ku, ah..."
"Oh Shhittt ... Diki kurang hajar. Aku jadi tegang ini," umpat Diki langsung mematikan panggilan nya dengan asistennya itu.
Tatapan Faris langsung beralih pada Nabil, menatap lekat manik sang istri dengan has*rat yang mulai membara, di tambah rambut Nabil yang terlihat masih basah, membuat jiwa kelelakian Faris meronta-ronta.
"Seperti nya burung ku butuh kamu sayang," bisik Faris dengan sensual, membuat bulu kuduk Nabil bangun.
"Tapi aku baru saja mandi dan cuci rambut, Mas!"
"Apa kamu mau membiarkan suami mu tersiksa karena harus menahan nya?" tanta Diki degan mimik wajah yang di buat cemberut.
Melihat itu Nabil jadi tidak tega, dan akhirnya pun dia dan juga Faris kembali berolahraga, akan tetapi sekarang ini berolahraga yang tak membuat lelah, justru memberikan kehangatan di pagi itu.
...****************...
Sementara di mansion, Mira. Diki menarik sebelah sudut bibirnya tersenyum. Ada Mira yang juga tersenyum sambil menggeleng kepala, tangan nya sibuk memasukkan barang yang akan dia kawa ke dalam koper.
"Harus nya aku melarang mu melakukan itu," ucap Mira yang dari radi di tahan oleh Diki agar tidak bersuara.
"Tidak apa-apa, Mira! Kita hanya memperdengarkan kan nya pada, Faris, agar dia tidak bisa mengejek ku lagi," tukas Diki sangat kekanakan, hingga membuat Mira menggeleng kepala dengan mata yang juga di buat memelas.
Sungguh Mira tidak habis fikir dengan Diki, padahal mereka tidak melakukan apapun, setelah sarapan bersama kedua orang tua, Mira. Pengantin baru ini pamit masuk ke dalam kamar, karna Mira ingin membereskan barang-barang yang akan dia bawa ke Apartemen sang suami.
Saat mendengar telepon nya berbunyi, Diki langsung melihat nama si penelepon. Sebelum menjawab, Diki terlebih dahulu memposisikan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang.
Mira mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Diki yang menurutnya aneh, sejurus kemudian matanya langsung membulat sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya tatkala mendengar Diki yang berpura-pura mendes*h.
__ADS_1
Saat Mira mendekati dan ingin bersuara, akan tetapi Diki langsung menutup mulut Mira dengan tangan nya.
Alhasil, Diki berhasil membuat Faris menjadi gelisah dan harus meminta hak pada sang istri.
"Bunda, Ayah, kami pamit ya," pinta Mira pada kedua orang tuanya, meski hatinya sedikit tidak rela meninggalkan kedua orang tuanya, akan tetapi Mira tidak ingin membantah apa yang di katakan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Iya, Nak! Hati-hati di sana, sering-sering jenguk Ayah dan Bunda di sini, pintu rumah selalu terbuka untuk kalian," kata bunda yang tidak bisa menyembunyikan isak tangis nya.
"Pasti, Bunda!"
Diki pun ikut menyalami kedua mertuanya "Ayah sebenarnya ingin kalian tetap tinggal di sini, akan tetapi karna kalian sudah memutuskan untuk tinggal berdua, Ayah hanya bisa menyetujui nya,"
"Diki, Ayah titipkan putri Ayah ya, Nak! Jaga dia, jangan sakiti dia apalagi sampai membuat dia menangis, meski dia terkesan keras kepala, akan tetapi hati nya mudah tersentuh,"
"Jika nanti dia nyusahin kamu dan kamu juga sudah tidak betah dengan nya, jangan sakiti, akan tetapi antar kan kembali dia kepada Ayah, biar Ayah yang kembali merawat nya," jatuh sudar air mata orang tua lelaki dari, Mira.
Begitupun Mira dan Bunda yang sudah tidak sanggup menahan air matanya, padahal Mira dan Diki tidak pindah ke luar planet ataupun keluar negeri, mereka masih satu kota. Akan tetapi rasanya tetap menyesakkan bagi dua orang paruh baya itu.
"Ayah bicara apa? Aku mencintai Mira tulus karena Allah, bukan karena fisik atau rupanya, saat aku sudah memutuskan untuk menjadikan dia sebagai istri ku, aku sudah berjanji dalam diriku jika aku tidak akan menyakiti nya, aku akan selalu membuat nya bahagia. Dan tidak akan pernah meninggalkan dirinya dalam keadaan apapun,"
"Ayah percaya padamu, Nak!" ucap Ayah Mira sambil memukul pelan pundak menantunya.
Mira dan Diki kini sudah berlalu meninggalkan rumah orang tua Mira, sesuai yang mereka katakan, bahwa dia akan membawa sang istri untuk pergi ke Apartemen nya.
Di sepanjang perjalanan, Mira hanya diam. Diki yang sedari tadi setia menggenggam erat tangan sang istri, sesekali mencium nya dengan lembut.
"Apa kamu merasa sangat sedih berpisah dengan orang tuamu? Apa kamu merasa sangat berat? Kalau kamu keberatan, kita akan tinggal di sana," usul Diki, dia tidak ingin di anggap egois membawa istrinya pergi dari keluarga nya.
Mira menggeleng cepat "Rasa sedih sudah pasti ada, akan tetapi aku ini istri mu, kewajiban ku mematuhi mu, dan sudah kewajiban mu melindungi ku." tukas Mira menanggapi baik usulan sang suami.
"Makasih sayang, aku janji kita akan ke sana kapan pun kamu mau."
Diki dan Mira kembali menatap pada jalan, menelusuri setiap tempat yang di lewati.
...****************...
__ADS_1
Sampai di Apartemen, Diki langsung menuntun sang istri masuk ke dalam, ini kedua kalinya Mira di ajak masuk ke dalam Apartemen Diki, setelah insiden main hujan-hujanan beberapa waktu lalu, dia menatap takjub pada tempat suami yang terlihat begitu rapi.
Diki langsung mengajak sang istri masuk ke dalam kamarnya, setelah menutup pintu, Diki menatap intens sang istri yang sedang meneliti setiap sudut ruangan nya.
Senyuman terangkat sebelah bibir Diki, dia mendekat, kemudian langsung memeluk tubuh sang istri dari belakang.
Mira tersentak dengan irama jantung mulai tak karuan, akan tetapi sekarang dia sudah bisa menguasai kegugupan nya jika bersentuhan dengan suami tercinta nya itu.
Diki membuka niqab dan khimar yang di pakai sang istri, kemudian meletakkan dagunya di ceruk leher, wanitanya.
Sementara Mira sudah memejamkan mata saat merasakan terpaan nafas Diki menusuk lembut kulit lehernya.
"Apa aku boleh mengulangi yang semalam?" bisik Diki sensual seraya meniupkan daun telinga sang istri.
"La-lagi? Ini masih pagi, Kak!" elak Mira dengan rasa gugup.
"Apa ada larangan bagi pengantin baru untuk tidak berhubungan pada waktu hari?"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Adeh ... Manten baru lagi hangat-hangatnya ya, bikin aku iri tau gak.
Jangan lupa vote ya kakak ku sayang, kalau kalian masih menunggu kelanjutan cerita ini.
__ADS_1