
...Semua orang ingin bahagia, tergantung kita saja ingin melalui jalan yang mana, yang baik ataupun yang buruk....
...Mensyukuri apa yang sudah kita miliki dan tidak berputus asa atas apa yang belum kita raih, adalah kunci kebahagiaan yang sesungguhnya....
...****************...
Siang hari, karna pekerjaan nya sudah sedikit ringan, Faris mengajak Diki untuk pergi ke bar tempat biasanya dia dan ke tiga sahabat nya berkumpul.
Mereka sudah duduk di dalam ruangan VIP yang memang selalu tempati, ke empat pemuda itu terus memperhatikan Rangga yang terus saja senyum-senyum sendiri.
"Heh, loe kenapa sih, dari tadi senyam senyum sendiri!" tanya Hendri yang duduk di sebelah Rangga.
"Iya Ga, loe kenapa?" timpal Putra.
"Kalian tau tidak, gw lagi bahagia!" jawab Rangga dengan tersenyum.
"Bahagia kenapa?" tanya Diki yang merasa penasaran.
"Gw baru saja bertemu dengan pujaan hati gw, wanita yang selama ini ge cari!" ujar Rangga lagi membuat ke tiga sahabat nya saling menatap.
Faris hanya diam, dia tidak begitu tertarik dengan apa yang di katakan Rangga, dia hanya terus meminum wine yang berada di dalam gelas di depannya.
"Jadi loe punya incaran juga, apa dia mangsa selanjutnya?" tanya Putra dengan nada mengejek.
"Jaga ucapan mu Put, dia bukan wanita biasa, dia adalah wanita yang sangat terjaga kehormatan nya, jadi jangan ucapkan seperti itu lagi dengan mulut kotor mu itu!" tukas Rangga merasa marah saat mendengar perkataan Putra.
"Weh... santai broe, sensi amat sih. Sadar bro kita nggak ada bedanya, selama ini hanya membutuhkan wanita saat di ranjang, gw kira loe tidak tau cara mencintai!" imbun Putra lagi.
"Ini beda... gw begini juga karna dulu dia nolak gw dan menghilang sudah bertahun-tahun, tapi kini gw kembali bertemu dengan nya, gw tidak akan melakukan hal itu lagi!" ucap Rangga dengan begitu yakin.
Hendri dan Putra saling melirik, mendengar ucapan Rangga seperti itu mereka menganggap seperti angin lewat.
"Loe gimana Ris, apa loe sudah bisa mendapatkan nya!" tanya Rangga begitu bersemangat kepada Faris.
Seperti yang kita tau, jika di antara mereka, Rangga lah yang sangat mendukung kesepakatan taruhan konyol ini.
Faris menggeleng, kemudian pria bermata tajam ini meletakkan gelas yang berisi wine dari tangan nya di atas meja.
__ADS_1
"Untuk saat ini aku masih mencari tau tentang keberadaan nya, dia tidak mudah untuk di temukan!" jawab Faris.
"Apa kamu akan mengaku kalah dalam taruhan ini?" tanya Hendri, Faris langsung menatap nya dengan tajam.
"Akan ku buktikan dalam satu Minggu, wanita aneh itu akan aku nikahi!" ujar Faris dengan di akhir kalimat.
Ke empat orang tersebut langsung tersentak mendengar penuturan yang baru saja keluar dari mulut Faris.
Mereka tau jika Faris tidak pernah bermain-main dengan ucapan nya, apa yang telah menjadi misi dan keinginan nya pasti akan di dapatkan oleh nya.
"Aku percaya pada mu!" selalu itu yang keluar dari mulut Rangga, dia tidak tau wanita yang sedang di pertaruhkan itu adalah wanita yang sangat dia cintai.
Rangga tidak jelas mendengar nama saat Diki menyebut nama Nabil ketika mengatakan identitas Nabil kepada Faris.
Diki diam, dia sedang memikirkan mengapa bos dan sahabat bos nya itu sama-sama mengincar wanita yang baik, padahal mereka adalah orang-orang yang selalu terjerat dalam perbuatan keji, bedanya Faris tidak pernah mencoblos ke dalam goa wanita, itupun karna burung nya tidak berdaya, sedangkan Rangga hampir tiap malam menyewa jasa wanita untuk memuaskan hasrat nya.
Tapi Faris juga salah, karna dia berniat menjadikan wanita itu sebuah taruhan. Diki hanya menggeleng kepala mengingat nasib dua wanita yang menjadi incaran Faris dan Rangga.
...****************...
"Diki, cepat selidiki wanita aneh itu, aku mau dalam waktu satu jam, aku sudah menerima semua datanya!" ujar Faris begitu tegas tanpa mau di bantah.
"Baik Tuan!" jawab Diki sambil membungkukkan sedikit badan nya.
Faris berlalu masuk ke dalam rumah, sedangkan Diki masuk ke dalam mobil, diapun langsung menghubungi anak buah Faris melalui tablet bening seperti kaca yang terpasang di dalam mobil.
"Cari tau tentang wanita bernama Zaiyan Nabila, aku akan mengirimkan alamat nya, satu jam lagi semua data sudah harus lengkap di tangan Tuan Faris!" ucap Diki juga dengan nada perintah yang begitu tegas saat panggilan nya tersambung.
...****************...
Tepat satu jam, Faris yang sedang duduk bersantai di atas balkon kamar nya, di temani oleh beberapa cemilan dan buah segar di sebelah nya, Faris mengalihkan pandangannya saat mendengar Jane bersuara.
"Ada pesan untuk mu boy!"
"Katakan!" ucap Faris menjawab perkataan Jane.
"Wanita itu kini berada di rumah orang tuanya, karna ibunya sakit, dia pulang untuk mengurus ibunya, dia wanita yang tertutup, tidak suka bergaul dengan orang asing!" jelas Jane.
__ADS_1
"Hanya itu saja?" tanya Faris lagi.
"Iya boy...!"
"Baik, sekarang hubungi Diki Jane!"
"Baik Boy...!"
Dengan sendirinya nomor Diki langsung muncul dan terhubung.
"Iya Tuan!" ucap Diki saat panggilan nya terhubung.
"Jane, kecilnya volume nya sedikit lagi!" celetuk Faris sebelum menjawab ucapan Diki.
"Baik Boy!" dengan sendirinya suara Diki menjadi lebih kecil.
"Diki, belikan aku rumah dekat dengan wanita itu, aku tidak mau tau pokok nya besok aku sudah menempati rumah itu!" perintah Faris tanpa berbasa-basi.
"Tapi...!"
"Power off"
"Bagus Jane!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1