
Diki mengajak Mira langsung ke penginapan, karna perjalanan jauh yang mereka tempuh, dia takut akan membuat sang istri kecapean jika lke tempat ke tempat wisata.
"Kita akan kemana, Kak?" tanya Mira masih penasaran saat Diki mengajak nya masuk ke dalam mobil.
Diki hanya tersenyum, di tidak menjawab pertanyaan sang istri.
Kendaraan beroda empat kini berdiri di depan sebuah hotel yang terlihat sangat mewah, Diki turun dan mengulurkan tangan pada Mira yang di sambut dengan begitu lembut oleh sang istri.
Mata Mira tampak berbinar melihat gadung pencakar langit yang menjulang tinggi dan sangat mewah itu.
"Yok kita masuk, sayang!" ajak Diki tanpa melepaskan gandengan tangan ya pada Mira.
Mira mengangguk, keduanya pun melangkah masuk dan berjalan mendekati resepsionis hotel tersebut.
"Dengan Tuan, Diki?" tanya resepsionis wanita itu.
Diki hanya berdehem dan mengangguk "Apa barang-barang ku sudah ada di sana?" tanya Diki dengan suara datar.
"Iya, Tuan! Semuanya sudah ada di dalam." resepsionis itu langsung menyerahkan kunci kepada Diki.
Kembali Diki menggandeng tangan sang istri dan berjalan menuju kamar hotel yang sudah di sewakan oleh nya.
Tentu saja Diki dengan mudah di pesan kamar, karna dia di kenal di seluruh dunia sebagai tangan kanan Faris.
Sampai di dalam kamar, Mira terlihat takjub melihat kamar yang terlihat sangat elegan dan mewah, dia langsung menyelonong masuk ke dalam kamar meninggalkan Diki yang sedang menutup pintu.
"Kak, apa kita akan tinggal di sini?" tanya Mira yang tengah mengayunkan langkah kakinya ke balkon kamar.
"Iya, sayang! Apa kamu suka?" tanya Diki yang berjalan mendekat dan memeluk sang istri dari belakang.
"Sangat, Mas! Ini sungguh negeri yang sangat ingin aku kunjungi," jawab Mira dengan begitu antusias.
"Kita akan buat kenangan indah di sini, sayang!" bisik Diki di telinga sang istri. Pandangan mereka sambil menatap menara yang berdiri kokoh sebagai lambang negara tersebut. Mira seketika menegang, ada rasa takut jika sang suami ingin meminta jatah nya kembali.
Bukan karena tidak ingin memberi, tapi baru semalam mereka melakukan nya, apa dia tidak bisa beristirahat sebentar, pikir Amira.
"Tenang, sayang! Aku tidak akan memintanya sekarang. Karna aku tau kamu pasti lelah," ujar Diki setidaknya membuat Mira sedikit tenang.
"Tapi persiapkan dirimu untuk lima ronde nanti malam." imbuh Diki lagi, dia menggigit kecil daun telinga Mira, membuat sang empunya harus memejamkan mata.
Karna malu dengan reaksi tubuhnya sendiri, Mira langsung masuk ke dalam dekapan sang suami.
...****************...
__ADS_1
Malam hari, setelah solat magrib, Diki tengah berdiri di balkon kamar menunggu sang istri tengah bersiap. Dia sibuk memainkan sesuatu di tangan nya.
"Kak!" panggil Mira membuat Diki sedikit tersentak, dengan begitu cepat memasukkan benda di tangan nya ke salam saku jas yang dia kenakan.
Mata Diki seolah tak berkedip melihat pemandangan di hadapannya saat ini, dimana Mira terlihat begitu anggun dengan balutan baju berwarna biru langit senada dengan niqab dan khimar yang dia pakai.
"Kak," panggil Mira lagi.
"Ah ya sayang!"
"Kakak kenapa? Ada yang salah dengan penampilan ku?" tanya Mira seraya menatap penampilan nya sekali lagi.
Dengan begitu cepat Diki menggeleng dan menarik sang istri ke dalam pelukan nya.
"Tidak, sayang! Kamu sangat-sangat sempurna, bahkan rasanya aku tidak jadi mengajak mu ke luar, dan mengurung mu di kamar ini." ucap Diki memeluk erat tubuh sang istri.
Mira hanya tersenyum mencubit perut sixpack Diki dengan wajah yang bersumbu merah.
