
Talia memekik begitu histeris tatkala merasakan goresan pisau di kulit tubuhnya, mulai dari kecil hingga goresan besar.
"Aaakhhhhhh"
"Apa yang kamu lakukan, hah?" teriak Talita menggema di dalam ruangan tersebut.
Faris hanya menginginkan senyuman sinis "Bersenang-senang." jawab nya santai.
Faris kembali memainkan pisau di kulit mulus Talia, suami Nabil ini tidak perduli sama sekali meski Talia sudah berteriak dan menangis, dia bahkan tidak menghiraukan darah yang sudah keluar begitu banyak dari setiap goresan yang dia berikan.
"Hentikan, apa kamu sudah gila!" cemooh Talia berteriak di telinga Faris.
"Shut ... Shut ... Jangan berteriak, aku hanya bermain sedikit," ujar Faris meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.
"Awalnya aku tidak ingin terlalu banyak melukis tubuh mu dengan benda kecil ini, tapi karna kamu telah berani mengatakan istri ku wanita aneh, maka dari itu hukuman mu aku tambah. Lagian kenapa kamu berteriak seperti orang ketakutan, bukan kah mental mu sangat besar hingga berani merayu dan memfitnah diriku kepada istri ku sendiri?" tanya Faris, ujung pisau di tekan di lengan Talia, lalu.
Sreeekkkk
"Aaakhhhhhh ... Lepaskan saya, saya mohon!" jerit Talia lagi.
"Apa kamu berpikir saya membawa kamu kesini benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama mu? Heuh, perlu kamu tahu, saya tidak akan pernah mengkhianati istri saya, apa lagi dengan wanita seperti mu. Kamu tidak ada bandingannya dengan istri saya!" Faris melempar pisau kecil di tangan nya pada lantai setelah berujar demikian. Dia bangun dan berjalan untuk mencuci tangan nya yang terkena sedikit darah.
Talia masih terus menjerit dan menangis, tidak hanya tubuh nya yang terasa sakit, akan tetapi hatinya juga merasakan hal demikian, tatkala mendengar semua ucapan Faris. Rasanya lebih perih dari goresan yang berada di tubuhnya.
Dia kira Faris benar-benar menginginkan dirinya, ternyata lelaki itu hanya menjebak nya agar mau mengatakan semuanya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini? Hiks ... Hiks..." tanya Talia sambil menangis.
"Itulah hukuman untuk orang yang berani menyinggung ku atau keluarga ku." jawab Faris, tatapan nya begitu tajam dengan wajah kembali berekspresi dingin.
"Jika bukan karna istri ku melarang nya, aku akan menghabisi mu. Jadi berterimakasih lah pada istriku yang baik hati itu!" lanjut Faris lagi semakin membuat Talia sakit, karna lagi-lagi Faris membanggakan sang istri di hadapan dirinya.
Setelah mengatakan itu, Faris langsung melangkah keluar tanpa memikirkan perasaan Talia yang tengah hancur, setelah menutup pintu kembali, dia melihat sudah ada Max yang baru saja keluar dari ruangan ke dua, tempat dia mengintrogasi lelaki yang mereka sekap di tempat tersebut.
"Apa dia sudah mengatakan yang sebenarnya?" tanya Faris tanpa basa-basi.
__ADS_1
Max mengangguk "Sudah, Tuan! Mereka bertiga di suruh oleh seorang hampir paruh baya, dia tinggal di luar negri."
Faris mengerutkan keningnya "Jika dia tinggal di luar negeri, apa hubungannya dengan perusahaan saya? Dan kenapa dia bisa mengenali para karyawan saya?" tanya Faris yang merasa janggal dengan jawaban yang di sampaikan oleh Max.
"Apa dia menjawab dengan jujur, Max? Bukan karna ingin segera bebas?"
"Tidak, Tuan! Saya sudah mengancam nya. Dia mengatakan jika lelaki paruh baya itu menculik ibunya, dan juga menculik anak dari lelaki yang menjadi temannya dan juga menculik suami dari wanita yang berada di sini juga. Jika mereka tidak mau melakukan apa yang dia perintah, maka orang itu akan membunuh keluarga nya. Dan orang itu juga mengancam akan menyakiti keluarga mereka jika sampai mereka buka mulut." jelas Max sesuai informasi yang dia dapatkan. tanpa ada yang di lebih-lebih kan sedikit pun.
Faris kembali merasa bingung, pasalnya penjelasan Max sedikit tidak masuk akal.
"Apa mungkin musuh dalam dunia bisnis ku, sengaja ingin menghancurkan ku?" gumam Faris, akan tetapi masih bisa di dengar oleh Max.
"Saya rasa juga seperti itu, Tuan!" timpal Max membenarkan ucapan bos nya itu.
"Apa yang akan kita lakukan, Tuan?" tanya Max kemudian.
"Suruh komplotan mafia di negara tersebut beserta kelompok bertopeng kita menangkap orang itu, dan selamat kan anak, ibu dan suami ketiga karyawan ku. Lakukan sebaik mungkin agar mereka tidak tau dan menyakiti keluarga para karyawan ku," perintah Faris.
"Ingat, saya ingin mereka kembali dengan membawa orang itu, dan pastikan ketiga orang yang di sekap nya selamat." lanjut nya lagi.
"Hem ... Bawakan dokter, untuk mengobati luka wanita di dalam sini!"
"Baik, Tuan!" Max berlalu untuk memanggil dokter guna untuk merawat Talia yang kini dia yakin sudah hampir sama dengan ketiga orang yang selalu dia siksa.
Faris pun ikut berbalik dan melangkah menuju ruangan ke lima, saat setelah membuka pintu, Faris melihat Diki yang tengah berdiri di belakang seorang pria dengan memegang cambuk, cambuk itu terlihat tajam di ujung nya, hingga kulit yang terkena dengan cambukan tersebut langsung terluka.
Suara jeritan kesakitan mulai masuk dalam pendengaran Faris, saat lelaki bermata biru itu masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Katakan apa tujuan mu menyebarkan gosip tentang Tuan dan isterinya belum menikah?" tanya Diki. Ternyata asisten pribadinya itu juga sangat kejam saat mengintrogasi orang yang salah.
"Sa- saya hanya ti--tidak suka sama Tuan Faris." jawab lelaki itu dengan terbata-bata.
"Akhhhhhhh"
Pekik lelaki itu lagi saat Diki kembali melayangkan cambuk di punggung polos yang tidak menggunakan sehelai benang pun.
__ADS_1
"Katakan yang sebenarnya!" teriak Diki.
Faris berjalan dan duduk di kursi kebesaran nya, menyaksikan sang asisten melaksanakan tugasnya. Dia percayakan ini pada Diki, asisten nya itu memang sangat kejam untuk memberikan hukuman pada musuh.
"Sa-saya di suruh!" jawab lelaki bernama Jono pada akhirnya.
Diki ingin melayangkan satu cambuk lagi, akan tetapi Faris langsung mengehentikan dirinya.
"Cukup, Diki!" Faris bangun dan melangkah mendekati pria berjaket hitam tersebut.
"Katakan siapa yang menyuruh mu?" tanya Faris penuh penekanan, mata elangnya menatap tajam pada lelaki di hadapannya.
Jono sudah sangat gemeteran, terlebih saat melihat tatapan membunuh Faris, yang seolah sudah menggores-gores tubuhnya.
"Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu!" ulangi Faris dengan nada yang begitu tinggi.
"Sa- saya di- di suruh"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Siapa ya,, ayo siapa?
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.
__ADS_1