Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Ikhlas kan.


__ADS_3

Mobil berjalan, melewati pepohonan rindang juga bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, berjejer rapi di sepanjang jalan. Roda mobil yang terus berputar, seirama dengan pikiran seseorang yang terus berputar mencari jawaban.


Faris sedari tadi hanya diam, dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri.


POV Faris.


Mengapa aku jadi seperti ini, kenapa aku merasa sangat marah saat ada lelaki lain yang menatap wajah dia, mengapa aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi.


Apa karna wajah nya terlalu cantik, hingga aku tidak rela berbagi dengan siapapun walaupun hanya sekedar berbagi pandang. Tapi apa peduli ku, mengapa wajah nya terasa berharga dan aku juga ingin menjaga nya, ini sangat berbanding terbalik dengan ekspektasi ku, dulu ku kira akan memperlihatkan wajahnya yang jelek kepada semua orang, tapi yang terjadi sekarang ini, bahkan aku tidak ingin ada seorang pun yang menatap kecantikan nya.


Mungkin ini alasan nya menggunakan kain itu, agar tidak seorang pun bisa melihat nya. Jika memang iya, maka aku juga akan menjaganya, tidak boleh ada yang menikmati pemandangan indah dari wajah nya selain aku.


Apa dia memang seorang wanita yang sangat baik, apa selama ini aku yang terlalu jahat, jelas-jelas tadi aku yang salah karna kecerobohan ku, yang langsung menerima panggilan masuk, tanpa tau keadaan nya yang tidak menggunakan penutup bwajah, tapi kenapa dia yang malah meminta maaf.


"Maafkan aku, Mas! karna telah lalai menjaga diri ku sendiri, hingga orang lain bisa melihat wajah ku ini!" ucap Nabil, yang sudah berdiri di depan Faris, memohon maaf kepada suaminya.


Bukan nya marah, Faris malah tertegun, sebegitu nya kah Nabil menghormati dirinya. Tanpa pikir panjang dia langsung membawa Nabil dalam pelukannya, pelukan yang begitu dia nikmati hingga dapat dia rasakan sampai saat ini. Tanpa sadar Faris memejamkan mata, membayangkan saat bersama dengan istri nya, perasaan menghangat masuk ke dalam relung hati, rasanya ingin dia kembali ke rumah dan mengurung Nabil di bawah nya.


Tapi dalam seketika, dia tersadar dan membuka matanya kembali "Hais apa yang aku pikirkan, aku benar-benar sudah tidak waras!" batin Faris, mengutuki kebodohan nya sendiri.


Beda hal dengan Diki, dia masih menciut pasal hal yang baru saja terjadi, tubuh nya kembali gemeteran saat membayangkan Faris yang menghampiri nya dengan muka merah paham, dan kedua tangan nya terkepal, sudah sangat siap di layangkan pada wajah nya.


Namun, nasib masih berpihak pada nya, hingga Nabil datang mencegah Faris agar tidak memukuli dirinya, masih bisa dia bayangkan bagaimana Faris patuh pada permintaan Nabil.


"Mas ,apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nabil kepada sang suami yang menghampiri Diki dengan wajah bengis.


"Aku akan memberikan pelajaran pada nya karna telah berani melihat wajah mu!" jawab Faris lantang.


Diki sudah sangat ketakutan, Nabil yang tidak menyangka dengan apa yang Faris katakan, langsung terbelalak, ini bukan sepenuhnya kesalahan Diki, kenapa lelaki malang itu yang harus menerima hukuman nya.


"Mas, lebih baik hal seperti ini jangan di besar-besarkan, aku merasa malu, kalian kan juga harus berangkat sekarang!" ucap Nabil menahan lengan sang suami.


Faris berbalik, menatap pada istrinya yang sedang menggeleng kepalanya "Jangan membuat aku semakin merasa bersalah!" lanjut nya lagi, membuat Faris mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kali ini aku akan memaafkan kamu, karna permintaan istri ku, lain kali aku tidak akan pernah mendengar apapun lagi, jika kau!" ucap nya dengan tatapan tajam, sambil menunjuk pada Diki.


"Tidak akan pernah bisa melihat dunia ini lagi!" sambung nya lagi, membuat bulu di sekujur tubuh Diki mengerang.


Dilihatnya Faris melalui kaca depan di dalam mobil, dia tampak memikirkan sesuatu, bisa di lihat dari keningnya yang berkerut.


Diki yang sedang mengendarai mobil pun ikut berpikir, mengapa Faris bisa semarah itu, bukan kah dia tidak sengaja.


