
Faris bungkam, bingung mau mengatakan apa kepada Nabil.
"Kenapa diam, Mas?" ulang Nabil lagi bertanya.
"Ah, nggak sayang! Ini rekan bisnis ku!" bohong Fari.
"Maafkan aku, sayang! Aku hanya tidak ingin kamu kepikiran dan mengkhawatirkan ku." lanjut Faris membatin.
"Oh ... Ya sudah! Ayo kita lanjut makan lagi," ajak Nabil menarik lengan sang suami.
"Iya, sayang."
...****************...
Selesai makan siang, Faris mengatakan ada meeting di luar kantor, dan Nabil pun langsung pamit untuk pulang.
"Hati-hati, ya! Kalau sudah sampai kabari aku!" seru Faris sambil memeluk sang istri di depan kantor saat sang istri ingin masuk ke dalam mobil.
"Maaf, Mas tidak bisa mengantar mu pulang." lanjut Faris lagi.
Nabil tersenyum "Iya, Mas! Tidak apa-apa, Mas juga hati-hati ya! Jangan pulang malam."
"Iya, sayang!"
Cup...
Setelah mengelus pipi Nabil dari balik niqab, tidak lupa dia mendaratkan ciuman di dari sang istri.
Setelah mobil yang membawa Nabil berlalu, Faris langsung menghubungi seseorang.
"Ikuti mobil istri ku, pastikan dia selamat sampai di rumah." mengingat beberapa waktu ini mereka terlalu sering menghadapi masalah, Faris memberi penjagaan yang ketat untuk sang istri.
"Baik, Tuan!" setelah terdengar sahutan dari seberang, Faris langsung mematikan ponselnya. Sudah ada Diki di belakang dirinya.
"Kita berangkat sekarang, Diki." ujar Faris dan di angguki oleh Diki.
Diki langsung berjalan di depan Faris, guna untuk membuka pintu mobil untuk Tuan nya itu.
Dengan berwajah dingin, Faris melangkah masuk, tidak lupa kaca mata hitam bertengger di hidung nya yang mancung.
Mobil pun berangkat meninggalkan kantor kebesaran Bagaskara, Diki dan Faris sama-sama diam. Kedua wajah lelaki ini tampak begitu serius.
Hampir satu jam Faris dan Diki kini telah sampai di sebuah tempat yang terlihat ada bangunan yang lumayan besar, meski Faris menyebutkan nya dengan sebuah markas, akan tetapi tempat itu terlihat seperti mansion.
__ADS_1
Diki dengan begitu sigap turun dari mobil dan membuka pintu untuk Faris.
Dengan jas kantor berwarna hitam senada dengan celana, kaca mata hitam masih terpakai, Faris berjalan masuk dengan memasukkan tangan ke dalam saku celana, wajahnya tampak dingin, rahang nya mengeras, dia hanya fokus berjalan mengabaikan para anak buahnya menunduk memberi hormat.
"Dimana mereka, Max?" tanya Faris yang masih berjalan dengan kini di ikuti oleh Diki dan Max.
"Ada di ruangan ke empat dan ke lima, Tuan!" jawab Max.
Faris mengangguk, sebelum dia melangkah ke ruangan yang di maksud Max, Faris terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan satu.
Ruangan seperti kamar begitu luas, di dalam ruangan tersebut ada penjara kecil dan di sekitar nya di penuhi dengan alat-alat senjata.
Faris mendekati penjara yang ada di sana, seorang wanita yang berada di dalamnya langsung berdiri dan memohon iba ketika melihat kedatangan Faris.
"Max, apa kau memberikan dia siksaan yang menyakitkan hingga dia terlihat mengerikan seperti ini?" tanya Faris pada Max tentang keadaan wanita tahanan tersebut.
"Tuan, saya mohon. Lepaskan saya, atau bunuh saja saya, saya sungguh tidak lagi bisa menahan siksaan yang setiap hari saya rasakan." lirih wanita itu penuh harap, Faris hanya tersenyum, lalu kembali menatap Max.
"Apa dia sudah membuka mulutnya tentang siapa yang menyuruh mereka menggelapkan uang perusahaan kita?" tanya Faris.
