Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Tertembak.


__ADS_3

Suara tembakan begitu menggelegar di dalam ruangan kumuh yang tak terawat itu, satu persatu orang yang menodongkan senjata pada Nabil perlahan jatuh pada lantai dengan bersimbah darah.


Mereka tak bisa mengelak atau melepaskan peluru pada Nabil, karna tembakan beruntun yang memang di arahkan setia penjaga tersebut.


Rangga, Talia dan Faris langsung mengalihkan pandangan pada setiap penembak, dari belakang, arah samping kiri dan juga kanan.


Faris tersenyum karna melihat yang datang adalah pasukan nya. Diki, Max, Renald dan seluruh pasukan nya sudah mengepung di gedung tersebut.


Sementara Nabil sudah terdiam, tembakan dan darah yang dia saksikan langsung di depan matanya, membuat nya shock, tubuhnya gemeteran, rasanya dia tak sanggup lagi melihat apa yang terjadi saat ini.


Akan tetapi, wanita hamil itu tidak ingin lemah, sekuat tenaga dia berusaha keras agar kuat, ada suami dan anak dalam kandungan nya yang harus dia lihat, meski keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh nya, tetap saja Nabil tidak ingin tumbang.


Faris berusaha bangkit, saat anak buahnya mulai mendekati Rangga dan Talia yang sudah terlihat kalang kabut. Faris berjalan mendekati sang istri yang terlihat begitu shock.


Langkah nya yang gontai karna tubuh yang sudah sangat lemah akibat pukulan bertubi-tubi yang di berikan Rangga, meski dalam keadaan seperti itu, Faris masih tetap tersenyum untuk menenangkan sang istri.


"Mas...!" panggil Nabil lirih.


"Sayan--"


Dor...


"Akhhh...!"


Dor...


Dor...


Seketika waktu berhenti, tubuh yang lemah semakin tak bertenaga, nafas terasa habis, suara tercekat, tak mampu berkata lagi, Faris mematung, tatapan tak percaya dia berikan pada tubuh sang istri yang sudah mengeluarkan darah, seiring air matanya yang memaksa mengalir.


"Nabila..." teriak Faris seraya melangkahkan kakinya memeluk tubuh Nabil yang tertembak di atas dadanya.


"Sayang, kamu harus kuat! Aku akan membawamu dari sini!" gumam Faris seraya memeluk mencium seluruh wajah Nabil.


"Ma--s a--ku men--cintai--mu, selama--t kh--an anak ki--ta!" sekuat tenaga Nabil berusaha untuk membuka matanya, akan tetapi itu tak dapat dia lakukan lagi, saat kesadaran mulai menghilang.


"Tidak sayang, kalian harus selamat, jangan tinggalkan aku!" pinta Faris, dia langsung mencoba membuat gembok rantai yang mengikat istri nya itu, di bantu oleh anak buah nya.


Tanpa menunggu lama, Faris langsung membawa tubuh sang istri keluar dari dalam gedung terkut*k itu. Sebelum itu dia telah mengikat bajunya di bagian dada Nabil agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.


Deraian air mata berirama dengan langkah yang dia ayunkan, melihat istri yang terkulai lemah di gendongan nya.

__ADS_1


Sementara di dalam, anak buah Renald tengah mengurus tubuh tak bernyawa, Talia.


Talia yang merasa tidak rela jika Nabil dan Faris selamat, langsung mengambil pistol Faris yang terjatuh di lantai.


Tanpa memikirkan apapun lagi, dia langsung menembak ke arah Nabil, tujuan nya menembak pada perut Nabil, akan tetapi karna dia tidak memilih keahlian dalam menembak, hingga sasaran nya meleset di bagian atas dada.


Melihat pujaan hatinya tertembak, Rangga juga langsung menembak Talia tepat di jantung wanita itu, hingga membuat Talia langsung kehilangan nyawanya.


Sementara Diki yang melihat itu, juga langsung menembak tangan Rangga, hingga pistol itu terjatuh.


Kini Rangga hanya terduduk sambil menunduk, dia tak merasakan sakit tertembak di tangan nya, karna yang dia pikirkan saat ini adalah Nabil.


Niatnya mencelakai Nabil semua hanya ancaman agar Faris menyetujui semua yang dia katakan. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi seperti ini.


"Maafkan aku, Zayyan!" gumam nya lirih. Rasa bersalah yang begitu besar dalam dirinya. Dengan bodohnya dia menyetujui ajakan kerja sama Talia yang sengaja menemui dirinya di luar kota.


Max langsung membawa Rangga keluar, mereka bahkan sampai menyeret lelaki yang dulu nya sahabat baik Faris.


