
Saat mendengar namanya di panggil, Faris langsung melihat pada sebuah meja dengan kursi sofa yang sangat cocok untuk bersantai.
"Kalian," ucap Faris, bukan dia yang melangkah mendekat, melainkan dua orang yang ternyata adalah sahabat nya, Putra dan Heri yang mendatangi nya.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Faris kepada kedua sahabatnya.
"Kita kebetulan meeting di sini, Ris, jadi kami lanjut mengobrol. Kamu sendiri ngapain di sini? Sendiri lagi, Diki mana?" tanya balik Putra.
"Aku ingin membelikan makanan untuk istri dan calon anak ku. Ada di sana, tuh orangnya," jawab Faris menunjuk Diki yang berdiri di parkiran.
"Widih ... Suami sayang istri ini ya," goda Heri sambil menyenggol lengan Putra.
"Bukan kah pasangan suami istri memang harus saling menyayangi?" tanya Faris membuat Heri kalah telak.
"Santai, Ris! Nggak usah emosi. Bagaimana kalau kita ke klub malam ini, sudah sangat lama kan kita tidak kumpul bareng," ajak Putra pada sahabat nya itu.
"Aku tidak bisa," jawab Faris singkat, dia ingin melangkah akan tetapi dua sahabatnya yang tau sikap dingin Faris langsung menahan nya.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita ngobrol di sini sebentar?" ajak Putra lagi.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama aku tidak ingin membuat istri ku cemas." ucap Faris, Putra dan Heri hanya saling pandang, Putra mengangkat bahunya tidak mengerti, mereka pun mengikuti Faris yang duduk di sofa tempat Putra dan Heri duduk.
Faris mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang "Masuklah!" seru Faris pada orang dari balik telpon yang sudah pasti Diki, asistennya.
Tidak lama Diki pun nongol dari balik pintu masuk, tatapan nya langsung mengarah pada tiga lelaki dengan pakaian kantor yang tengah duduk santai.
"Apa pekerjaan mu sangat banyak di kantor, Ris? Hingga kamu sangat jarang punya waktu untuk berkumpul bersama kita?" tanya Putra yang memang penasaran, karna semenjak Nabil hamil Faris memang tidak pernah mendatangi bar miliknya lagi.
Faris menyeruput kopi yang baru saja di antar, dia menggeleng setelah meletakkan cangkir itu kembali "Aku tidak sibuk, hanya saja aku tidak ingin meninggalkan istri ku, terlebih dia sedang hamil, aku tidak ingin dia kenapa-kenapa," jawab Faris apa adanya.
"Hem ... Jadi karna istri mu? Apa dia melarang mu?" celetuk Heri juga ikut bertanya.
Faris mengernyit "Apa masalah nya? Bukan kah istri berhak melarang suaminya jika dia melangkah ke jalan salah?" sergah Faris berbalik bertanya.
Putra yang paham jika Faris cepat marah pun melerai "Kamu memang sungguh berubah, Ris, setelah menikah. Aku salut sama kamu,"
"Iya lah, udah bucin akut dia," timpal Heri lagi.
"Biarin aku bucin, daripada kalian terus menjajakan kan wanita-wanita yang tidak jelas di luaran sana," sindir Faris.
"Cinta boleh, tapi jangan sampai bucin, Ris! Apa lagi sampai kamu nurut apa kata dia, kan kamu suami, harusnya dia yang nurut sama kamu. Jadi kalau kamu selalu menurut apa yang dia katakan, nanti ngelunjak loh," celetuk Heri lagi, Faris yang masih bermuka datar seketika langsung menatap nyalang pada Heri.
__ADS_1
"Apa hak mu mengatur-ngatur hidup ku? Dia istri ku, wajar dia melarang ku agar tidak sampai berbuat kesalahan. Menjadi pasangan suami istri bukan hanya soal kebersamaan saja, akan tetapi sama-sama mengerti sama-sama mendengar kan pendapat masing-masing, dan sama-sama menghargai keputusan satu sama lain, lagian yang lebih tau istri ku bagaikan itu, aku. Jadi kamu tidak berhak berpikir jika dia tidak patuh pada ku," sarkas Faris mulai emosi, Putra dan Diki saling lirik, mereka tau sahabat mereka ini sangat bertolak belakang.
Jika Faris emosian dan cepat marah, beda dengan Heri yang tidak peka juga blak-blakan.
" Yaya ... Ku akui kamu memang sangat berubah, Ris! Tapi apa kamu tidak ingin mencoba yang baru, secara burung mu sudah berfungsi sempurna, apa kamu tidak bosan?" Diki dan Putra sampai menepuk jidatnya mendengar pertanyaan Heri.
