
Siang hari di sebuah apartemen, Diki dan Mira baru selesai mandi, setelah mereka mengulang kisah semalam memadukan kasih sebagai pasangan suami istri.
Mira membuka pintu kamar mencari sosok suami yang sudah tidak ada lagi di dalam kamar. Deret langkah nya dia ayunkan untuk menuruni tangga, perlahan pandangan matanya dapat melihat sang suami yang sedang berkutat di dapur. Dengan celemek melekat di tubuh nya yang kekar.
"Kak," panggil Mira sambil terus mendekat.
Diki yang sedang mengiris-iris bawang langsung mendongakkan wajahnya menatap sang istri yang telah mengayunkan langkah mendekati nya.
Sambil tersenyum Diki pun menjawab "Sayang," tangan nya dia ulurkan untuk memanggil sang istri mendekat.
"Kakak mau masak?" tanya Mira.
"Hem..." jawab Diki sambil mencium lembut kepala sang istri.
"Harus nya Kakak nungguin aku, gak perlu Kakak yang repot-repot memasak," ujar Mira, meski dia tidak bisa memasak, akan tetapi dia akan belajar karna ini memang kewajiban nya sebagai seorang istri.
Diki tersenyum "Aku sudah biasa memasak untuk diri ku sendiri, tidak ada yang di repotkan, sayang. Karna kamu juga tanggung jawab ku,"
"Tapi ka--"
"Shuutt ... Kamu duduk saja di sana, temenin suamimu ini memasak saja," kata Diki memotong ucapan Mira.
"Aku di sini saja, sekalian melihat cara Kakak masak, sebenernya aku juga tidak bisa masak," celetuk Mira sambil tercengir menunjukkan deretan giginya.
"Jangan tersenyum seperti itu, sayang! Nanti aku tidak jadi masak, tapi memakan mu,"
Mira melotot sambil meneguk liurnya kasar, Diki yang dia kenal kaku dulu kini benar-benar sangat mesum.
"Kalau kamu tidak bisa masak, lalu kenapa tadi kamu bilang ingin menyiapkan makanan untuk ku?" tanya Diki mengalihkan Kembali pembicaraan.
"Ehehe ... Aku akan memasak telor ceplok untuk kita!" ungkap Mira sambil menyembunyikan wajah malu nya.
Sebagai seorang perempuan tentu dia merasa malu karna Diki lebih pandai dari pada dirinya. Tapi itu karna selama ini Mira selalu makan makanan yang sudah tersaji saat di pondok.
Jika dulu Faris marah dan menuntut Nabil agar bisa masak, akan tetapi berbeda dengan Diki, dia malah tersenyum mendengar penuturan sang istri "Kamu hanya bisa masak telor ceplok?"
Mira mengangguk malu "Itu karna selama ini di pondok aku ambil nasi rantangan, yang sudah di masak dan di antar ke tempat aku mengaji," gumam nya dengan lirih.
Diki menarik dua sudut bibirnya, istri nya itu memang terlihat sangat menggemaskan "Tidak apa, sekarang kamu makan masakan ku saja, selama aku bisa, aku akan selalu masak untuk kita berdua,"
"Mana bisa seperti itu. Sebagai seorang istri aku juga ingin memasak untuk suami ku sendiri," jawab Mira dengan ketus.
Diki yang masih memotong bahan masakan langsung mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Coba ulangi lagi, sayang!"
"Ap--apa? Yang mana?" tanya Mira gugup mendapatkan tatapan sulit di artikan dari sang suami.
__ADS_1
"Yang barusan kamu ucapkan,"
"Memasak?"
"Setelah itu!"
"Belajar memasak?"
"Bukan, setelah itu lagi, untuk siapa kamu ingin memasak?"
"Untuk sua--mi!" Mira sadar langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hei, kenapa jadi malu, bukan kah aku memang suamimu?"
"Ah ... Tapi tetap saja membuat ku jadi malu." jawab Mira menjerit di dalam hati.
"Sudah, jangan melihat ku seperti itu, sekarang aku mau Kakak mengajar kan aku cara masak enak." pinta Mira sambil memegang lengan sang suami.
"Apa kamu benar-benar ingin menyenangkan suami mu ini?" tanya Diki mengejek.
"Ih ... Jangan selalu menggoda ku, sini biar aku saja yang memotong nya," Mira langsung merebut pisau dari Diki, kemudian dia langsung ancang-ancang untuk memotong daging yang tadi di pegang oleh suaminya.
