
Pukul empat sore, Nabil dan Faris sudah bersiap-siap untuk pulang, Nabil dengan begitu sabar menunggu sang suami selesai memeriksakan semua dokumen yang bertumpuk di atas meja kerjanya.
Ke duanya melangkah keluar dari loby kantor, terlihat sudah ada Diki di sana sedang menunggu mereka.
"Heh, kenapa wajahmu sangat kusut? Tidak bisakah kamu tersenyum sedikit?" tanya Faris tiba-tiba sambil membantu sang istri masuk ke dalam mobil.
Diki menaikkan alisnya sebelah "Tumben Tuan menanyakan saya, saya seperti ini kan karna belajar dari diri anda dulu!" imbuh Diki santai.
"Apa kamu menyalahkan saya karna wajah kusut mu itu, hah?" tanya Faris tidak terima.
Diki menghela nafas panjang "Maksud saya dulu kan anda juga kaku dan kusut seperti muka saya," celoteh Diki lagi.
"Setidaknya wajah ku tampan tidak jelek seperti mu." cibir Faris, kemudian dia juga ikut masuk, Nabil hanya menggeleng kepalanya mendengar perdebatan mereka.
Di jalan, Faris tanpa henti bergelayut manja pada sang istri, sedangkan Nabil hanya fokus melihat keluar.
"Mas, aku ingin membeli buah," pinta Nabil, Faris langsung duduk tegak mendengar permintaan sang istri.
"Membeli buah? Bukan kah di rumah sudah tersedia buah yang banyak?" tanya Faris menatap lekat pada Nabil.
"Iya, tapi aku ingin memakan mangga muda," sergah Nabil dengan mata yang di buat memohon.
"Aku juga ingin membeli buah jambu, dan beberapa buah lainnya untuk membuat rujak." sambung nya lagi.
Faris menarik sudut bibirnya "Oh ... Apa ini permintaan kamu nak, inikah yang di sebut ngidam? Tapi aku sangat suka saat kamu meminta sesuatu pada ku sayang!" ujar Faris, tak lupa kecupan sayang dia jatuhkan pada tangan sang istri.
"Diki, carilah tempat buah yang bersih dan higienis, kita akan membelikan buah untuk istri dan calon anakku!" ucap Faris beralih melihat pada Diki.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" jawab Diki singkat.
"Dan yang ada di jual mangga muda dan juga jambu, kak." timpal Nabil lagi.
"Baik, Nona!" jawab Diki lagi.
Beberapa saat mengitari jalanan, akhirnya Diki menghentikan mobilnya di depan toko yang menjual segala jenis buah, terlihat toko itu cukup luas dengan beberapa orang yang bekerja si sana.
"Kenapa harus di sini, ini terlihat tidak bersih!" protes Faris, padahal jika di lihat dari tempat nya sama sekali tidak seperti yang Faris katakan.
"Kenapa, di sini buahnya lengkap," sarkas Nabil.
"Tapi sayang, aku tidak mau kamu sakit karna tempat nya tidak terjamin seperti ini." ujar Faris dengan sangat angkuh.
"Aku kan tidak makan di tempat ini, lagian tempat nya bersih kok. Ya sudah, kalau Mas tidak mau turun, biar aku saja yang membelinya ya, Mas tunggu di sini saja," ucap Nabil, tangan nya terulur menyentuh pintu mobil. Namun, Faris dengan cepat menahan nya.
"Tidak, aku ingin turun sendiri." timpal Nabil tetap kekeh dengan keinginan nya.
Akhirnya mau tidak mau Faris harus mengikuti Nabil, tidak mungkin dia membiarkan sang istri keluar sendiri tanpa dia dampingi.
"Selamat sore, Mbak! Mau beli buah apa, Mbak?" tanya seorang wanita yang menghampiri mereka, meski bertanya pada Nabil, tapi tatapan nya tak lepas memandangi Faris.
Faris yang merasa di perhatikan mengalihkan pandangannya, tapi ternyata semua mata tertuju pada dirinya, dengan tatapan mengangumi juga mengingini, terutama para kaum wanita.
Untung nya dia memakai kacamata hitam, jadi orang-orang tidak langsung mengenali dirinya, yang benar saja, seorang Presdir perusahaan terbesar di negara mereka membeli buah di toko pinggir jalan, hilang lah martabatnya sebagai pemimpin.
"Saya ingin membeli mangga muda dan juga beberapa buah yang bisa di jadikan rujak, mbak," jawab Nabil ramah, tidak tau saja kalau suaminya sedang menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Oh ... Apa mbak sedang hamil muda?" tanya wanita itu ingin tau, tapi tangan nya langsung sibuk memasukkan mangga muda yang kebetulan ada di sana, ke dalam kantong plastik.
Nabil yang tersenyum senang dari balik cadarnya, Faris hanya diam, tapi tangan nya tidak pernah lepas dari pinggang sang istri.
"Duh ... Beruntung Mbak memiliki suami seperti tuan ini, sudah tampan juga pengertian, sangat jelas terlihat jika dia sangat mencintai Mbak, sampai mau menemani Mbak membeli buah." tukas wanita itu lagi.
"Hehe kami baru pulang kerja, jadi sekalian mampir." jawab Nabil, dia melihat mimik wajah sang suami yang sudah ketus, dia tau jika Faris sudah tidak nyaman.
Tanpa berlama-lama Nabil mengambil semua belanjaan nya, Faris langsung menarik tangan sang istri masuk ke dalam mobil.
"Biar Diki yang membawa dan membayar nya!" tukas Faris meletakkan kantong yang sempat Nabil pegang.
Kemudian dia langsung menarik lembut tangan sang istri untuk masuk ke dalam mobil, di gantikan Diki yang keluar untuk membayar.
.
.
.
.
~Bersambung.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
Berikan juga bintang lima nya, dan juga hadiah sebanyak-banyak 😁.
__ADS_1