Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Identitas Robert.


__ADS_3

Suasana di ruangan kantor Bagaskara, tepatnya di dalam ruangan Presdir, saat ini mereka sedang merasa khawatir tepat nya bagi Nabil dan juga Diki.


Sedari tadi Nabil terus mencoba menenangkan Faris yang terus meracau tidak jelas, air matanya terus bercucuran hingga membasahi kain penutup wajahnya, hatinya begitu teriris melihat keadaan sang suami yang begitu shock.


"Tidak mungkin, tidak mungkin seperti itu. Mama, Papa jangan tinggalkan Faris." teriak Faris histeris.


"Istighfar, Mas! Ingat ada Allah yang selalu membantu hamba nya, kuasi dirimu. Ingat ada aku yang selalu ada untuk kamu," ucap Nabil di telinga sang suami.


Tanpa lelah Nabil terus memeluk erat tubuh bergetar Faris, istri mana yang tidak sakit melihat keadaan suaminya seperti itu. Sedari tadi Faris terus menarik-narik rambut nya, dengan wajah yang tampak lesu dan juga pucat. Matanya terus menatap kosong ke depan.


"Jangan lakukan itu pada saya, kalian pergi dari sini, jangan lakukan itu." jerit Faris lagi. Dia sudah terus melawan, bahkan tubuhnya sudah terjatuh pada lantai di bawah sofa.


"Mas istighfar, Mas!" bisik Nabil lagi, dia terus saja memeluk dan mengelus punggung bergetar Faris, tak lupa sesekali memberikan kecupan di kepala sang suami, agar Faris bisa merasa tenang.


Akan tetapi yang terjadi, Faris malah mendorong kasar Nabil, hingga dia terhuyung ke belakang, dan punggung nya mengenai sofa.


"Akhhhhhh," pekik Nabil. Mendengar itu, Diki langsung mendekati Nabil, dia begitu khawatir akan keadaan istri bos nya itu, untung saja Nabil hanya terkena sofa, jadi tubuhnya tidak terbentur dengan keras.


"Nona, Nabil! Apa anda tidak apa-apa?" tanya Diki panik, ingin membantu Nabil untuk bangun, akan tetapi Nabil langsung melarangnya.


"Saya tidak apa-apa," tukas Nabil.


"Ya Allah ... Tolonglah suami hamba, bantu dia agar bisa melawan rasa trauma nya." lanjut Nabil membatin.


Sementara Faris yang mendengar sang istri menjerit pun seketika tersadar, dia langsung menoleh dan menangkap raut mata Nabil yang tersirat kesedihan, di tambah niqab Nabil yang sudah basah akibat butiran kristal cair yang terus saja mengalir. Menyadari itu membuat Faris merasa sangat bersalah.


Lelaki dengan jas berantakan itu bangun dan langsung menghampiri sang istri "Sayang, kamu tidak apa-apa? Maafkan aku!" pinta Faris sungguh-sungguh, sambil merengkuh tubuh sang istri.


"Lihat Faris akibat ulah mu, anak dan istri mu hampir jadi korban. Sudah aku katakan, jangan memaksa dirimu jika kamu tidak sanggup menerima nya." cerca Diki, dia tidak perduli meski nanti Faris akan marah, dia terlalu khawatir akan keselamatan Nabil dan kedua bayi dalam kandungan nya.


Sementara Faria tidak menyahuti Diki, dia juga tidak bereaksi, mungkin dia membenarkan perkataan Diki, yang hampir membuat istrinya kenapa-kenapa.

__ADS_1


"Sayang, katakan padaku di mana yang sakit?" tanya Faris lagi seraya mengecup seluruh wajah sang istri.


"Aku tidak apa-apa, Mas! Kamu tenangkan dirimu dulu, istighfar Mas, agar kamu bisa yakin jika Allah selalu ada bersama kita." sergah Nabil lirih.


Faris menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya "Astaghfirullah, ya Allah ampunilah hamba." ucap Faria memohon pinta.


"Sekarang Mas duduk yang tenang juga dengan pikiran yang jernih, baru kita caro solusi yang tepat untuk mereka." usul Nabil dan langsung di setujui oleh Faris.


Sekarang ini Faris tampak lebih tenang, dia hanya duduk terdiam dengan terus memeluk Nabil.


Diki kembali melihat berkas yang tadi dia rebut dari tangan Faris, di dalam kertas tersebut, menjelaskan informasi dari sejak Faris kecil hingga sampai sekarang.