"Belum, Tuan! Maka dari itu saya selalu mengiris-iris kulitnya dengan pisau kecil, setelah sekujur tubuhnya tergores, saya mengobati nya lagi, hingga dia sembuh kembali dan saya lakukan itu lagi." jelas Max tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Baik sekali hati mu, Max. Mau mengobati dia." tukas Faris dengan senyuman mengejek terbit di bibirnya.
Keluar dari ruangan pertama, Faris masuk ke dalam ruangan kedua, di sana juga terlihat ada penjara kecil dengan seorang lelaki dan satu harimau besar di sudut penjara tersebut.
"Iya, Tuan! Tapi Tiger sangat baik, dia hanya akan menyerang di saat kami bertanya pada lelaki ini tentang dalangnya, jika dia tidak mau memberitahu, maka itu akan menjadi urusan Tiger." jelas Max lagi, Diki yang juga ikut melihat dalam penjara tersebut merasa bergidik, pasalnya lelaki yang berada di sana terlihat sangat mengerikan dengan sekujur badan sudah di lumuri darah.
"Tuan, tolonglah saya, biarkan saya keluar Tuan." pinta lelaki itu sambil berteriak histeris.
"Cepat beritahu saya, siapa yang menyuruh kalian menggelapkan uang perusahaan saya, hah!" sarkas Faris terlihat sangat murka, hingga dengan keadaan bergetar lelaki yang di penjara itupun membuka suara.
"Sa-saya akan memberitahu, Tuan!"
Mendengar itu, Faris menyunggingkan senyuman.
"Max...!" panggil Faris, sambil mengisyaratkan pada Max dengan kepalanya. Max yang tau apa yang harus dia lakukan pun hanya mengangguk.
"Dimana tahanan satu lagi?" tanya Faris sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Tengah di tangani oleh dokter, dia sudah terluka parah, maka dari itu harus di obati." jawab Max enteng tanpa dosa.
Ketiga orang yang di sekap oleh Faris adalah mereka yang dulu mengkhianati Faris dan memalsukan pemasukan perusahaan.
__ADS_1
Saat Faris menyerahkan pada Max, maka Max tau apa yang harus dia lakukan. Dia membawa ketiga tersangka pada Markas Faris, untuk di interogasi sekaligus mencari tau siapa yang menyuruh mereka melakukan hak tersebut.
Setiap hari mereka hanya merasakan siksaan dan kesakitan. Max terus memberikan hukuman dengan menyakiti fisik mereka agar salah satu dari mereka bertiga mau membuka mulut tentang siapa yang telah menyuruh mereka. Sebab Faris yakin, jika mereka melakukan hal tersebut atas arahan orang lain.
Mereka merasakan kesakitan setiap harinya, karna tidak ada yang mengatakan yang sebenarnya, setelah mereka hampir kehilangan nyawa, Max menyuruh dokter yang sengaja di bawa ke sana untuk merawat mereka, setelah sembuh Max kembali bertanya, dan kembali menyiksa jika tidak ada yang memberitahu dirinya.
Faris dan Diki kini masuk dalam ruangan yang ke empat, dia mana seorang wanita masih di ikat pada kursi di tengah-tengah ruangan, matanya di tutup, dan mulut nya yang di tutup menggunakan lakban.
"Apa yang akan kamu lakukan sama wanita ini?" tanya Diki pada atasannya itu.
Faris mengamati wanita yang tak lain adalah Talia, berjalan mengitari wanita yang tengah kebingungan tersebut karna mendengar suara orang yang dia kenal di dekatnya.
Dengan hanya mengedikkan bahu, Faris berjalan kemudian duduk di kursi kebesaran nya.
"Aku juga tidak tau, karna aku sudah berjanji kepada istri ku untuk tidak membunuh nya."
Mendengar kata membunuh, membuat Talia menegang, rasa takut mulai hinggap dalam dirinya.
"Lepaskan saya, apa yang kalian lakukan terhadap saya, hah!" sarkas Talia meronta-ronta ingin di lepaskan.
"Buka!" perintah Faris, langsung saja anak buah yang berada di sana membuka penutup mata Talia.
Setelah di buka penutup mata Talia, tiba-tiba kedua netranya langsung membulat tatkala melihat siapa lelaki yang duduk di depan nya.
"Fa-Faris..."
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Ihhh ngeri banget ya, Max itu!
__ADS_1
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.