
Karna tidak kunjung sang suami membuka matanya, Nabil memilih untuk mengaji, untuk menenangkan hatinya sekaligus berharap agar suaminya segera sadar. Sedikit lega karna merah-merah di sekujur tubuh Faris sedikit berkurang, dan badan nya pun sudah tidak terasa panas.
Sudah beberapa saat Nabil melantunkan ayat Alquran, hingga dia tersentak saat merasakan usapan jari di pipinya, Nabil langsung menoleh pada empunya, ternyata Faris sudah sadar, rasa bahagia pun tidak bisa dia tutupi, air matanya kian keluar saat dia masuk ke dalam pelukan Faris.
"Mas, Faris! Kamu sudah sadar," lirih Nabil, dia langsung menjatuhkan kepalanya di atas dada bidang Faris yang keras.
Faris tersenyum, tangan nya bergerak mengelus dengan lembut kepala sang istri, lalu memberi kecupan hangat di atas kepala Nabil.
"Kenapa tidak bilang Mas tidka bisa makan kacang ... Hiks ... Hiks ..." gumam Nabil masih dengan isakan tangis nya.
Lagi-lagi Faris tersenyum, meski masih merasa lemah dia berusaha untuk bersikap baik-baik saja, karna tidak ingin membuat sang istri merasa khawatir.
"Jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa!" ucap Faris lembut, namun Nabil dengan segera menggeleng sambil mengangkat kepalanya dari atas dada Faris.
"Ini semua salah ku, kalau saja aku tidak menyuruh Mas memakan makanan itu, Mas pasti tdiak akan seperti ini," ujarĀ Nabil panjang lebar menyalahkan dirinya sendiri.
"Sssshuttt ... Jangan salahkan dirimu sendiri, kau kan tidak tau, aku juga tidak tau akan jadi seperti ini" sergah Faris, menyangkal ucapan dan pemikiran Nabil.
"Tapi tetap saja seharusnya aku tid-"
Cup...
Mata Nabil langsung terbelalak ketika mulutnya di bungkam dengan ciuman dari sang suami.
Cukup lama Faris mencium bibir sang istri, hingga dia menarik Nabil untuk berbaring di atas tubuh nya. Sedangkan Nabil langsung melepaskan ciumannya, dia ingin beranjak dari atas Faris karena takut akan membuat suaminya kesakitan, akan tetapi Faris langsung menahannya.
"Mas pasti lelah karna baru sadar, tidurlah lagi Mas, biar merah nya segera mereda," ucap Nabil dengan suara begitu pelan, jarak mereka hanya beberapa senti, bahkan nafas keduanya saling menyapu kulit wajah masing-masing.
"Aku mau kamu." jawab Faris dengan suara yang sudah parau menahan hasrat, pandangan matanya sudah sangat sayu, membuat Nabil tidak tega untuk menolaknya.
Akhirnya mereka pun kembali mengulangi seperti yang mereka lakukan di kantor Faris, menyatukan dua hati yang sama-sama mencintai, memadu kasih, juga saling menghangatkan.
...****************...
"Terimakasih, sayang!" ucap Faris setelah mereka sama-sama sampai kepuncak ken*kmatan.
Nafas keduanya masih memburu, Faris memeluk erat tubuh polos Nabil, begitu pun Nabil yang tidak melepaskan tangan nya di pinggang sang suami.
"Melayani Mas adalah kewajiban ku," balas Nabil, senyuman tidak pernah kendur dari bibir nya.
"Sekarang katakan, makanan apalagi yang membuat mu alergi? Biar aku tidak salah lagi saat memilih makanan untuk mu, ataupun saat aku memasak!" tanya Nabil dengan begitu serius, tangan nya dia gunakan untuk membuat bulat-bulat di dada Faris, seperti yang sering dia lakukan.
"Alergi ku jika tidak ada kamu di sisi ku," jawab Faris sambil menaik turunkan alisnya.
Plak...
Nabil langsung memukul lengan sang suami "Gombal! Aku serius ini." imbuh Nabil lagi merasa kesal karna suaminya ini malah bercanda.
__ADS_1
Faris hanya terkekeh, semakin memeluk Nabil dengan sangat erat, dia pun menjawab "Tidak banyak, aku hanya tidak bisa makan kerang dan udang,"
"Semua jenis seafood?" potong Nabil.
Faris menggeleng "Hanya udang dan juga kerang." jawabannya lagi.
"Hem ... Selain itu?" tanya Nabil lagi, dia merasa Faris belum habis menyebutkan nya.
"Selain itu ... Sebenarnya ini tidak terlalu penting, karna aku juga tidak terlalu suka," jawab Faris ambigu.
"Apa?"
"Coklat!"
"Hanya itu?"
"Iya, sayang! Hanya itu."
