
Sebagai seorang suami dan calon ayah, Faris tentu sangat terpukul atas kejadian yang menimpanya saat ini, dia tidak mungkin bisa memilih antara kedua calon anak nya karna mereka sama-sama sangat berharga dalam kehidupan Faris.
Riska selaku orang terdekat Faris tentunya sangat paham yang tengah di alami oleh keponakan nya itu.
"Tante paham apa yang kamu rasakan saat ini, Nak! Tapi jangan salahkan diri kamu, semua atas kehendak dan kuasa Allah. Yang harus kamu lakukan saat ini, pilihlah salah satu nya, berdoa dan berserah diri kepada Allah, minta lah kepada-nya agar anak dan istri mu selamat!" nasehat Riska seraya mengelus punggung keponakan nya itu.
Sementara Faris mendongakkan kepalanya mendengar itu semua, menghapus air matanya, lalu berucap dengan tatapan kosong mengarah ke depan.
"Aku akan memilih anak-anak ku, karna itu permintaan Nabil sebelum dia pingsan!" ucap nya dengan penuh keyakinan, meski butiran bening terus mengalir dari pipinya.
Rasanya semua hambar, lidah nya begitu kelu, dengan hati gelisah sedih dan sakit, seolah hidup nya yang di ambang kematian. Dunia terasa gelap meski sinar matahari masih menyinari, tubuhnya terasa lemah, detak jantung nya sudah tidak karuan, dengan nafas yang terasa sudah habis, saat menanti kabar dari dokter yang tengah mengoperasi wanita nya di dalam.
Setelah mendatangani surat izin operasi dan memilih kedua anaknya, Faris sudah terlihat tak semangat hidup lagi, dia terus membayangkan saat dokter keluar dan hal yang tidak sanggup dia dengar di ucapkan.
Meski dia sudah mengundang dokter terbaik ahli bedah yang profesional, akan tetapi hatinya merasa sangat takut, mengingat semua perbincangan nya dengan dokter sebelum memberikan tanda tangan nya.
Lagi-lagi Faris merasa tertekan dan terpuruk, dia tau jika sang istri saat ini masih hidup, tapi beberapa saat lagi, tanpa bisa dia berbuat apa-apa dia hanya bisa mengikhlaskan nya. Sungguh sangat terasa sakit bukan.
Faris punya alasan besar memilih anak nya, karna jika dia memilih Nabil, mungkin wanita itu akan bersedih dan menyalahkan dirinya seumur hidup. Terlebih saat mengingat pesan yang di tinggalkan Nabil, untuk menyelamatkan anak mereka.
Tubuhnya kini sudah merosot ke lantai, wajahnya terlihat sangat pucat, tak perduli meski banyak darah kering di wajahnya, karna lelaki 28 tahun ini tidak mau saat di minta untuk mengobati luka nya.
"Ya Allah ... Aku memang hamba yang selalu ingkar kepada mu, aku memang selalu mengabaikan perintah mu, akan tetapi untuk kali ini saja, Ya Allah. Jangan kau ambil mereka dari sisi ku, sungguh aku belum sanggup melepaskan mereka. Aku hanya bisa berdoa kepada mu, engkau maha pengasih, maha kuasa, selamatkan lah ketiga nya ya, Allah." Faris terus melantunkan doa di dalam hati dengan perasaan was-was.
Dia tidak ingin di saat sudah yakin akan kekuasaan Allah, dia kembali kecewa dengan kepergian orang yang dia sayangi.
"Jika engkau selamatkan mereka bertiga, aku berjanji akan menutup semua usaha haram ku, aku akan menghancurkan nya, agar tempat itu tidak berkembang lagi, dan juga dua puluh persen dari perusahaan ku akan ku berikan pada masjid dan juga pesantren!" lanjut Faris berbisik di dalam hati.
Para keluarga Nabil yang sudah di beritahu juga berada di sana, mereka juga sangat sedih, terutama ummi Fatimah, dia sudah beberapa kali pingsan dalam pangkuan Mira, saat mendengar penjelasan dari, Diki tentang keadaan Nabil.
Abi Zainal hanya diam dengan sorot mata tajam, melihat Faris seolah ingin membunuhnya. Tangan nya terkepal kuat, urat-urat sudah terlihat di balik kulit nya.
"Faris, ikut saya sebentar!" seru abi Zainal pada menantu nya, sambil dia bangun.
Meski tubuhnya terasa tidak ada lagi tenaga, akan tetapi dia tetap mengangguk dan mengikuti sang mertua.
Diki yang melihat raut kemarahan di wajah abi Zainal pun mengikuti mereka, akan tetapi dia mengikuti secara diam-diam, suami Mira ini merasa khawatir akan Faris.
__ADS_1
...****************...
