
Mendengar teriakan dari seorang lelaki di belakang mereka, beberapa lelaki yang sedang mengurumuni Mira langsung berbalik, dengan wajah dingin Diki terus melangkah, hingga para pria ber jas itu mundur untuk memberi jalan, mereka tau siapa yang sedang melangkah, mereka tidak ingin cari gara-gara dengan orang kepercayaan Faris.
Sedangkan wanita yang di akui sebagai wanita nya terdiam kaku, jantung nya berdegup dua kali lebih cepat, tatkala mendengar ucapan yang Diki lontarkan, yang mengatakan dia sebagai wanita nya.
Sampai di dekat Mira, Diki langsung menarik lengan baju Mira, Diki tetap bersikap sopan untuk tidak menyentuh wanita yang sedang dia tarik itu.
Tanpa bantahan pun Mira bangun dan mengikuti langkah Diki, matanya masih tidak berkedip melihat lelaki yang baru dia sadari mempunyai perawakan yang bisa di bilang sempurna.
Semua mata tertuju pada mereka, termasuk para sahabat Diki, sekarang pria kaku itu sudah tidak memperdulikan lagi tatapan-tatapan aneh dari orang-orang di dalam ruangan luas itu.
"Duduk lah, apa kau akan menatap ku terus?" tanya Diki membuat Mira tersadar jika dia terlalu lama menatap wajah Diki, dia baru sadar jika Diki membawa dirinya pada salah satu meja kosong di sudut ruangan.
Bukan nya duduk Mira malah kembali menatap pada Diki.
"Aku bilang duduk, aku tau jika aku sangat tampan, kau bisa melihat ku lagi setelah kita duduk," tukas Diki dengan begitu percaya diri.
Mira mencibikkan bibir nya "Bagaimana aku akan duduk, jika tangan mu masih memegang bajuku," cibir Mira, matanya melirik pada tangan Diki yang masih memegang lengan bajunya yang lumayan besar.
Diki pun mengikuti tatapan Mira, refleks dalam seketika Diki langsung melepaskan tangan nya, Mira menyentak kakinya di lantai karna kesal, tapi dia tetap patuh untuk duduk pada kursi yang sudah di tarik oleh Diki.
Dengan begitu santai Diki pun ikut duduk di hadapan Mira.
Sudah beberapa saat mereka duduk, tapi tidak sepatah katapun yang keluar dari bibir Diki, bahkan lelaki itu sama sekali tidak melirik pada dirinya, seperti biasa, dia tetap terkesan cuek dan kaku, dia hanya sibuk dengan ponsel di tangan nya, dengan sesekali matanya melihat pada Faris dan Nabil. Seakan Mira tidak ada di hadapannya.
Membuat Mira bingung, tadi Diki yang membawanya ke tempat mereka duduk sekarang, tapi lelaki itu malah mengabaikan dirinya, membuat suasana begitu canggung.
"Kenapa anda membawa saya ke mari?" tanya Mira dengan mata menyelidik, dia ingin mencair kan suasana.
"Apa kamu merasa senang di goda oleh para lelaki hidung belang itu?" tanya Diki penuh penekanan, wajah Diki kembali dingin, sorot matanya menatap Mira dengan tajam.
Mira sedikit bergidik, bukan itu yang dia maksud, dia hanya tidak nyaman dengan situasi dimana Diki hanya diam dan berwajah Dingin.
"Bu-bukan itu, tadi anda membawa saya ke sini, tapi anda malah sibuk dengan ponsel anda, seolah-olah tidak menganggap saya ada di hadapan anda, kalau seperti itu lebih baik saya pindah saja dan duduk di meja yang lain." tukas Mira dengan nada tidak suka, dia bangun hendak melangkah, akan tetapi dengan cepat Diki menarik lagi lengan baju Mira, hingga wanita itu terduduk kembali di hadapan Diki.
"Apa kamu marah karna saya mengacuhkan mu?" tanya Diki seperti menggoda Mira, tanpa Mira sadari bibir Diki menyunggingkan senyuman tipis saat melihat wajah yang tampak kesal.
__ADS_1
"Tidak, buat apa saya marah, anda kan memang orang yang hemat bicara, cuek, kaku plus nyebelin!" cerca Mira terus mengatai Diki. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, membuang muka dari pria di hadapan nya.
Sedangkan Diki hanya tersenyum miring mendengar kalimat yang di lontarkan wanita di hadapannya. Tanpa aba-aba Diki menarik baju di bahu Mira menjadi menghadap padanya lagi, dan dalam waktu begitu cepat dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Mira.
"Jadi ... Apa aku harus terus berbicara dengan mu, apa aku harus terus menatap mu, atau ... Apa aku harus selalu berjarak seperti ini jika sedang berdua dengan mu?" tanya Diki tepat di hadapan Mira, membuat wanita bercadar itu tampak gugup, karna jarak di antara mereka sangat lah dekat, bahkan hembusan nafas Diki masuk ke dalam niqab yang di gunakan Mira.
