
Nabil masih mendengus-dengus bau tubuh Faris, ntah karna kehamilan nya hingga penciuman nya menjadi lebih tajam.
"Kamukan habis meeting, Mas, kenapa bau anyir seperti bau darah seperti ini?" tanya Nabil menatap lekat pada manik sang suami.
Faris bungkam, wajah nya menegang, dia sedang bingung mencari alasan agar tidak membohongi isteri nya lagi.
"Aku kan baru pulang kerja dan keringetan, sayang! Jadi wajar baunya seperti ini," jawab Faris membalas tatapan Nabil, sebisa mungkin Faris bersikap santai, agar sang istri tidak curiga.
"Tapi kenapa bau darah, biasanya kamu juga kerja tapi tetap wangi?" tanya Nabil lagi masih belum sepenuhnya percaya.
"Mungkin karna kamu sedang hamil, sayang. Jadi penciuman mu lebih tajam." jawab Faris asal, tapi langsung di benarkan oleh Nabil.
"Ya sudah kalau begitu, kamu segera mandi, Mas! Aku tidak tahan dengan baunya." seru Nabil sambil menarik sang suami masuk ke dalam lift, guna untuk sampai ke kamar mereka.
"Aku sudah menyiapkan air untuk Mas mandi. Sana, Mas mandi lah dulu!" ujar Nabil seraya membantu Faris membuka jas kerjanya, setelah mereka sampai di dalam kamar.
Faris tidak menjawab, akan tetapi dia langsung menggendong Nabil ala bridal style, membuat istrinya terkejut.
"Astaghfirullah, Mas! Apa yang kamu lakukan?" tanya Nabil, tangan nya langsung di kalung kan di leher sang suami.
"Mandi bersama mu." jawab Faris santai, membuka pintu kamar mandi, langsung membawa istrinya masuk.
"Tapi, aku sudah mandi, Mas!" protes Nabil.
Faris menurunkan tubuh wanita nya yang perutnya sudah membuncit.
"Aku tidak perduli, salah kamu sendiri kenapa mandi tidak menunggu ku."
Cup...
Satu kecupan singkat di berikan Faris pada bibir ranum sang istri, setelah itu dia langsung membuka satu persatu pakaian yang di gunakan oleh Nabil.
Faris menghentikan sejenak tangan nya pada perut Nabil, mengelus begitu lembut hingga ke pinggang sang istri.
"Anak-anak Abi sehatkan di sana? Kalian rindu sama Abu tidak? Abi jenguk kalian sekarang ya!" imbuh Faris seraya tangan nya terus berputar di perut Nabil yang sudah membesar.
Nabil tampak gelisah dan juga malu, dia langsung menenggelamkan wajahnya dalam dada Faris yang juga sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Faris memegang dagu Nabil, mengangkat wajah istrinya agar menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, sayang! Bolehkan aku menjenguk si kembar?" tanya Faris dengan suara berat nya, matanya juga sudah sangat sayu. Melihat itu, Nabil tidak tega untuk menolak nya, dengan malu pun dia mengangguk.
Faris tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada Nabil, dengan sangat lembut dia mencium bibir sang istri. Nabil masih diam, dia masih canggung bila membalas ciuman sang suami.
Faris berhenti sejenak "Balas ciuman ku, sayang!" pinta Faris, matanya semakin di baluti oleh kabut gairah.
Faris mulai menciumi kembali benda kenyal milik Nabil, sekarang Nabil pun sudah mulai membalas, meskipun masih kaku. Akan tetapi Faris terus membimbing Nabil agar mengimbangi ciuman mereka.
Setelah beberapa saat berciuman, Faris menggendong Nabil kembali tanpa melepaskan ciumannya, dia masuk ke dalam bathtub yang sudah di isi oleh Nabil untuk Faris mandi, tapi malah dirinya ikut mandi.
Dengan sangat pelan Faris duduk dan juga menduduki tubuh sang istri di atas pangkuan nya.
Perlahan tapi pasti, penyatuan mereka lakukan di dalam air hangat yang semakin membuat mereka terbakar gairah.
Nabil memang sudah biasa dengan kebiasaan Faris melakukan di tempat yang berbeda selain di tempat tidur. Bisa di meja di dalam kamar mereka, di sofa dan juga sudah beberapa kali melakukannya di dalam kamar mandi.
