Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Menantu kesayangan.


__ADS_3

Nabil dan dr. Riska duduk di balkon kamar, sambil menunggu dokter yang bernama Adrian memeriksa Faris, Nabil menceritakan semuanya yang terjadi pada suaminya.


Dr. Riska sampai menutup mulut dengan telapak tangannya, jangan kan Faris, dia saja merasakan sakit saat mendengar semua cerita dari Nabil. Bahkan dia sampai menitikkan air mata, mengingat Kakak dan Kakak iparnya yang di bunuh secara tragis yang sampai sekarang belum di temukan jasad mereka.


Tatapan dr. Riska beralih pada tempat tidur, di mana keponakan nya terbaring lemah di sana.


"Kasihan kamu, Nak! Semenjak dari kecil sudah menanggung beban yang tidak pantas untuk kamu pikul." gumam dr. Riska melirih.


Nabil mengusap lembut punggung Tante Riska "Kita berdoa saja, Tan, semoga Mas Faris di berikan kekuatan dan keteguhan oleh Allah," timpal Nabil.


Dr. Riska hanya mengangguk "Temani dia selalu ya, Nak! Jangan pernah membiarkan dia menghadapi masalah nya seorang diri, hanya kamu yang bisa membangkitkan jiwanya kembali," pinta Tante sambil memegang kedua tangan istri keponakan nya.


Nabil pun ikut mengangguk "Insya Allah, Tante! Nabil tidak akan meninggalkan Mas Faris seorang diri."


Nabil dan dr. Riska bangkit saat melihat dr. Adrian sudah selesai memeriksa Faris.


"Apa yang terjadi dengan suami saya, Dok?" tanya Nabil tanpa sabar.


"Anda tidak perlu khawatir, Nona! Tuan Faris hanya terkena demam biasa, mungkin karna pikiran yang begitu berat dan sesuatu yang mengguncang jiwanya kembali, itu sebabnya suhu tubuhnya meninggi dan kepalanya terasa berdenyut," jelas dr. Adrian.


"Saya sudah menuliskan resep obat nya, untuk sekarang biarkan dia terlelap dulu. Setelah bangun anda boleh memberikan nya obat." lanjut dr. Adrian lagi.


"Alhamdulillah ... terimakasih, dok!" pinta Nabil sambil menerima kertas resep obat untuk sang suami.


"Baik, saya permisi dulu." Dr. Adrian langsung pamit, begitupun dr. Riska yang masih ada urusan di rumah sakit.


Kini hanya tinggal Nabil yang menjaga suami tercintanya, dia membukakan niqab juga mengganti bajunya. Perlahan Nabil menaiki tempat tidur yang berukuran king size itu, merebahkan tubuhnya tepat di sebelah sang suami, dia bahkan menempelkan pipinya dengan pipi Faris, merasakan panas yang masih terasa dari kulit belahan jiwanya.


Tanpa rasa mengeluh atau keberatan Nabil merasakan panas yang perlahan menusuk kulit wajah nya, dia bahkan rela membagi rasa sakit suaminya agar dia juga merasakan nya.


"Cepat sembuh lelaki hebat ku, pelindung ku, Aku mencintai kamu, Mas!"


Cup....


Setelah memberikan ciuman di kening Faris, Nabil kembali berbaring dengan posisi semula, tangan nya memeluk erat tubuh Faris yang sudah mulai tenang akibat tertidur.

__ADS_1


...****************...


Faris tengah kebingungan melihat ke sana kemari, dia tidak tau tempat apa yang saat ini dia pijak. Terlihat seperti taman dengan di kelilingi banyak bunga dengan air terjun kecil yang mengalir begitu indahnya.


"Sayang, kamu di mana?" Faris memanggil sang istri, karna seingat nya dia dan Nabil habis pulang dari kantor.


"Nabil, kamu dimana sayang? Jangan buat aku takut," panggil Faris lagi dengan suara meninggi.


"Sayang, jangan pergi, aku tidak akan melakukan hal yang akan membuat kamu marah, aku janji sama kamu," ujar Faris lagi, kini dia sudah berteriak memanggil pujaan hatinya.


Faris tampak linglung, dia memperhatikan sekeliling tempat itu, hanya ada burung berwarna putih yabg bertebaran di atas dirinya.


Saat merasakan kebingungan, tiba-tiba Faris mencium bau harum yang tidak pernah dia cium sebelumnya, Faris terus memutar tubuhnya sambil mendengus hidupnya mencari arah bau wangi yang begitu memabukkan.


Tiba-tiba dari sisi kanan Faris terlihat dua orang berjalan beriringan dengan senyuman menghiasi kedua bibir wanita dan lelaki paruh baya namun tetap terlihat cantik dan juga tampan.


