
Meski penasaran dan juga bingung, Nabil tetap memilih diam, tidak banyak bertanya kemana lelaki nya akan membawa dirinya.
Mobil sport yang Faris sendiri yang membawa nya kini masuk dalam pekarangan mall terbesar di kota mereka, dan berhenti di parkiran yang luas di sana.
"Kenapa kita ke Mall?" tanya Nabil pada sang suami yang sedang membantu nya melepaskan seatbelt.
"Selama kita menikah, aku belum pernah membawamu jalan-jalan, jadi tidak salahnya kan aku mengajak istri ku ke tempat ini?" tanya balik Faris.
"Tap--"
Ucapan Nabil terpotong tatkala Faris menyibak niqab yang di gunakan Nabil dan mencium bibir ranum milik nya, bahkan tidak hanya itu, Faris sampai melum*at bibir yang sudah menjadi candu baginya.
"Mmmhhppp" jerit Nabil tertahan sambil memukul dada bidang sang suami, karna Nabil sudah mulai kehabisan nafas.
Faris yang mengerti pun langsung melepaskan ciumannya, dia tersenyum sembari mengusap bibir sang istri dengan ibu jarinya.
"Apa Mas ingin membunuh ku?" tanya Nabil dalam bentuk protes.
"Hehe ... Aku selalu tidak bisa menahan diri jika di dekat mu, sayang," jawab Faris sambil terkekeh.
"Ayo kita turun," ajak Faris lagi.
"Tapi..."
"Tenang, aku membayar belanjaan mu dari hasil ku bekerja di kantor, aku tidak akan menafkahi mu dari bisnis haram ku selama ini,"
"Bukan seperti it--"
"Tidak ada bantahan, sayang! Atau kamu mau aku mencium mu lagi dan membuat mu mendes*h di sini?" potong Faris lagi tanpa memberi jeda untuk Nabil mengeluarkan pendapat nya.
"Dasar, mesum." sarkas Nabil dengan senyuman malu di balik cadarnya.
Faris menarik hidung mancung sang istri dari balik kain penutup wajah Nabil, kemudian dia keluar, mengitari mobil guna membuka pintu untuk wanita nya.
"Silahkan, My Wife!" ujar Faris sambil mengulurkan tangannya pada tuan putri nya.
Dengan malu-malu Nabil menerima uluran tangan Faris, lalu ikut turun dari dalam mobil.
Orang yang lalu lalang antara masuk dan keluar Mall terbesar sontak gigit jari, terutama kalangan perempuan, saat melihat sikap Faris yang sangat manis, jika mereka sering melihat Faris di stasiun televisi dengan wajah tegas, dingin dan angkuh, maka kali ini mereka melihat sikap dan perhatian Faris kepada wanita nya secara langsung.
Tidak menghiraukan tatapan kagum dari banyak mata, Faris langsung memeluk pinggang sang istri, berjalan masuk ke dalam.
Dan sekali lagi, Nabil dan Faris menjadi pusat perhatian, pasalnya semua orang dalam Mall tau jika orang yang sedang masuk ke dalam adalah pasangan suami istri yang baru kemaren mengadakan resepsi pernikahan.
Ketampanan dan tubuh atletis yang di miliki Faris membuat para wanita tergila-gila saat melihat nya, bahkan mereka tidak perduli meski ada wanita yang di peluk Faris, mereka tetap memberi tatapan mengingini.
"Andai aku jadi wanita nya!"
__ADS_1
"Aku penasaran dengan rupa istri nya, secantik apa hingga bisa meluluhkan Tuan Faris yang selama ini terkenal dingin dengan wanita"
"Anda bisa, aku rela jadi madunya"
"Sungguh beruntung wanita dalam pelukan Tuan Faris."
Desas desus dari wanita yang heboh karena kedatangan Faris mulai terdengar, Nabil menatap tajam pada wanita yang setiap lali dia lewati tetap mendengar bisikan kekaguman pada lelaki nya.
Nabil yang tidak suka karna para wanita memuji suaminya, langsung memeluk erat lengan kekar Faria, dia bahkan bergelayut manja di dada sang suami.
Faris tersenyum melihat tingkah sang istri, dia tau jika sekarang ini Nabil sedang cemburu karna para wanita terus memuji ketampanan nya, dan dia merasa senang karna itu, berarti istrinya benar-benar mencintai dirinya.
Faris mengajak Nabil masuk ke dalam toko perhiasan, Nabil menatap pada sang suami, dan Faris hanya mengangguk.
"Berikan gelang, kalung, dan cincin yang saya pesan tempo hari," ucap Faris tegas dengan suara dingin dan wajah datar.