"Eh ... Tidak seperti itu, sayang! Ini bukan untuk di cincang, akan tetapi di iris saja," Diki yang di belakang Mira langsung menahan tangan sang istri, kemudian menuntun Mira untuk mengiris daging dengan lembut.
Jantung Mira terasa berdetak cepat, meski sudah beberapa kali bersentuhan dengan Diki, akan tetapi pelukan lelaki itu mampu membuat dirinya senam jantung.
Akhirnya mereka memutuskan untuk masak bersama, tepatnya Diki mengajari Mira cara memasak.
Satu jam berkutat di dapur, masakan yang mereka sajikan sudah tertata di atas meja bar dapur. Mira sudah menuangkan nasi beserta lauknya untuk Diki. Di saat dia ingin menuangkan dalam piring miliknya, Diki langsung menahan tangan nya.
"Kenapa, Kak?"
"Kita makan satu piring berdua saja,"
"Tap--"
"Aku ingin, Mira! Aku ingin kamu menyuapi ku," tegas Diki yang tidak bisa di bantah lagi.
Mira tersenyum malu "Dasar pria kaku, tapi manja nya pakek banget" cecap Mira pada suaminya.
"Tapi kamu suka kan..."
"Aku terpaksa,"
"Ya sudah, nanti aku tidak mau lagi mengajarimu memasak," tukas Diki dengan raut wajah cemberut.
"Uluh uluh ... Ini, Kak, Ak..." Mira langsung menyodorkan sendok berisi makanan di depan mulut sang suami.
__ADS_1
Diki kembali tersenyum dan membuka mulutnya lebar-lebar, akan tetapi yang terjadi malah membuat nya melotot, Mira malah memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Em ... Enak banget kak," gumam Mira dengan senyuman kemenangan di bibirnya.
"Kamu sudah berani mengerjakan aku ya!" Diki yang kesal bangun, diapun langsung menyambar bibir sang istri yang masih penuh dengan nasi yang baru saja dia masukkan.
Mira melotot saat merasakan makanan dalam mulutnya berpindah ke dalam mulut Diki.
"Ih ... Kakak kok jorok banget sih," protes Mira setelah Diki melepaskan ciumannya pada bibir Mira.
"Salah siapa kamu mengerjai ku?" jawabnya tanpa rasa bersalah atau pun jijik sedikitpun.
Mira tidak habis pikir dengan kelakuan Diki, bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu, tidak ingin terulang adegan yang menurutnya jorok, Mira benar-benar menyuapi Diki. Sebaliknya dengan Diki, yang juga menyuapi dirinya bergantian.
Selesai makan, Diki langsung mengajak Mira untuk duduk di ruang tamu. Sambil menonton tv, Diki duduk dengan cara tidur di atas pangkuan sang istri.
"Ih ... Kak, geli tau!" protes Mira saat Diki mencium perut rata milik nya.
"Hehe habisnya gemes tau gak,"
"Tv nya di sana kak, kenapa kakak malah memunggungi nya?" tanya Mira sedikit kesal dengan tingkah Diki yang sedari tadi mencium bahkan menggigit perutnya.
"Ini lebih menarik daripada tv, sayang!"
Diki berbalik dan tidur secara terlentang, tangan nya terangkat memegang dagu dan pipi Mira.
"Aku masih belum percaya jika kita sudah bersama, dan aku bisa bermanja-manja dengan mu seperti ini. Rasanya ini masih seperti mimpi, setiap aku membuka mata aku langsung melihat wajah cantik mu, impian ku sudah jadi kenyataan." ujar Diki, dia menarik lembut wajah sang istri, tanpa aba-aba langsung ******* bibir manis Mira yang sudah menjadi candu baginya itu.
Sekarang ini bukan mereka yang menonton TV akan tetapi Tv yang menonton bagaimana mereka saling membelit l*d*h, sampai akhirnya mereka tiba pada intinya.
"Aku mau melakukan nya di sini," bisik Diki dengan suara berat nya.
Mira yang sudah terbuai hanya pasrah, tidak mampu lagi berkata-kata. Dan mereka kembali bersatu dalam sebuah rasa k*n*k*a*a* yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Di ruangan tamu, yang hanya ada mereka berdua.
Mira sudah berbaring di atas sofa dengan suami di atas nya, Diki mengambil remote TV kemudian menekan power off, agar tv itu mati, dan menyisakan suara-suara aneh yang menggema di dalam ruangan tersebut.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Huh ... Gimana gak iri coba, bang Diki yang tampan, dingin dan cuek sama perempuan begitu romantis dengan Mira, kan aku juga pengen di perlakukan seperti itu.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.