Keduanya sama-sama tersenyum saat tatapan mereka kembali bertemu, Nabil dengan lembut menyentuh merah-merah seperti cakaran di lengan sang suami.
"Ini, apa rasanya perih?" tanya Nabil sambil menatap wajah tampan Faris.
"Aw...." pekik Faris, sontak membuat Nabil melepaskan tangan nya.
"Astaghfirullah, sakit ya Mas?" Nabil begitu panik, apalagi melihat mimik wajah Faris seperti menahan sakit. Tapi sepersekian detik, dia melihat suaminya tersenyum, kemudian tertawa lebar.
Nabil mengerutkan keningnya, dia baru sadar jika Faris mengerjai dirinya, tanpa sadar dia pun memukul dada Faris dengan sedikit keras.
"Ih ... Mas, jahat! Orang serius malah di kerjain. Gimana tidak khawatir kamu kan suami ku!" ucap Nabil dengan wajah cemberut sambil menggeserkan tubuhnya sedikit menjauh dari Faris, merasa kesal karna Faris malah mengerjai dirinya.
Tapi dengan cepat Faris menarik Nabil kembali masuk dalam dekapan nya, sebisa mungkin dia mencoba menahan tawanya.
"Tidak akan aku biarkan kamu menjauh dari sisiku walaupun sebentar, sayang!" celetuk Faris, dengan gerakan cepat dia ******* kembali bibir Nabil yang sudah membuat nya candu.
Cup...
Ciuman terakhir Faris berikan di dahi Nabil dengan waktu yang cukup lama.
"Tidurlah, My queen! I will take care of you"
Nabil mengangguk, kemudian dia langsung memejamkan matanya perlahan masuk ke alam mimpi.
...****************...
Dua hari sudah berlalu, dan hari ini pun tepat di hari Faris akan pergi ke luar kota karna pekerjaan nya. Dia baru beraktivitas setelah penyakit alergi nya kambuh, meski sudah tidak sakit, akan tetapi merah di tubuh nya tidak langsung menghilang.
Dan selama dua hari pula Nabil dengan begitu sabar merawat dan menemani sang suami, begitu pun di saat Faris bersikap manja bersikap seolah anak berumur lima tahun.
__ADS_1
"Mas, kamu beneran tidak apa-apa?" tanya Nabil saat memakaikan dasi untuk sang suami.
"Aku sungguh tidak apa-apa, sayang! Kamu tidak perlu khawatir!" jawab Faris, tangan nya melingkar erat di pinggang sang istri.
Selesai memakaikan pakaian Faris, keduanya juga sudah menghabiskan sarapan yang bi Mila antar ke dalam kamar mereka, keduanya pun melangkah keluar.
Tiba di depan pintu utama, Nabil melihat ke sana kemari, karna dia belum melihat keberadaan Diki di sana.
"Tumben kak Diki belum sampai," tukas Nabil bingung, biasanya Diki sudah berdiri tepat di depan pintu, dan sudah tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuk Tuan nya..
"Mungkin dia lagi berada di jalan, sayang!" Nabil memicing mata, biasanya Faris akan sangat marah jika Diki terlambat walau hanya sedetik, tapi kenapa dia bersikap biasa saja. Tapi Nabil tidak ingin menanyakan nya, takut membuat Faris benar-benar akan memarahi Diki.
"Tapi nanti Mas akan ketinggalan pesawat," tukas Nabil dengan polosnya.
Faris langsung menoleh pada Nabil "Sayang, apa kamu tidak tau berapa banyak kekayaan ku, bahkan aku bisa membeli puluhan jet pribadi?" celetuk Faris dengan begitu sombong.
"Jadi kamu tidak usah khawatir jika kau akan tertinggal pesawat." lanjut Faris lagi.
Nabil hanya memutar bola mata jengah, suami nya selalu sombong memamerkan kekayaannya.
"Aku kan tidak tau," timpal Nabil tidak berminat.
Faris menarik pinggang Nabil dalam pelukannya, kemudian dia mengelus perut sang istri.
"Sayang, cepat keluar dari sana ya, biar kita sama-sama bisa pergi ke tempat yang di inginkan Ummi!" Hati Nabil menghangat mendengar ucapan sang suami, senyuman pun langsung mengembang dari bibir bervolume nya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah melihat sebuah mobil sport masuk dalam pekarangan rumah Bagaskara, kemudian berhenti tepat di hadapan keduanya.
Diki keluar, setelah memberi hormat pada Faris, dia membukakan pintu belakang, Nabil langsung membulat kan mata setelah melihat orang yang baru turun dari mobil yang Diki bawa.
"Ka-kamu!"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Hem ... Kira-kira siapa yah yang datang? Ada yang bisa nebak nggak?
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya ya kak.