Herman Prananto nama aslinya, mempunyai anak perempuan bernama Luna Listia Prananto, istrinya sudah lama meninggal karena terkena kanker. Dia tinggal satu negara dengan orang tua Faris. Dalam hal berbisnis, Herman adalah musuh terbesar Bagaskara, karna Herman merasa iri akan kesuksesan yang di dapatkan oleh Bagaskara, dia merasa benci dan marah, terlebih yang membuat nya semakin marah, saat dia meminta kerja sama dengan perusahaan Bagaskara, akan tetapi dia di tolak karna alasan Bagaskara dia bukan orang yang bertanggung jawab.


Rasa iri dan benci membuat mata Herman menjadi gelap, dalam beberapa bulan dia bekerja begitu giat, hingga perusahaan nya juga terkenal dan berdiri di kalangan pebisnis hebat.


Akan tetapi tujuan nya bukan untuk membuktikan pada Bagaskara saja bahwa dia mampu, melainkan niatnya untuk membuat satu komplotan yang besar untuk menyerang Bagaskara.


Karna kedatangan mereka, semua tamu berlari ketakutan, hanya tinggal keluarga Bagaskara saja. Dengan tanpa rasa kemanusiaan mereka membunuh orang tua Faris setelah mereka menyiksa nya dan juga setelah mendapatkan tanda tangan pengalihan perusahaan atas nama dirinya. Jasad kedua orang tua Faris di buang ke dalam lautan yang sampai sekarang tidak bisa di temukan.


Sedangkan Faris sendiri masih berumur delapan tahun, mereka sengaja memasukkan Faris bersama dua wanita pelac*r, tujuan mereka hanya untuk membuat anak Bagaskara gila. Akan tetapi Faris berhasil kabur, dan hanya menderita depresi hingga mengakibatkan dirinya harus di rawat oleh dokter Psikologi.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Herman menjual perusahaan yang di berikan oleh Bagaskara, agar polisi tidak curiga jika dia lah yang sudah membunuh keluarga Faris. Setelah berhasil menjual dengan harga yang tinggi, Herman sengaja pergi ke Korea bersama putrinya untuk melakukan operasi plastik, dan pindah ke London untuk mengubah identitas nya menjadi Robert Johnson.


Semenjak itu, kasus kematian kedua orang tua Faris di tutup, karna mereka sudah tidak bisa mendapatkan informasi tentang pembunuh nya.


Kakek yang tidak ikut karna kurang sehat malam itu, begitu shock saat mengetahui anak dan menantu nya meninggal tanpa tau dimana keberadaan jasadnya. Dengan membawa kesedihan, Kakek membawa sang cucu ke negera mereka tinggal sekarang.


Sementara Herman hidup bahagia dengan bersama putrinya yang sudah di ganti nama menjadi, Talia Johnson.


Saat Talia memutuskan untuk bekerja di perusahaan Faris, Robert begitu khawatir dengan putri kesayangannya, Karena yang dia nilai, Talia sangat mencintai Faris. Berulang kali dia mencoba melarang Talia, akan tetapi putri semata wayangnya itu tidak pernah mendengar ucapannya.

__ADS_1


Sampai akhirnya dia mengetahui cabang perusahaan Faris yang juga sudah besar. Karna ketamakan dan rasa iri karna lagi-lagi penerus Bagaskara berhasil mendirikan perusahaan besar, dia kembali bermain licik, dengan mengancam para karyawan Faris agar mau menggelapkan uang perusahaan.


Untung nya Faris lebih dulu mengetahui masalah ini, hingga dia tertangkap dan kini berada di tangan nya.


Air mata Nabil terus menetes saat dia juga membaca semua kisah tragis yang di alami sang suami. Dia tidak tau bagaimana susahnya Faris mengembalikan mental nya yang sempat terguncang karna masalah yang dia pikul begitu berat, terlebih di umurnya yang masih sangat muda.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Diki, dia melihat Faris sudah tidak terlalu shock, kembali bertanya.


Faris menatap pada Nabil yang hanya menggelengkan kepalanya "Aku tidak tau, Dik! Sekarang kamu lihat sendiri, Allah menghukum dia dengan cara yang sama, dulu dia membuat ku depresi hingga aku di rawat di psikologi, dan sekarang anak nya juga mengalami hal yang sama,"


"Akan tetapi aku tetap akan memberikan nya pelajaran, sesuai yang di rasakan kedua orang tua ku." ucap Faris berapi-api. Matanya begitu tajam, tersirat kemarahan yang begitu mendalam.


Nabil menggenggam tangan Faris "Aku tidak akan mengizinkan mu melakukan seperti yang dia lakukan pada Mama dan Papa."


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Aku kok ikutan sedih ya...!


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.

__ADS_1


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2