"Apa kita akan pergi sekarang?" tanya Mira mengejek sang suami.
Diki menarik gemes hidung sang istri, kemudian dia langsung menggandeng tangan Mira keluar dari dalam kamar mereka tempati.
Sepanjang jalan mereka terus di tatap oleh orang yang mereka lewati atau yang berhadapan dengan keduanya.
"Apa Mas merasa malu dengan penampilan ku?" tanya Mira saat mereka sudah sampai di dalam mobil.
"Aku lebih suka dirimu seperti ini. Memang tidak akan ku izin kan kamu memperlihatkan wajah cantik mu itu kepada lelaki lain." sarkas Diki lagi, seketika hati Mira terasa menghangat mendengar penuturan yang keluar dari bibir sang suami.
Mobil yang mengantar mereka langsung melaju pada tempat yang menjadi tujuan nya membawa sang istri.
...****************...
Tidak berapa lama, mobil yang membawa mereka kini berdiri di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari menara yang sedari tadi ingin Mira datangi.
Diki menuntun sang istri untuk turun dan duduk di sebuah meja yang suday tertata makanan dengan begitu rapi. Sebelum duduk, Siki terlebih dahulu menyerahkan setangkai bunga kepada sang istri dengan cara berjongkok di hadapan, Mira.
Sementara Mira tersenyum malu dan menerima bunga yang begitu harum saat dia mencium nya.
"Terimakasih, Kak!" Diki mengangguk, menarik kursi untuk wanita nya duduk.
"Kapan Kaka menyiapkan ini semua?" tanya Mira penasaran, pasalnya seharian ini Diki hanya menemani dirinya di hotel.
"Apapun bisa aku lakukan, sayang, jadi jangan bertanya seperti itu." jawab Diki enteng.
__ADS_1
Mira sudah tau sifat sombong yang masih melekat di diri suaminya, dia hanya memutar bola mata malas.
"Makan lah sayang, ini semua aku siapkan untuk mu!" seru Diki, dan Mira mengangguk patuh.
Mereka makan malam dengan begitu romantis, dengan pantulan cahaya dari lampu yang berkelap-kelip terlihat sangat indah, dengan sesekali mereka saling melirik malu-malu, seolah mereka anak yang baru merasakan cinta.
Selesai makan malam, Diki menjentikkan jarinya, yang di susul dua orang pemegang biola.
Lelaki 29 tahun itu langsung berlutut di depan Mira sambil mengulurkan tangannya.
"Mau kah kamu berdansa bersama ku, istri ku?" tanya Diki dengan senyuman.
Tidak ingin mematahkan semangat Diki, Mira langsung menyambut uluran tangan sang suami, meski dia tidak bisa berdansa.
Tau jika sang istri tidak pandai berdansa, Diki dengan pelan menuntun sang istri agar bisa seimbang dengan gerakan yang dia lakukan. Mengikuti irama musik yang di mainkan dengan biola tersebut.
Beberapa kali Mira salah melangkah dan malah menginjak kaki, Diki. Akan tetapi itu malah menambah momen kehangatan mereka, kadang-kadang mereka tertawa lepas saat melakukan kesalahan.
Beberapa saat mereka berdansa, Diki menghentikan gerakan mereka, dia juga mengangkat sebelah tangan nya agar pemain biola itu berhenti.
Kedua pria itu paham, dan pamit dari hadapan Diki dan Mira. Saat ini hanya tinggal pasutri yang tidak ada orang lain yang lewat di sekitar mereka.
Diki menarik sedikit niqab yang digunakan Mira, tanpa aba-aba dia langsung mencium bibir manis Mira yang sudah menjadi candu baginya.
Ciuman yang lembut perlahan berubah menjadi ******n dan hisap*n yang memabukkan.
Diki melepaskan ciumannya saat merasa jika sang istri kehabisan nafas. Lelaki tampan itu menempelkan keningnya pada kening sang istri.
Tatapan mereka kembali bertemu, dengan nafas yang menggebu, Diki memiringkan kepalanya, mereka kembali memadukan benda kenyal di depan menara Eiffel yang selam ini Mira impikan.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
...Huh ... Sudah cukup ya keromantisan ini, aku tidak ingin pindah ke planet lain. Lihat saja salah satu dari kalian pasti akan aku pisahkan. Tertawa licik....
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.