Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Faris menghilang.


__ADS_3

Halo semuanya ... Apa kabarnya? Author mau berterimakasih ya atas dukungan kalian semua pada karya receh ini.


Dan juga maaf jika karya inj terlalu bertele-tele tidak jelas, tapi semua pasti ada proses nya, jika kalian tidak suka, tolong! jangan tinggalkan komentar yang bisa membuat author nya down, jika tidak bisa menghargai setidaknya jangan menghujat.


...****************...


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Nabil masih bolak-balik antara balkon dan juga tmpat tidur.


Sejak Faris meninggalkan dirinya, Nabil sama sekali belum merebahkan tubuhnya di atas, dia masih berharap jika Faris akan pulang.


Sebagai penghuni baru di mansion mewah dan luas itu, tentu membuat Nabil merasa tidak nyaman dan juga canggung. Dia belum cukup paham dengan aturan di rumah besar itu.


Terlebih ini adalah malam pertama bagi mereka, mengapa Faris harus meninggalkan dirinya setelah lelaki itu begitu tidak sabar ingin menikahi dirinya, bukan kah malam ini mereka harus menghabiskan waktu bersama, ya setidaknya mereka bisa mengenal satu sama lain.


Namun, Nabil masih berfikir positif, dia mengira jika Faris keluar karna ada urusan mendadak, secara suaminya itu kan orang penting dan pasti orang super sibuk.


"Ya Allah ... Lindungilah suami hamba, kemanapun dia pergi!" hanya itu yang selalu terucap dalam hati Nabil, sampai akhirnya dia terlelap tapat pukul 2 pagi.


Sedangkan Faris sedang sibuk menghabiskan minuman nya, sudah beberapa kali Diki mengajak Faris untuk pulang, tapi tuan muda nya itu sama sekali tidak merespon ucapan sang asisten.


"Tuan, ayo kita pulang! nanti Kakek curiga!" ucap Diki memperingati.


"Kamu jangan menakuti ku, Diki! Aku malas pulang ke rumah karna harus bertemu dengan wanita buruk rupa itu!" imbuh Faris setengah sadar, sedari tadi dia hanya meracau hal yang sama.


"Tapi bagaimana pun dia itu adalah istri mu, Tuan!" timpal Diki, tangan nya beralih menyentuh lengan Faris.

__ADS_1


"Itulah Diki, harus aku kemanakan dia? Jika aku menceraikan nya, kakek pasti sangat shock. Ini tidak sesuai rencana ku, kenapa kakek harus tau tentang pernikahan ini, seharusnya setelah menikah aku langsung bisa menceraikan wanita aneh itu!" lanjut Faris tampak bingung, botol minuman tidak lepas dari tangan nya.


"Anda jalani saja dulu, Tuan! Mungkin dia memang jodoh yang terbaik untuk mu!" timpal Diki memberikan saran.


Faris tidak menghiraukan lagi ucapan asisten pribadinya itu, mungkin dia sudah tidur, karna melihat mata nya sudah terpejam. Karna pengaruh alkohol mungkin membuat nya langsung terlelap.


Diki hanya menarik nafas panjang, dia juga ikut bingung, dalam satu sisi dia merasa senang karna kakek Dinata mengetahui pernikahan ini, dengan itu Faris tidak bisa menceraikan Nabil. Tapi di sisi yang lain, dia juga merasa kasihan jika wanita sebaik Nabila harus hidup menderita bersama tuan muda nya yang tidak memiliki perasaan itu.


"Semoga kalian mendapatkan jalan yang terbaik!" batin Diki, matanya tak lepas dari wajah terlelap Faris.


Jam 05 pagi Nabil baru selesai solat subuh, saat ini dia sedang melantunkan sholawat nariyah.


اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَــمَّدِ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ.


Sedari bangun tidur, pikiran Nabil terus teringat kepada Faris, bagaimana tidak. Setelah semalam di tinggal di dalam kamar pengantin mereka, Faris menghilang bahkan tanpa ada kabar.


"Ya Allah, lindungilah kemanapun suami hamba melangkah, dan tenangkan hati hamba, jauhkan dari firasat dan prasangka buruk, Aaaminn ya rabbal alamin" doa Nabil dia panjatkan, agar tidak lemah dan juga berdosa karna berprasangka buruk terhadap suaminya.


Selesai sholawat dan mengaji, Nabil memakai khimar dan juga niqab nya, setelah itu wanita berbola mata bulat inipun keluar. Kakinya melangkah menyusuri rumah yang setiap ruangan nya terlihat indah dan juga begitu luas.


Karna kamar mereka berada di lantai tiga, Nabil memilih untuk turun menggunakan lift.


"Pagi Nona Muda!" sapa pelayan yang berlalu lalang di setiap ruangan.


"Pagi, panggil saya Nabila saja, Bu!" jawab Nabil sambil tersenyum di balik cadarnya.

__ADS_1


Nabil terus melangkah, hingga kaki jenjangnya sampai pada dapur. Seluruh maid yang melihat Nabil langsung menghentikan aktivitas nya, dan menunduk hormat kepada Nabil.


"Selamat pagi, Nona Muda! Ada yang anda butuhkan? biar kami siapkan!" ucap salah satu dari mereka.


"Tidak apa-apa, Bu! Nabil hanya ingin membantu memasak!" jawab Nabil dengan cepat.


Semua pelayan saling tatap, mana berani mereka membiarkan nyonya muda mereka turun tangan sendiri untuk memasak.


"Tidak usah, Nona! Kami akan membuatkan sarapan untuk anda!" jawab kepala pelayan yang bernama Mila baru saja datang dari belakang punggung Nabil.


"Tapi, Nabil ingin belajar memasak, Bu! Karna Nabil memang belum bisa masak!" pinta Nabil, memang benar, Nabil tidak bisa memasak, karena di pesantren memang sudah ada yang memasak, dan mereka hanya cukup membayar nya saja.


"Turuti saja apa yang cucu menantu ku ingin kan!" suara bariton yang menggema langsung mengagetkan mereka semua.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2