"Aku sungguh tak menyangka, Rangga! Kamu tega melakukan ini pada, Faris! Apa selama ini Faria kurang baik padamu, hah!" bentak Diki bertanya, tangannya meremas kuat kerah baju Rangga, ingin dia menembak kepala Rangga saat ini, mengingat apa yang telah dia lakukan pada keluarga Faris.


"Kita bawa saja dia ke markas, Diki! Biarlah Faris yang menentukan tentang hidupnya!" sergah Renald menahan amarah asisten kepercayaan Faris.


Diki mengangguk, kemudian dia langsung berlari mengejar Faris, yang hampir sampai pada mobil.


Faris meletakkan sang istri di atas brankar tersebut dan dia juga ikut naik dalam satu mobil dengan sang istri.


Mobil melaju, para dokter pun langsung melakukan tindakan nya, segala jenis alat sudah tersedia di dalam mobil tersebut, sebagian mereka langsung berusaha mengeluarkan peluru, yang tidak terlalu dalam dalam tubuh Nabil.


Setelah berhasil mengeluarkan peluru, mereka tidak langsung menjahit, karna sedikit sulit bekerja di dalam mobil. Mereka hanya mencegah agar darah tidak lagi keluar.


Mereka diam tak bersuara sepatah katapun, tidak ada yang berani bertanya saat melihat raut wajah Faris yang begitu dingin, datar, dengan sorot mata tajam, terlihat begitu mengerikan.


Begitupun, Faris, dia tidak ingin mengatakan apapun, tangannya tak pernah melepaskan tangan, Nabil. Tatapan nya juga tak pernah berpaling dari wajah pucat sang istri.


Dia hanya berbisik dalam hati, bergumam dalam diam, dan berdoa dengan penuh harapan.


"Ya Allah ... Lindungilah anak dan istri ku, aku sungguh belum siap jika harus melepaskan mereka secepat ini. Baru rasanya aku merasakan kehangatan memiliki keluarga lengkap, jangan engkau ambil dulu ya Allah, orang yang aku cintai!" lirih Faris dalam hati. Dia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan sang istri, di saat dia mulai bisa melupakan keterpurukan nya di masa lalu.


"Ma ... Pa ... Doakan menantu dan cucu kalian agar selamat, agar Faris tak kesepian lagi di sini!"


"Bisa bawa mobilnya lebih cepat lagi, kandungan nya mulai melemah!"

__ADS_1


Deg...


Lamunan Faris terbuyar dengan tamparan hati yang terasa menyakitkan, saat mendengar ucapan dokter tentang anak-anak nya.


Tim medis yang di bayar Faris bukan sembarang, mereka semua dokter yang profesional dan juga semua lulusan luar negeri.


"Beritahu pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi dan darah dengan golongan darah A!" seru dokter ahli bedah.


"Sayang, kamu pasti kuat, demi anak-anak kita!" ucap Faris berbisik di telinga sang istri.


Dia juga mencium perut Nabil yang sudah sangat membesar "Anak-anak Abi juga pasti kuat, kalian harus lahir ke dunia ini, biar Abi dan Ummi tidak kesepian lagi!" gumam Faris, dengan air mata terus menetes di atas perut Nabil.


Para dokter dan rekan lainnya yang berada dalam mobil tersebut juga ikut meneteskan air mata, yang mereka lihat bukan betapa lemah dan rapuhnya Faris, akan tetapi mereka kagum dan tersentuh dengan rasa cinta Faris terhadap sang istri.


Seorang pria dingin yang terkenal kejam yang mereka kenali, kini menjadi pria yang sangat takut akan kehilangan cintanya.


"Tuan, sebaiknya luka anda juga harus kita obati!" tawar dokter itu saat melihat wajah Faris lebam, dan darah yang sudah kering di sudut bibirnya dan pelipisnya.


"Tidak perlu, utama kan kesehatan istriku dulu!"


...****************...


Mobil yang membawa mereka sampai di rumah sakit, mereka langsung bergegas mengeluarkan Nabil dan membawanya masuk ke dalam.


Mereka mendorong ranjang pasien itu dengan sangat buru-buru, Faris sudah tak menghiraukan lagi semua tatapan terutuju padanya, mungkin karna wajah yang terlihat mengerikan, terlebih dia hanya memakai anti peluru dan kaos hitam di dalamnya. Yang dia pikirkan saat ini adalah keselamatan istri dan juga anak nya.


"Kami akan bawa nona ke dalam, tuan tunggu di sini saja!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


...Hua ... Selamat kan si kembar ya dokter, aku tak sanggup membayangkan betapa sedihnya Faris jika dia kehilangan mereka....

__ADS_1


...Jangan lupa Like komen dan juga Vote....


__ADS_2