Nabil menarik dua sudut bibirnya melihat ekspresi sang suami, jika dengan dirinya Faris jinak bagaikan kucing piaraan, tapi dengan orang lain suaminya ini bagaikan singa yang tidak ingin di ganggu.
Mendengar ucapan Faris, para penjual perhiasan yang sedari tadi menatap Faris sontak merasakan gugup, karna melihat wajah Faris yang berubah menjadi tegas dan dingin.
Mereka langsung mengeluarkan tiga kotak lalu menyodorkan di hadapan Nabil dan Faris "Ini Tuan."
Faris membuka kotak petak berwarna merah yang berisi kalung dengan permata warna hijau Zamrud, yang di pesan khusus untuk pujaan hatinya.
"Sayang, ini untuk mu!" ucap Faris sambil memegang kalung yang sudah dia buka di hadapan sang istri.
"Mas, apa ini tidak berlebihan?" tanya Nabil ragu, dia yakin harga perhiasan di depannya ini pasti sampai ratusan miliar.
"Aku pakaikan padamu sekarang ya?"
Nabil hanya mengangguk, dia melihat kalung yang di rancang dengan bentuk yang sangat simpel akan tetapi begitu elegan telah berada di atas Khimar yang dia pakai.
Dengan begitu lembut Faria menarik khimar sang istri agar kalung tersebut bisa melekat langsung pada kulit leher wanita nya.
Setelah itu Faris menaikkan cincin yang sepasang dengan kalung pada jari tengah sang istri, karna jari manis Nabil sudah terpasang cincin pernikahan juga di buat dari berlian.
Selanjutnya Faris memakai kan gelang yang begitu kecil tapi terlihat sangat mewah, sangat cocok di pergelangan tangan nya yang putih bersih.
Setelah membayar menggunakan kartu black card, Faris dan Nabil keluar dari toko perhiasan, kini lelaki bermata biru itu mengajak sang istri masuk ke dalam toko tas.
"Sayang, pilihlah sesuka hati mu. Ingat! Aku tidak ingin kamu menolaknya dan merasa tidak enak, karna aku bekerja memang untuk menafkahi mu," celetuk Faris, yang di angguki oleh Nabil.
Langsung saja wanita bercadar ini memilih tas yang dia sukai, meski Faris telah mengatakan hal demikian, akan tetapi wanita 21 tahun ini tetap ragu, terlebih saat melihat lebel harga yang sampai ratusan juta, bahkan ada yang mencapai miliaran rupiah.
"Mas, aku pilih ini saja," tukas Nabil, dia telah memilih tas yang harganya standar.
"Kenapa hanya satu, banyak tas limited edition di sini, kamu boleh memilih sebanyak yang kamu mau." ujar Faris pada sang istri.
__ADS_1
"Sudah, Mas! Aku hanya mau yang ini."
"Baiklah...!"
Faris membawa tas yang dipilih kan oleh sang istri untuk membayar "Saya bayar sekalian dengan beberapa tas yang saya pesan kemaren!" ucap Faris sambil menyodorkan kartu untuk membayar.
Nabil tercengang, karna mendengar perkataan Faris membayar tas yang sudah di pesan.
Tapi dia tidak ingin ambil pusing, mungkin saja suaminya itu memesan tas krja untuk dirinya sendiri.
Setelah membayar, Faris langsung mengajak Nabil keluar tanpa mengambil barang yang sudah mereka beli.
"Mas, barang nya?" tanya Nabil merasa heran.
"Tenang sayang, barang nya juga akan sampai di rumah." Nabil mengangguk paham, dia lupa jika suaminya ini adalah orang yang bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
Setelah membeli tas, Nabil kembali di ajak Faris untuk memilih baju, Khimar, niqab, sendal dan sepatu. Sama saat membeli tas Nabil hanya memilih satu atau dua, akan tetapi Faris membayar lebih, seolah dia membeli puluhan pakaian.
"Sudah hampir sore, apa kamu ingin membeli yang lain?" tanya Faris pada sang istri.
"Tidak, Mas!"
"Bagaimana kalau kita makan dulu, apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Faris lagi.
"Mmm aku hany ingin makan eskrim!" jawab Nabil sambil melihat pada sang suami.
"Sesuai keinginan mu istri ku" imbuh Faris mencium sekilas tangan sang istri, setelah itu dia mengajak sang istri untuk mencari eskrim sesuai keinginan sang istri.
Saat mereka hendak melangkah, tiba-tiba seseorang memanggil Nabil dari belakang.
"Ukhti, Nabil!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Siapa ya yang memanggil Nabil, lelaki atau perempuan ini?.
__ADS_1
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan juga hadiah sebanyak-banyak nya.