Mira yang sudah tidak bisa melakukan apapun lagi hanya memejamkan mata saat melihat Diki terus mendekatkan wajahnya, dalam hatinya terus beristighfar agar dia di ampuni karna telah bersitatap dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
Melihat ketakutan Mira, Diki kembali tersenyum, dia melepaskan baju Mira dan menarik tubuh nya lagi kembali bersandar pada kursi yang dia duduki.
Merasa Diki melepaskan baju dan menjauh dari wajahnya, Mira kembali membuka mata, tatapan Mira kembali berubah menjadi kesal karna merasa jika Diki sangat tidak sopan pada nya.
"Kenapa menatap ku seperti itu? Apa kamu mengharapkan lebih dari kedekatan ku dengan mu?" tanya Diki mengejek Mira.
Mira semakin meradang mendengar penuturan Diki, dia hendak berbicara, ingin melayangkan kata-kata yang akan menyadarkan Diki, bahwasanya dia telah salah menilai dirinya.
Akan tetapi belum sempat dia mengungkapkan satu katapun, Diki sudah mengangkat tangan kanannya, melarang Mira untuk bersuara.
"Jangan katakan apapun, aku sudah tau apa yang akan kamu ucapkan, kamu pasti akan mengatakan jika aku lelaki yang tidak sopan, tidak berperasaan, dan juga nyebelin," celetuk Diki yang tau apa yang akan di ucapkan oleh Mira.
Mira terdiam mendengar ucapan yang baru di lontarkan oleh Diki, kenapa lelaki itu tiba-tiba berubah, kenapa dia menjadi sangat posesif, dan apa maksudnya mengatakan jika dia adalah wanita nya. Pikiran Mira sudah bercampur aduk, bingung dengan perubahan sikap Diki.
Sedangkan Diki, dia juga ikut terdiam, dia menunggu reaksi wanita di hadapannya, akan tetapi Mira hanya diam, membuat Diki enggan membuka suaranya kembali.
Acara masih terus berlanjut, kini para tamu undangan sudah di persilahkan untuk bersalam-salaman dengan pengantin yang masih berdiri dengan senyuman merekah, di mulai dari keluarga dan juga para sahabat, setelah nya baru rekan kerja Faris yang berasal dari dalam kota hingga berbagai negara.
Setelah Kakek Adinata, Abi, Ummi Ayah, dan Bunda Mira memberikan selamat dan bersalaman, kini giliran Putra, Heri dan Rangga yang menuju pada panggung pelaminan.
"Selamat ya, Ris! Atas pernikahan dan juga keberhasilan lo menitipkan benih unggul dalam rahim istri lo! Akhirnya lo menjadi pria sejati." ucap Putra dengan cemprengnya, setelah dia tau jika istri sahabatnya tengah mengandung anak Faris, membuat Nabil yang mendengar merasa malu.
"Lo bisa saja, gw doakan juga lo cepat-cepat nyusul, berhenti membagi benih di rahim wanita-wanita itu," balas Faris tidak mau kalah.
"Iya, setelah gw mendapatkan yang tepat, gw akan segera menyusul lo" Putra juga mengucapkan selamat pada Nabil, tapi mereka tidak bersalaman, hanya mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Selamat ya, nona Nabil! Oh ya apa kan masih ada wanita seperti anda? Kalau ada sisakan satu untuk saya!" celetuk Putra lagi.
__ADS_1
"Lo nggak pantas mendapatkan wanita seperti istri ku, wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik!" timpal Faris menjawab ucapan Putra, dia berbicara seolah dia adalah lelaki yang paling baik.
"Lo kira lo sudah pantas bersanding dengan, Nabila? Untung dia wanita yang baik, jika tidak, gw rasa dia sudah ninggalin lo jauh-jauh hari lalu" cibir Putra membuat Faris melotot dan wajah memerah karna kesal.
Nabil hanya terkekeh, Putra berlalu, tidak ingin terus berdebat dengan Faris.
Kini giliran Heri, dia pun juga sama mengucapkan selamat atas pernikahan dan keberhasilan Faris menjadi lelaki normal.
Kini giliran Rangga, pria yang sudah beberapa bulan meninggalkan kota karna memilih mengurus perusahaan kakek, dia berjalan dengan begitu pasti, senyuman terhias di bibir nya, mengulurkan tangannya pada Faris.
"Selamat ya, Ris! Akhirnya kamu benar-benar mencintai, Nabil," ucap Rangga.
Faris tersenyum, dia membalas uluran tangan Rangga "Bagaimana aku tidak mencintai nya, dia wanita yang sangat luar biasa, cantik, baik dan juga penyabar, bukan kah itu yang di cari setiap pria?" jawab Faris, tatapan nya tidak lepas dari manik indah sang istri.
Sedangkan Nabil merasa kaget melihat Rangga di hadapannya dan menyalami Faris seolah mereka berteman dekat.
"Kak Rangga!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Aduh ... Rangga, aku tau posisimu pasti sangat sakit, tapi mau bagaimana lagi, habisnya kamu kan yang meyakinkan Faris untuk bertaruh.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.