
Waktu berputar begitu cepat, hingga tak terasa satu bulan sudah berlalu pernikahan Diki dan Mira. Demikian juga kehamilan Nabil yang sudah hampir masuk bulan ke sembilan.
Para keluarga begitu antusias dan semakin memberi semangat untuk Nabil. Sementara Faris, sebagai seorang suami dia merasa tidak tenang sejak kehamilan Nabil memasuki bulan ke delapan, pasalnya istri tercinta nya itu melahirkan tidak hanya satu nyawa, melainkan dua sekaligus.
Berulang kali Faris membujuk sang istri agar mau melakukan operasi Caesar saat melahirkan, akan tetapi wanita 21 tahun ini menolak, dengan alasan dia ingin merasakan menjadi seorang ibu yang sempurna.
Pagi hari, di sebuah Apartemen, ada Diki yang tengah mengurut tengkuk belakang leher, Mira. Sudah dua hari setiap pagi Mira merasakan gejala mual dan lemah.
Diki sudah mengajak Mira ke dokter agar di periksa, akan tetapi Mira menolak, dia mengatakan hanya masuk angin saja.
"Uuuekkkk ... Uekkk ... Uekkk..." tubuh Mira langsung lunglai dalam dekapan sang suami, dia merasa sangat lemah, meski tidak ada muntah yang keluar.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang, aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa!" seru Diki sambil menggendong Mira keluar dari dalam kamar mandi, dengan pelan Diki membaringkan tubuh lemah Mira, kemudian dia menyodorkan air minum untuk wanita nya.
"Kamu tunggu di sini dulu, aku akan mengambil sarapan, setelah itu kita akan ke rumah sakit!" ucap Diki dengan lembut sambil mengelus rambut panjang Mira.
"Tap--"
"Sudah, sayang! Jangan membantah. Pokok nya aku akan membawa mu ke rumah sakit." setelah mengucapkan hal itu, Diki keluar dari dalam kamar untuk mengambil sarapan untuk istri nya tercinta.
...****************...
Sedangkan di mansion Bagaskara, Nabil baru saja memakaikan jas pada tubuh suaminya. Meski perutnya sudah membesar, akan tetapi tidak membuat dirinya tidak bisa melayani sang suami.
"Sayang, aku akan berangkat sekarang!" ucap Faris, tangan nya sudah melingkar erat di perut istri nya.
Nabil mengerutkan keningnya "Kenapa buru-buru? Kak Diki juga belum datang, dan kamu juga belum sarapan." tanya Nabil.
"Sayang ... Hari ini aku harus cepat, tadi Diki menelpon, dia tidak bisa masuk, istri nya kurang sehat. Jadi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat, agar aku bisa mengambil cuti untuk menemani mu selama proses persalinan, mulai dari senam, dan check up ke dokter." jelas Faris berharap Nabil akan mengerti.
"Aku tidak mau kamu mengabaikan kesehatan, sebelum sarapan kamu tidak boleh berangkat dulu." sarkas Nabil dengan berdecak pinggang, agar Faris mau sarapan terlebih dahulu.
Faris menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya, kalau sudah begini tidak ada cara selain mematuhi nya.
"Baiklah, kita sarapan sekarang!" ajak Faris langsung menggandeng tangan Nabil.
"Nah ... Gitu dong, sesibuk apapun, kamu tidak boleh mengabaikan kesehatan mu, Mas! Baik sekarang maupun setelah nanti aku tiad--"
Nabil tidak bisa meneruskan lagi ucapnya, karna telunjuk Faris sudah menempel di bibir nya.
__ADS_1
"Jangan katakan itu lagi, Nabila! Aku tidak ingin mendengar nya." sergah Faris dengan tegas. Dia tau apa yang akan di katakan oleh istrinya, karna itu, Faris tidak ingin mendengar nya.
Sementara Nabil, dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, ntah kenapa beberapa hari ini dia seringkali mengatakan hal demikian. Dia melihat wajah Faris yang sudah tegang dan matanya mulai tajam, dia tau jika Faris sedang kesal pada dirinya.
"Mas, maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja mengatakan hal demikian!" pinta Nabil dengan tangan nya sudah memegang kedua pipi sang suami.