"Kenapa Abi mengajakku ke tempat ini? Aku ingin menunggu istri dan anak-anakku!" tanya Faris berdiri di belakang sang mertua.
Saat ini mereka berada di taman rumah sakit yang tidak banyak orang lewati.
Bugh...
Wajah Faris yang memaling dengan keras ke samping, dengan tubuh terhuyung ke belakang.
"Ap--apa yang Abi lakuk--"
Bugh...
Tinjuan terus di layangkan abi Zainal pada wajah Faris yang memang sudah terluka. Faris merasa bingung, namun dia sadar jika Abi Zainal terlihat sangat marah, matanya memancarkan kemerahan dengan rahang sudah mengeras.
"Kenapa Abi memukul ku?" tanya Faris tidak paham.
"Kenapa katamu? Harusnya aku membunuhmu!" hardik Abi sambil meremas kerah baju Faris.
"Aku tidak mengerti apa yang Abi katakan!" sergah Faris menduga. Rasa takut kehilangan, sekarang di tambah rasa khawatir jika Abi Zainal mengetahui apa yang selama ini dia sembunyikan.
Deg....
Lagi-lagi tamparan keras menghantam batin Faris, jantung nya terasa berhenti berdetak. Apa yang dia takutkan sekarang menjadi kenyataan.
Dengan penuh penyesalan, Faris duduk dan bersimpuh di kaki mertua nya, sudah tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain minta maaf karna telah mempermainkan mereka semua.
"Aku memang sudah salah karna pertaruhan itu, akan tetapi asal Abi tau, sekarang aku benar-benar mencintai nya, aku sungguh tidak ingin kehilangan istri ku, dia yang sudah mengubah kehidupan ku, dia juga yang sudah membuat hidupku berarti. Mohon maafkan aku, Bi!" pinta Faris dengan lirih seraya air matanya nya kembali jatuh ke lantai.
Sekarang ini Faris benar-benar hancur, sang istri tengah berjuang antara hidup dan mati, sekarang mertuanya tau tentang keburukan nya.
Abi Zainal masih sangat marah, dia ingin menendang Faris, akan tetapi Diki langsung ke menahan nya, dia tidak sanggup melihat adik nya di perlakukan seperti itu.
"Stop, Bi! Jangan lakukan lagi. Faris sudah sangat terpukul dengan situasi nya saat ini, lagi pula itu semua sudah berlalu dan Nabil sudah memaafkan dirinya, mereka sudah hidup bahagia. Yang perlu kita lakukan saat ini berdoa untuk keselamatan Nabil dan anak-anak nya, bukan saling menyalahkan!" hardik Diki menegaskan. Nada bicaranya begitu serius dan juga penuh penekanan.
"Awas Diki, jangan halangi saya memberikan pelajaran pada lelaki brengs*k ini, semenjak anak saya menikah dengan dia, hidupnya selalu menderita, dan karna dia juga hingga Nabil haris berada di sini, dan dia juga yang sudah menyetujui kematian Nabil dengan menandatangani dan menyelamatkan anak nya saja!" cemohan terus di berikan pada Faris yang masih mematung di tanah.
__ADS_1
"Hentikan, Abi! Bukan kah anda orang alim dan paham tentang ilmu agama, ini semua sudah terlajidan sudah menjadi takdir, harua nya Abi lebih mengerti, jika ini semua atas kehendak Allah!" sarkas Diki lagi, dia ingin membantu Faris bangun.
"Lepas Diki, biarkan Abi menyalurkan kemarahan nya dulu, aku siap menerima nya!" lirih Faris sambil menyerahkan tangan nya dari kedua lengan nya.
"Tapi, Ris--"
Faris langsung mengangkat tangan nya "Tinggalkan kami!" seru Faris, Diki menarik nafas dalam dan menghembuskan nya.
"Oke, aku akan pergi. Dan untuk Abi tolong jangan tersulut emosi, karna selama ini Faris dan Nabil sudah hidup bahagia dan saling mencintai, dan aku tidak tau apa Nabil akan memaafkan anda jika dia tau kalau Abi nya menyakiti Abi dari calon bayi yang Mira kandung!" imbuh Diki memperingati, membuat Abi Zainal terdiam seribu bahasa. Setelah itu dia langsung melangkah meninggalkan mereka di sana.
Faris menatap sang mertua yang sudah diam dan air mata yang sudah berlinang, dia tau saat ini Abi dari istri nya merasakan apa yang dia rasakan.
Maka dari itu, dia tidak akan marah dan melawan saat lelaki paruh baya itu memberikan nya pelajaran.
"Abi--"
"Abi, Faris, dokter memanggil kalian, dokter sudah keluar!"
Deg....
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Tolong dokter selamatkan mereka, Aaminnn....
...Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang....
...****************...
__ADS_1
Sambil nunggu novel ini up kembali, intip juga yuk cerita yang tak kalah menarik ini.