Hingga suara Faris mengatakan Nabil dengan sebutan "Istrinya" membuat nya paham, jika Faris telah mencintai Nabil, walaupun belum ada pernyataan dari mulut bos nya itu. Dan kenyataan itupun membuat hatinya sedikit nyeri, baru kemaren Faris mengatakan jika dia akan menyerahkan Nabil pada dirinya, tapi hari ini, bosnya itu terlihat begitu menyayangi istrinya itu. Terlebih di saat Faris dengan begitu lembut mencium kening Nabil, ketika mereka akan berangkat.


"Ada apa dengan ku, mengapa hatiku berharap pada kata-kata nya dulu jika dia akan melepaskan nona Nabil. Ingat Diki, dia hanya milik tuan mu!" batin Diki, matanya lagi-lagi melihat Faris di belakang, meski ada rasa aneh di hatinya, tapi Diki cukup senang jika Faris sudah membuka hati untuk Nabil. Berarti Faris tidak akan menyakiti Nabil lagi, terlebih karna dia yakin, Nabil lah yang akan mengubah kehidupan Faris.


"Apa kamu sudah puas menatap wajah ku, Diki?" suara dingin itu kembali mengagetkan Diki.


"Ti-tidak tuan!" jawab Diki dengan cepat.


"Maksud saya, saya minta maaf Tuan!" imbuh nya lagi.


Setelah itu mereka hanya diam, Diki kembali fokus mengendarai mobilnya, hingga mereka sampai pada bandara. Mereka tentunya akan terbang menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Bagaskara.


Sedangkan Nabil di rumah, sudah merasa bosan. Dia sudah dua kali mengaji, membaca sholawat hingga saat ini dia sedang memeriksa tugas kampus nya.


Tapi rasa rindu untuk kedua orangtuanya begitu terasa menyiksa, akhirnya Nabil memutuskan untuk menghubungi Abi dan Ummi nya, dengan ponsel yang di berikan Faris.


Sebelum berangkat Faris memang meninggalkan ponsel dan satu kartu black card tanpa batas untuk dirinya, karna selama ini Nabil memang tidak menggunakan ponsel.


Dengan penuh semangat Nabil mengetik nomor kontak sang abi yang ada pada buku yang dia simpan memang sejak dia mondok dulu, tanpa menunggu lama, dia langsung menghubungi orang yang sangat dia rindukan itu.


"Assalamualaikum!" ucap abi nya di seberang setelah panggilan nya terhubung. Nabil tampak begitu bahagia, karna bisa mendengar suara sang abi yang sangat dia sayangi.


"Waalaikumsalam, Abi! ini Nabil, Bi!" ucap Nabil dengan penuh semangat.


"Nabil, ini kamu nak? Ya Allah Alhamdulillah, akhirnya Abi bisa mendengar suara mu Nak, kenapa baru sekarang menghubungi kami, apa kamu sudah lupa dengan orang tua mu yang sudah tua ini?" cerocos Abi bertanya, tanpa memberi jeda.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Abi! tapi Nabil sudah kembali masuk kuliah, jadi kadang tidak sempat, maaf kan Nabil Bi!" jawab Nabil memberikan alasan.


Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya jika Faris selama ini karna dia tidak mempunyai ponsel, yang ada abi nya akan menganggap Faris pelit.


"Hem ... Sudah, yang penting kamu sehat dan bahagia di sana, suami kamu mana? dia memperlakukan kamu dengan baik kan di sana, Nak?" tanya sang abi lagi.


"Mas Faris keluar sebentar, Bi! dia baik, sangat baik! Abi nggak usah khawatir, dia sangat menyayangi Nabil!" Bohong Nabil, tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin dia menjelekkan suaminya pada abi dan ummi nya, karna itu akan di kira membuka aib sang suami.


"Syukur lah kalau memang begitu!" timpal abi Zainal, mungkin dia merasa tenang jika putrinya itu hidup bahagia.


"Ummi mana, Bi?" tanya Nabil yang belum mendengar suara wanita yang begitu dia rindui itu.


"Ada, dia lagi di dapur. Tunggu, Abi panggilkan dulu!" jawab lelaki paruh baya itu.


Selanjutnya Nabil mendengar sang abi memanggil istrinya "Ummi, kesini sebentar, putri kita menelpon!" suara abi Zainal sedikit berteriak, mungkin supaya ummi Fatimah dapat mendengar nya.


"Iya, Bi, tunggu sebentar!" sahut ummi yang tergesa-gesa mendekati pada sang suami.


Setelah sampai pun, ummi langsung mengambil ponsel pada sang suami, untuk berbicara dengan putri tunggal mereka, menanyakan persis seperti yang suaminya tanya barusan.


Mereka mengobrol cukup lama, sampai ummi bertanya kapan Nabil dan suaminya akan pulang ke rumah, dan Nabil hanya mengatakan kalau mereka akan menginap di sana saat punya waktu luang, mau mengatakan apa lagi, karna itu semua menjadi keputusan Faris, bukan dirinya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2