"Mama, Papa!" pekik Faris, dia melihat orang tuanya telah berhenti hampir di dekat nya. Faris melihat Mama yang yang menggunakan pakaian jubah berwarna putih yang di tempelkan mutiara dan berlian di area dadanya, tak lupa kerudung putih yang begitu membuat aura kecantikan wanita yang dia sayangi itu berkali-kali lipat.


Sedangkan Papa nya juga memakai pakaian putih dengan kain selendang sutra di bahunya, mereka tersenyum manis pada putra tunggalnya.


Tanpa menunggu lagi, Faris langsung berlari berhamburan dalan pelukan kedua orangtuanya.


"Aku sangat kangen, Ma, Pa!" ujar Faris sambil memejamkan matanya.


"Iya sayang, sekarang peluk kami erat-erat, karna setelah ini kamu tidak boleh lagi membicarakan kematian kami, Mama dan Papa sudah tenang nak di sini, jadi kamu tidak perlu lagi memikirkan kami berdua,"


"Iya, Nak! Lebih baik kamu lanjutkan hidupmu dengan baik, urus istri dan calon cucu-cucu kami, jangan biarkan dia bersedih hanya karna keterpurukan mu,"


"Istri mu benar, sayang! Mama dan Papa lebih tenang jika kamu mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, jangan membalasnya dan jangan ungkit lagi kematian kami, meski jasad Mama dan Papa tidak di temukan, akan tetapi kami sudah berada di tempat yang sangat indah, Nak! Seketika kami akan ter usir dari sini jika kamu masih merasa dendam dengan kejadian dulu, dan juga di saat kamu tidak mengikhlaskan kepergian kami,"


"Jadi jika kamu ingin kami tenang dan berada di tempat yang indah, doakan kami saja dan sembuh kan hati mu dari rasa dendam, Nak! Cukup kamu mengetahui nya saja," ucap Mama dan Papa Faris memberikan nasehat sambil mengelus kepala putra kesayangan mereka.


"Tapi Mama dan Papa mau kemana? Apa kalian tidak ingin pulang, apa kalian tidak ingin melihat menantu kalian yang sangat cantik. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Abi, Pa. Anak ku kembar, apa kalian tidak ingin menggendong cucu kalian?" tanya Faris yang bercerita penuh haru.


Mama Faris tersenyum "Kami selalu melihat kalian, Nak! Mama tau istri mu sangat cantik dan dia juga sangat baik. Mama sangat beruntung dapat menantu seperti dia, karna dialah yang membawamu kepada kami. Percaya lah, Nak! Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk mu dan juga cucu-cucu kami kelak," ucap Mama nya Faris sambil mengelus pipi Faris.

__ADS_1


"Benar, Nak! Kami selalu mendoakan kalian, kami akan tersenyum jika melihat kalian bahagia dan hidup harmonis. Jangan ulangi lagi kesalahan mu, jadilah suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk anak dan istri mu." timpal Papa Bagaskara.


"Kami pamit, Nak! Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi hingga akhirnya kita akan berkumpul di sini bersama-sama, Mama titipkan salam untuk menantu hebat Mama, ucapkan terimakasih untuk nya. Jika di beri kesempatan oleh yang maha kuasa, mungkin kami akan menemui dirinya juga, agar dia bisa merasakan mempunyai mertua yang sangat menyayanginya."


Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba kabut asap mengelilingi tempat itu, Faris mencoba mengibas-ngibas tangan nya, berharap asap tersebut akan hilang.


Faris mencoba memanggil nama Mama dan Papanya berulang kali, akan tetapi mereka sudah hilang dari pandangan Faris. Dia memejamkan matanya, rasa sesak di dadanya seketika hilang tak tersisa.


...****************...


Terganti dengan matanya yang perlahan terbuka di alam nyata, yang pertama dia lihat adalah sang istri hang tertidur pulas di atas bahunya.


Tangan Faris terangkat, mengelus puncak kepala Nabil, sambil tersenyum dia menyingkirkan anak rambut sang istri yang menutupi wajah cantiknya.


"Terimakasih ya Allah, terimakasih Ma, Pa! Sekarang aku sudah sangat tenang dan ikhlas, melihat kalian bahagia aku tidak akan mengungkit lagi tentang Mama dan Papa, dan aku akan berjanji hanya fokus membahagiakan anak dan istri ku saja." batin Faris masih menatap sang istri.


"Terimakasih juga, Mah. Selalu mendoakan Faris, hingga anak mu ini mendapatkan bidadari surga yang terbaik di sisi Faris, dan untuk mu istri ku, aku berjanji tidak akan mengecewakan mu, sayang!"


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Apa ya kira-kira tanggapan kalian, kalo aku sedih ya. Huhuhuuhu.


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.

__ADS_1


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2