
Nabil menarik nafas lega setelah membujuk Faris agar tidak pulang hanya untuk menemui dirinya, Nabil ingin Faris menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, meski dia juga sangat merindukan sang suami, akan tetapi bukan alasan nya bisa bertindak egois.
Nabil mengulas senyuman saat membayangkan mimik wajah suami yang kekeh ingin minta pulang, terlihat bagaikan anak yang ingin di antar pulang ketika menginap di rumah kerabat nya.
Merasa dirinya sudah lebih baik, Nabil langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dia ingin pergi ke rumah sakit hari ini, sebenarnya Nabil malas, akan tetapi ancaman Faris yang mengatakan akan pulang jika Nabil tidak menurut, membuat nya terpaksa harus menyetujui nya.
Faris mengatakan merasa khawatir dengan keadaan Nabil pagi ini, maka dari itu dia menyuruh nya untuk menemui Tante Riska dan memeriksa kandungan nya, meski tiga hari lalu mereka baru melakukan check up yang di temenin langsung oleh Faris.
...****************...
Sedangkan Mira yang berbeda di kamar sebelah Nabil, tengah memakai khimar milik nya, dia yang sudah selesai mandi ingin keluar untuk menyiapkan sarapan, dia merasa tidak enak jika tidak membantu memasak saat di rumah orang.
Tapi baru selesai dia memakai niqab, ponselnya sudah berbunyi nyaring. Mira sedikit mengerutkan keningnya, saat melihat nomor tidak di kenal yang menjadi penelpon.
Mira tidak langsung mengangkat, dia membiarkan nya, karna takut hanya orang iseng yang ingin mengganggu dirinya saja.
Tapi ponselnya kembali berbunyi untuk yang ke dua kalinya, dia melihat penelpon adalah nomor yang sama.
Mira menghela nafas panjang, lalu menggeser tombol hijau bulat ke atas.
"Dimana kau, kenapa membiarkan Nona Nabil seorang diri yang sedang sakit! Teman macam apa kamu ini!" belum sempat membuka mulutnya, Mira sudah di serang dengan pertanyaan yang tidak dia mengerti.
Untuk sesaat, Mira menjauhkan ponsel dari telinga nya, melihat foto yang ada di atas nomor tersebut, dan dia langsung terbelalak setelah tau jika yang menelpon dirinya adalah pria yang sering dia sebut kaku dan nyebelin.
"Apa kau tidak tau caranya memberi salam?" tanya Mira dengan nada sinis setelah menempelkan kembali benda pipih di telinga nya.
"Aku tidak sempat, karna buru-buru," jawab orang yang tak lain adalah Diki.
"Dih, ketus sekali orang ini, bukan kah dia yang mengubungi ku!" batin Mira meronta, ingin rasanya dia mencabai mulut lelaki dingin itu.
"Dengar, Tuan! Saya juga tidak punya waktu untuk mendengarkan omelan anda yang tidak jelas itu," protes Mira karna Diki langsung marah-marah setelah dia mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Apa anda tidak bisa bicara baik-baik?" sambung Mira lagi.
__ADS_1
"Kenapa harus dengan marah-marah dan ketus." lanjutnya lagi dalam hati.
"Mengharapkan sikap saya lembut dengan mu? Tapi saya kamu tidak bisa di perlakukan secara lembut, karna tanpa salah pun kamu marah-marah tanpa jelas dengan saya," sindir Diki, dia masih mengingat saat mereka bertemu di mansion Mira, wanita itu terus saja marah-marah seolah mempunyai dendam dengan dirinya.
Merasa tersindir dengan ucapan, Diki. Mira langsung mematikan telepon nya setelah memberikan salam.
"Dasar lelaki aneh, kaku, dingin, tambah nyebelin lagi, bisa-bisa nya dia marah-marah tanpa sebab seperti itu!" gerutu Mira menahan kesal atas sikap Diki yang menurutnya sangat tidak sopan.
"Tapi dia bilang jika aku tidak perduli dengan keadaan Nabil yang sedang sakit, apa yang terjadi dengan nya?" tanya Mira pada dirinya sendiri.
"Lebih baik aku lihat sendiri." Mira memutuskan untuk keluar kamar dan mendekati pintu kamar yang masih tertutup itu.
Setelah dia mengetuk pintu dan terdengar sahutan yang menyuruh dirinya masuk, Mira perlahan mendorong daun pintu kamar Nabil, dan kedatangan nya langsung di kejutkan dengan suara Jane yang otomatis berbunyi saat orang asing masuk.
"Stop!"
"Aaaaaaa!" Mira langsung memekik dan refleks membalikan badannya menghadap pada Jane.
"Jane, cukup!" perintah Nabil pada mesin canggih di kamarnya.
"Baik istri, boy..." seketika Jane langsung diam.
Mira menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
"Aku baru tau jika mesin bisa mengetahui karakter manusia," imbuh Mira mendekati Nabil, meski merasa sangat terkejut, akan tetapi sedikit paham, jika suami sahabat nya itu memiliki perusahaan elektronik yang sangat terkenal.
"Bahkan aku masih sering bingung dengan nya, terkadang dia seperti manusia sungguhan yang bisa kita ajak bicara, walaupun jawaban nya hanya singkat dan seadanya," jawab Nabil sedang menautkan kancing baju yang sampai pada kakinya.
"Oh ya, bagaimana keadaan kamu, bukan nya tadi kamu sakit?" ucap Nabil mencoba bertanya tentang apa yang Diki katakan tadi.
"Tadi hanya mual dan lemas, tapi setelah melihat Mas Faris, rasa itu hilang begitu saja. Apa kak Diki yang memberitahu mu?" tanya Nabil menduga.
"Hais ... lelaki itu sampai mengatakan aku tidak berguna menjadi teman mu, padahal kan aku tidak tau kalau kamu sedang sakit! Dia bisa bicara dengan lembut pada ku, tidak perlu marah-marah seperti tadi!" gerutu Mira yang langsung merasa kesal jika membahas Diki.
__ADS_1
Nabil menatap Mira, bisa dia lihat wajah cemberut sahabat nya itu meski dari luar niqab "Jadi kau sedang marah? Hem ... Kau marah karna dia mengataimu tidak becus atau karna dia bicara kasar padamu?" tanya Nabil menggoda.
Mira menatap Nabil tajam "Kenapa aku haris marah karna itu, lagian untuk apa juga aku mengharapkan dia baik padaku, aku hanya tidak suka saja di perlakukan seperti itu," elak Mira.
"Lagian dia sangat menyebalkan, aku sangat membenci lelaki sombong itu." lanjut Mira dengan sangat yakin.
"Hekhem ... Ingat, Ra! Benci dan cinta itu beda tipis loh. Hati-hati, jangan sampai kamu menelan ludah mu sendiri!" Nabil sampai mendekatkan wajahnya pada telinga Mira untuk berbisik pada sahabat nya itu.
Mira melihat Nabil menaik turunkan alisnya, langsung saja dia mendorong jidat Nabil dengan telunjuk nya.
"Apa-apaan sih kamu, Bil! Kamu nyumpahin aku menyukai pria kaku itu?" tanya Mira dengan nada ketus.
Nabil hanya mengedikkan bahunya, tidak ingin menggoda sahabatnya lagi.
"Daripada kamu kesal, mending kamu temenin aku ke rumah sakit!"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Denger tuh Mira saran dari sahabat mu, jangan terlalu membenci jadi cinta, wkwkwkwk.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.
__ADS_1