
...Di saat kamu telah merima dirinya menjadi pasangan hidup mu, maka kamu juga harus menerima segala yang ada pada dirinya, dari kelebihan maupun keburukan nya....
...****************...
Pasangan suami istri yang sudah terlihat lebih akur, sedang menyantap sarapan pagi mereka yang hampir menjelang siang. Akan tetapi kali ini berbeda, yang biasa nya Nabil harus memasak terlebih dahulu, kini hanya menyantap makanan yang telah di siapkan oleh para maid, tentu nya dengan arahan Faris.
Yang biasanya hanya berdiri menunggu sang suami selesai makan, kini dia sudah di suruh Faris untuk duduk di sebelah nya.
Dengan perubahan sikap Faris, justru membuat Nabil sedikit canggung. Meski belum ada kata cinta dari mulut Faris untuk dirinya, tapi dengan sikap manis yang Faris tunjukkan sudah membuat jantung Nabil bergetar.
"Hari ini aku akan ke luar kota, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tidak akan lama, besok mungkin aku sudah kembali!" ujar Faris di sela-sela menyantap sarapan mereka.
Nabil tertegun, baru sebentar dia merasakan perhatian Faris, tapi mereka sudah harus berpisah, walaupun hanya untuk beberapa saat.
Namun, Nabil paham, jika Faris pergi untuk mengurus pekerjaan, tidak mungkin dia egois, untuk tidka mengizinkan nya, terutama dia belum cukup berani untuk mencegah Faris, supaya tidak pergi. Tanpa dia tau pekerjaan seperti apa yang di lakukan suaminya itu.
"Hem ... Baik, Mas! tapi boleh tidak malam ini aku menginap di rumah Ummi dan Abi, karna malam ini, ada pengajian bersama ibuk-ibuk di Masjid!" pinta Nabil, setelah sekian lama, dia rindu mengaji bersama para ibuk-ibuk di tempat nya dulu.
Faris yang ingin memasukkan makanan kedalam mulutnya, langsung menghentikan nya.
Ada rasa takut di sudut hatinya, mengingat cara dia memperlakukan Nabil selama ini sangat lah buruk, Faris tidak ingin, jika Nabil menceritakan semuanya pada kedua mertua nya, dan berakhir mereka melarang Nabil untuk kembali lagi pada nya. Sedangkan dia masih sangat membutuhkan Nabil, karna hanya dia satu-satunya wanita yang mampu membangkitkan yang sudah lama tertidur.
"Nggak, aku tidak akan membiarkan dia meninggal kan ku. Apapun akan aku lakukan agar dia tetap bersama ku!" batin Faris, sendok di tangan nya langsung terlepas, ntah kenapa seketika makanan nya terasa hambar, di saat membayangkan Nabil akan meninggalkan nya, Faris masih belum bisa mengartikan rasanya itu, meski dia menganggap membutuhkan tubuh Nabil, akan tetapi masih ada rasa lain yang mengganjal.
"Mas, kenapa Mas diam? boleh tidak?" ulang Nabil bertanya pada suaminya.
Faris tersadar, lalu menatap pada wajah cantik Nabil "Hekhem, saya di sana tidak lama, mungkin nanti malam saya langsung akan pulang!" ucap Faris membuat alasan agar Nabil tidak jadi pulang ke rumah orang tuanya.
"Lagian saya tidak bisa mengantar mu ke sana, saya tidak mau Abi dan Ummi mengira saya tidak perduli dengan mu!" lanjut nya lagi.
Nabil terdiam, kenapa suaminya ini berfikir terlalu jauh. Dengan lembut dia mencoba membujuk Faris.
"Nanti saya bilang sama Abi dan ummi, kalau Mas lagi ke luar kota mengurus kerjaan!" tukas Nabil, berharap Faris akan menyetujui nya.
__ADS_1
Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, Faris bangkit dan berbicara sedikit kasar.
"Jangan pernah membantah ucapan saya, kamu sudah pasti lebih tau, kalau ucapan suami itu wajib di patuhi!" tukas Faris dengan begitu lantang.
Nabil ikut berdiri, dia takut Faris akan marah, dengan memberanikan diri, dia memegang lengan sang suami.
"Maafkan saya, Mas! kalau mas tidak mengizinkan nya, saya tidak akan pulang ke sana!" pinta Nabil, memang benar, seorang istri harus mematuhi ucapan sang suami, jika dia melarang untuk tidak keluar rumah, meskipun alasan kita untuk menjenguk kedua orang tua, maka kita tetap tidak boleh membantah ucapan nya.