Sementara Faris sudah sangat geram, ingin rasanya dia memberikan bogem mentah untuk sahabat nya itu. Akan tetapi Faris yang sekarang sudah Mulai bisa mengatur emosi nya sendiri.
"Kamu tidak akan paham, Heri, karna kamu belum merasakan bagaimana mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang istri. Bagaimana setiap pagi dia membangun kan ku dengan penuh cinta, menyediakan semua kebutuhan ku tanpa pernah mengeluh, bagaimana dia mengurus ku saat aku sakit,"
"Yang jelas kalian tidak pernah tau bagaimana rasa bahagia nya di dampingi oleh seorang istri yang tulus dan setia berada di sisi kita sebelum kalian menikah,"
"Jika di tanyakan bosan mungkin ada, tapi tergantung kita, apa akan menuruti rasa bosan atau kita memilih mempertahankan, jika kalian tulus mencintai pasangan kalian, maka rumah terasa di surga. Jadi aku tidak perlu mencoba yang di luar sana jika penawarnya ada di rumah," ucap Faris panjang lebar.
Saking panjangnya, Putra dan Juga Heri sampai melotot dengan mulut menganga, sungguh mereka tidak menyangka, Faris yang dulu si hemat bicara, kaku, dingin bisa berkata sebijak itu.
Diki hanya diam santai dan menyimak, dia tidak merasa kaget karna sudah sering melihat sifat bucin Faris meskipun tidak bersama Nabil.
"Ckckck ... Aku beneran kagum padamu, Ris!" celoteh Heri sambil mulutnya berdecak kagum.
"Hebat kamu, Ris! Bisa berubah dalam beberapa bulan ini," puji Putra yang juga ikut kagum.
"Bukan aku yang hebat, akan tetapi istri ku yang telah sabar menuntun dan menasehati ku selalu," sarkas Faris.
"Introspeksi, Bro! Lo itu seorang pemabuk dan sering bagi-bagi benih, mimpi menikahi wanita Solehah, kalau menghayal nggak usah ketinggian, kalau jatuh sakit," cibir Diki yang kini bersuara.
"Ya elah lo, Dik, kan nggak ada salahnya gw menghayal seperti itu, siapa tau jadi Kenyataan, Aaminn." timpal Heri lagi.
"Jadi kamu tidak akan pernah mendatangi bar lagi, itukan bar milik kamu?" tanya Putra tampak begitu serius.
"Aku tidak tau untuk itu, yang jelas aku tidak akan menginjakkan kaki ku ke sana lagi. Untuk bar itu aku masih ragu, menutup atau menjualnya," jawab Faris, wajah nya tampak memikirkan tentang hal yang belum bisa dia tepati sepenuhnya pada Nabil.
"Apa, tutup? Tapi itukan banyak menguntungkan mu," tukas Heri tampak terkejut.
"Aku tidak tau, kan aku bilang masih belum tau,"
Putra, Diki dan Heri hanya mengangguk, obrolan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya suara azan ashar pun terdengar.
"Diki, pesankan makanan untuk Nabil, kita pulang sekarang udah masuk waktu asar," celoteh Faris pada Diki. Dan ucapan Faris lagi-lagi membuat ke dua sahabatnya itu terbelalak.
"Baik," Diki bangun dan diapun langsung melangkah.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar, Ris?" tanya Heri, Putra langsung mencubit punggung Heri, dia tidak enak jika membuat Faris kembali kesal.
Faris mengangkat alisnya sebelah "Salah dengar apa? Bukan kah sebagai muslim kita harus melaksanakan kewajiban?" tanya Faris balik.
"Ehehe ... Sudah, Ris, jangan di dengerin ucapan nya dia, kamu mau pulang kan, silahkan kasian istri mu pasti menunggu mu di rumah," elak Putra membuang arah pembicaraan Heri.
"Hem ... Lain kali kita bertemu lebih lama," setelah mengucapkan itu, Faris langsung berlalu di hadapan kedua sahabatnya.
"Lo apa-apaan sih, nyubit-nyubit gw?" tanya Heri kesal sambil mengelus bekas cubitan Putra.
"Lo tu yang apa-apaan, bagaimana kalau Faris marah?"
"Ya aku kan cuma nanya, heran aja gw ya, soalnya mendadak banget berubah baiknya,"
"Karna dia sudah mendapatkan pawang yang tepat, makanan lo cari wanita yang bener, jangan asik nanam benih di semua rahim wanita. cerca Putra.
"Huh, apa bedanya sama lo?"
"Beda, gw selalu milih yang berkualitas dan masih virgin, sedangkan lo bahkan di kasih Tante-tante pun mau," jawab Putra sambil merapikan dokumen nya, setelah itu dia langsung mengambil langkah seribu.
"Woi, kurang aj*r, awas lo ya"
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Aduh bang Faris, itukah dirimu?
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.