
Mira mulai membaik dari sakit demam yang dia alami beberapa hari lalu, hingga mengakibatkan dia harus pulang ke rumah. Karna merasa bosan di dalam kamar, dia ingin berjalan keluar kamar.
Saat kakinya berpijak pada anak tangga yang terakhir, dia mendengar bunda nya sedang berbicara dengan seorang, Mira yang penasaran pun langsung berjalan ke arah pintu masuk.
"Siapa, Bun?" tanya Mira setelah berada di belakang bundanya, matanya membulat dan berbinar saat melihat wanita muda di hadapannya.
"Nabil!" pekik Mira langsung memeluk sahabat baiknya itu.
"Duh ... Aku sangat merindukanmu," ujar Nabil juga ikut membalas pelukannya.
"Aku juga sangat sangat merindukan mu." timpal Mira.
Setelah sesaat melepaskan rindu, tiba-tiba bunda berdehem menyadarkan keduanya.
"Hekhem, sebaiknya kita masuk ke dalam," ucap bunda, kemudian dia melangkah masuk terlebih dahulu meninggalkan Nabil dan Mira saling tatap, setelah itu mereka sama-sama tertawa.
Diki yang melihat kebersamaan dua sahabat ini jadi mematung, tatapan nya tidak berkedip ketika melihat Mira keluar dari dalam rumah, dengan cadar yang dia gunakan.
Ya, Mira hanya menggunakan cadar, sehingga terlihat jelas alis nya yang hitam dan keningnya yang putih mulus.
__ADS_1
Menyadari jika lelaki di samping memperhatikan dirinya, Mira malah menatap tajam pada Diki.
"Hei Tuan, apa mata anda ingin aku colok, apa yang anda lihat, hah?" hardik Mira mencibir, membuat Diki gelagapan.
"Siapa yang melihat anda, saya hanya menjaga Nona saya, takutnya pelukan anda malah mencekik dirinya." jawab Diki telak, dia tidak akan membiarkan dirinya di permalukan.
Mira memicing matanya sipit."Dasar kaku." cerca Mira lagi.
"Dasar kucing liar, kelihatan dari luar lembut, tapi kenyataannya bar-bar dan galak." umpat Diki juga tidak mau kalah.
"Apa kamu bilang?" tanya Mira dengan nada menantang, dia menatap sengit pada Diki, tidak tau kenapa seperti nya Mira sangat marah terhadap kaum yang namanya lelaki.
"Kucing liar" ulang Diki semakin membuat Mira marah dan ingin berjalan ke arahnya.
"Awas kau" ancam nya lalu melangkah ke dalam rumah sambil beristighfar, sungguh pagi-pagi mood nya sudah buruk.
Diki menyipitkan mata, sedikit bingung dengan sikap Mira, dia pernah bertemu dengan Mira, tapi dia tidak melihat sisi galak wanita tersebut, kecuali saat dia memarahi Faris karna menyuruh Nabil menatap nya.
"Gadis yang aneh" ucap Diki pelan, kemudian dengan langkah berat dia ikut masuk.
__ADS_1
Diki melihat dua wanita bercadar itu duduk di sofa panjang, lagi-lagi Diki terpergok sedang melihat ke arah mereka, sesaat tatapan mereka bertemu, keduanya diam sejenak, tapi sejurus kemudian Diki kembali melihat tatapan sinis Mira.
Dengan mengerutkan keningnya, sedikit bingung dengan sikap Mira, apa salahnya hingga wanita itu begitu marah ketika melihat dirinya.
"Apa ada yang salah dengan diriku, Nona hingga anda melihat saya begitu benci?" tanya Diki akhirnya, dia begitu penasaran dengan ekspresi yang dia tunjukkan Mira terhadap dirinya, sangat jauh. Berbeda saat bersama Nabil.
"Karna anda adalah laki-laki," jawag Mira ketus.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
Ranting dan bunga nya juga di kasih ya😁