Faris memegang tangan Nabil di pipinya, lalu menggenggamnya erat "Jangan pernah katakan itu lagi, kamu tau aku sangat takut kehilangan mu!" pinta Faris.
Nabil mengangguk, Faris langsung memeluk tubuh Nabil dan mencium puncak kepala sang istri beberapa kali.
Mereka akhirnya turun, untuk sarapan sekaligus Nabil mengantar Faris ke kantor.
...****************...
Di rumah sakit, Diki dan Mira baru saja turun dari dalam mobil, keadaan Mira sudah sedikit membaik, dia sudah tidak terlalu lagi merasakan lemah. Hanya wajah di balik niqab nya saja yang terlihat pucat.
Dengan pelan dan lembut, Diki menuntun Mira melewati lorong rumah sakit agar sampai ke ruangan Dr. Riska. Karna sebelum berangkat, Diki sudah dulu menghubungi dan membuat janji dengan dokter yang notabene nya Tante Faris.
Sepanjang lorong yang mereka lewati, mereka berdua tidak lepas dari tatapan-tatapan aneh dari orang yang mereka lewati ataupun sebaliknya. Ada yang merasa kagum karena melihat ketampanan Diki, ada juga yang memuji Mira.
Sebelum masuk, Diki mengetuk pintu yang bertuliskan di atas nya R. Dr. Riska. Setelah mendengar seruan dari dalam, Diki kembali membawa sang istri untuk masuk.
"Iya, Tante! Dari tadi Mira selalu mual-mual, aku takut dia kenapa-kenapa." jawab Diki menceritakan dengan cemas.
"Ya sudah, baringkan saja si atas ranjang itu." tunjukkan tante Riska.
Dokter Riska mulai memeriksa istri ponakan nya itu "Mira, apa kamu sudah lama mengalami mual di pagi hari?" tanya nya.
"Baru pagi kemarin dan pagi ini, Tante!" jawab Mira dengan lemah.
"Apa kamu merasa lemah setiap mual?"
"Iya, Tante. Kadang aku langsung jatuh kelantai jika tidak ada Kak Diki di samping ku." mendengar itu, Diki langsung menyombongkan dirinya sendiri.
"Apa di siang hari pusing, mual dan lemas tubuh mu akan hilang?"
"Iya, Tan" semuanya hilang seketika bagaikan tidak mengalami apapun.
"Fix, tidak salah lagi tante nyuruh kalian datang ke sini." gumam dr. Riska lagi.
__ADS_1
Setelah meletakkan benda yang ada di tangan nya, dokter Riska mengambil sesuatu dan menyerahkan nya pada Mira.
"Coba kamu keluarkan air urine ke tempat kecil ini, kemudian masukkan benda ini." dr. Riska menyerahkan dua benda pada sang istri.
"Untuk apa ini, Tante!"
"Kamu akan tau jawaban setelah kamu melihat nya." ujar dr. Riska dengan santainya.
Mira mengangguk, turun dari ranjang pasien, wanita berniqab ini langsung masuk ke dalam kamar mandi, di bantu oleh sang suami.
"Lebih baik Mas tunggu di luar saja!" seru Mira pada lelakinya itu.
"Tidak, Ra! Aku akan masuk. Aku takut kamu kenapa-kenapa di dalam." sergah Diki.
"Sudah, dia tidak akan apa-apa di dalam sana," timpal dr. Riska pada lelaki yang sudah di anggap nya keponakan ini.
"Hem ... Baiklah." akhirnya Diki mengalah dan membiarkan Mira masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan sesuai yang di katakan dr. Riska.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Mira kembali keluar dengan membawa tespek dan menunjukkan nya pada dr. Riska. Seketika wanita yang juga memakai hijab itu tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya pada Diki.
"Selamat, Nak! Istri mu positif hamil."
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Kan ... Bertambah lagi kebahagiaan mereka. Bikin aku tambah iri tau gak....
...Aku tak tau, apa cerita ku yang sudah membosankan atau kenapa dukungan kalian semakin hari semakin menurun....
...Semangat lah buat diri ku sendiri. Kalau kalian tidak keberatan bisa berikan like, komen dan vote....
__ADS_1