Setelah mereka merasakan kebahagiaan dunia, Nabil terjatuh lemah di atas dada sang suami, Faris memeluk erat tubuh polos sang istri. Tidak ingin membuat Nabil masuk angin, Faris langsung memandikan Nabil.
Dengan begitu lembut Faris mengusapkan sabun dari punggung sang istri, hingga ke ujung kaki, kadang dia juga memberikan pijitan di tubuh wanita nya, tak lupa sifat jahilnya yang terkadang sengaja memegang tempat sensitif Nabil, membuat wanita itu sedikit mengeluarkan suara aneh.
Selesai menggosok punggung Nabil, dan memberikan sampo di kepala sang istri, calon Abi bayi kembar ini bangun, membawa sang istri ke bawah shower, menyirami dan membilas sisa sabun dari tubuh mulus Nabil.
"Aku akan mengurus bumi lu terlebih dahulu," jawab Faris sambil memberikan senyuman termanis miliknya.
Nabil hanya bisa diam, dia tau jika suaminya memang sangat susah di hentikan jika sudah mempunyai keinginan.
...****************...
Selesai memandikan istri, Faris juga sudah membersihkan tubuh nya, dia melilitkan handuk di tubuh Nabil, kemudian kembali menggendong wanita tengah mengandung anaknya itu.
"Kamu tau sayang, ini adalah ujian terbesar ku," ucap Faris ambigu, sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
Nabil mengerutkan keningnya, tangan nya sudah melingkar sempurna di leher Faris "Cobaan apa, Mas? Apa Mas punya masalah?" tanya Nabil khawatir.
Faris menggeleng, dia mendudukkan Nabil pada kursi di depan kaca rias sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang istri "Melihat tubuh sek-si mu ini membuat adik kecilku selalu bangun, dan menahan nya adalah cobaan yang paling berat bagiku."
Nabil memukul lengan polos Faris saat mendengar ucapan Faris, wajahnya langsung berubah merah bak kepiting direbus.
Faris tersenyum, saat menatap wajah malu istri nya, dia langsung memeluk pinggang Nabil dari belakang, meletakkan dagunya di ceruk leher Nabil yang belum menggunakan pakaian.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih malu dengan ku, sayang? Aku ini suamimu, bahkan aku sudah menanamkan benih di rahim mu, jadi semuanya sudah aku lihat, untuk apa kamu masih kaku dan malu seperti itu? Aku juga ingin sekali-kali kamu yang memimpin nya!" bisik Faris sensual di telinga Nabil, membuat wanita itu mencubit lengan Faris yang melingkar di perut buncitnya.
"Sudah, jangan menggoda ku lagi," pinta Nabil memohon kepada sang istri.
Lagi-lagi Faris tersenyum, dia sangat gemas melihat tingkah pemalu istri nya. Lelaki bermata biru itu menarik dirinya dari Nabil dan mengecup sekilas puncak kepala sang istri.
"Tunggu di sini, aku akan mengambil baju untuk mu." ujar Faris, namun Nabil menarik tangan nya.
"Biarkan aku saja, Mas!"
Faris memegang tangan Nabil, kemudian mencium nya, lalu tangan nya berpindah mengelus pipi Nabil.
"Kamu duduk yang manis di sini, kali ini biarkan aku yang mengurus mu!" imbuh Faris, setelah itu dia kembali melangkah, masuk dalam walk in closed dan memilih baju untuk istrinya pakai.
Sedangkan Nabil hanya tersenyum memandang punggung kekar suami yang juga masih polos. Dia benar-benar merasakan bahagia hidup bersama pria dingin itu, perlakuan manis yang di berikan oleh orang kaku dan dingin sungguh sangat membuat bahagianya berlipat ganda.
Faris keluar dengan membawakan baju untuk dirinya dan juga wanita pujaan nya, tak lupa pakaian dalam Nabil yang juga dia keluarkan. tanpa malu dia langsung menggantungkan br* di hadapan Nabil, ingin memakaikan kacamata berbusa tersebut pada tubuh Nabil.
"Berhenti, apa yang akan Mas lakukan?"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Duh ... Faris, aku jadi meleleh ini, kok bisa-bisanya lelaki dingin kaya kamu bisa manis gitu sih? Mana ingin memakaikan pakaian dalam untuk Nabil lagi.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.
__ADS_1