Faris menarik nafas nya dalam-dalam, lalu menarik Nabil ke dalam pelukannya, lagi-lagi membuat jantung Nabil ingin keluar dari tempat nya, berbeda dengan Faris, dia tampak menikmati pelukan nya itu. Kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup nya, memang sedikit membuat nya trauma, apalagi saat ini Nabil memang sudah sering mengganggu pikirannya.
"Aku akan menyiapkan pakaian Mas selama di sana!" celetuk Nabil setelah Faris melepaskan pelukan nya.
Sedangkan Faris langsung menatap pada Nabil, apa istrinya itu tidak tau berapa kaya nya dia, bahkan dia tidak pernah sibuk dengan urusan pakaian, walaupun berbulan-bulan pergi ke luar negeri.
"Aku tidak perlu membawa pakaian!" ucap Faris.
Nabil melihat heran pada Faris, dia ingin menjawab, akan terjadi suara Jane menghentikan niatnya.
"Ada panggilan untuk mu, boy?" suara Jane memekik di dalam ruangan super luas itu.
Tanpa menunggu lama, layar cetak di dinding kamar nya langsung menampakkan seorang lelaki yang berdiri di dekat mobil.
Saat ingin berbicara, tatapan lelaki itu tanpa sengaja melihat pada sosok wanita yang berdiri di samping Faris. Seketika itu, penelpon yang ternyata adalah Diki langsung terpukau dengan wajah cantik Nabil.
Jika Faris menghubungkan panggilan masuk pada Jane, memang langsung bisa melihat wajah orang tersebut, begitupun sebaliknya, terkecuali Faris mengubah nya setelah itu menjadi panggilan suara.
Nabil yang menyadari seorang laki-laki tengah menatapnya, langsung menutup wajah dengan kedua tangan nya, sambil membalikkan tubuhnya, membelakangi Jane.
"Astaghfirullah ... Ya Allah! Ampunilah hamba!" pinta Nabil dengan segera.
Nabil memang tidak memakai niqab saat di dalam kamar, untung nya dia masih menggunakan khimar, hingga asisten suaminya itu hanya melihat wajahnya saja.
Sadar apa yang terjadi, Faris langsung murka, terlebih melihat tatapan Diki yang tak berkedip setelah melihat rupa istri nya. Darah nya mendidih, ingin rasanya Faris memecahkan kedua mata asisten nya itu, karna telah berani menatap milik nya.
__ADS_1
"Alihkan tatapan mu itu, bangs*t. Berani-beraninya kamu melihat milik ku seperti itu!" umpat Faris, seketika langsung membuat Diki gemetaran.
"Maaf, Tuan! saya tidak sengaja, saya menelpon karna ingin menanyakan apa kita jadi berangkat, karna saya sudah berada di depan rumah anda!" jelas Diki dengan suara yang sudah gemetar.
"Aku tidak mau tau, segera hapus wajah istri ku dari ingatan mu, atau aku yang akan melepaskan kepala dari tubuhmu!" tukas Faris memberikan ancaman mematikan, sekaligus mematikan sambungan nya.
Nabil sudah berlari masuk ke dalam Walk in closed, untuk menggunakan niqab nya, ada rasa bersalah dan sedih dalam hatinya, karna wajah yang dia jaga, hari ini orang lain bisa melihat nya.
Sedangkan Faris masih terlihat begitu marah, tangan nya terkepal kuat, sungguh dia tidak rela, saat membayangkan betapa terpesona nya Diki dengan wajah sang istri, darah nya mendidih, ingin rasanya saat ini dia melenyapkan asisten nya itu.
Beda halnya dengan Diki, dia tau bagaimana Faris, dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Tapi untuk menghapus wajah cantik bak bidadari yang baru dia lihat bukan lah hal yang mudah.
"Ya Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan, bahkan aku belum menikah, bagaimana jika dia benar-benar melenyapkan ku!".
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Jangan lupa Like, komen dan juga Vote ya kakak😊❤️.
Di kasih bunga dan kopi juga nggak nolak🤭.
Masalah up nya satu bab kadang juga dua bab, itu karna, kadang aku up dengan durasi lebih pendek.
__ADS_1
Tapi karna aku nggak biasa nulis dengan durasi pendek, jadi nya up satu bab, tapi panjang 😊😁😀.