
Dua hari telah berlalu, kedua pasutri itu baru saja tiba di halaman rumah Bagaskara. Setelah mobil mereka berhenti, dengan segera Faris turun mengitari mobil guna membukakan pintu untuk sang istri.
"Mas, aku sudah bisa jalan sendiri!" ujar Nabil, karna merasa tidak enak.
Tentu saja Faris tidak menghiraukan ucapan sang istri "Sayang, satu yang kamu harus tau, kalau aku tidak suka di bantah!" tukas Faris, setelah itu dia langsung menggendong sang istri, membawanya masuk ke dalam rumah, yang sudah di sambut oleh para maid yang berjejer dengan rapi di depan pintu.
"Selamat datang kembali, Tuan, Nona!" ucap bi Mila seraya menunduk.
Faris hanya berlalu dengan wajah cuek dan juga sombong, tidak menghiraukan tatapan-tatapan orang yang sedang dia lalui.
Berbeda dengan, Nabil. Dia yang berada dalam gendongan sang suami menyembunyikan wajahnya dalam pada dada sang suami, meski wajahnya sudah tertutup, tapi tetap membuat dirinya merasa ingin memasukkan wajahnya ke dalam saku celana, sangking dia merasa malu karna tatapan para maid yang tersirat sebuah godaan untuk dirinya.
"Siapkan makan siang yang banyak juga lezat untuk aku dan juga istri ku, ingat! Harus masakan lezat dan bergizi!" ucap Faris memberi perintah.
"Baik, Tuan!" jawab bi Mila mewakili semua nya.
Setelah itupun dia langsung masuk ke dalam lift, Nabil yang sudah berani mengangkat kepalanya, saat ini sedang melihat wajah tampan sang suami, dengan rahang yang tegas, hidung yang sangat mancung, juga bulu matanya begitu lentik.
"Apa kamu belum puas mengagumi ketampanan ku, sayang?" tanya Faris sontak membuat sang istri gelagapan, Nabil merasa malu karna ketahuan sedang memperhatikan wajah Faris.
"Mas!" panggil Nabil mengalihkan pembicaraan.
Faris menunduk, menatap mata indah milik sang istri "Hem ... Katakan!" jawaban yang sering Faris gunakan saat Nabil memanggil dirinya.
"Mengapa Mas menyuruh mereka yang memasak, aku kan juga bisa memasak untuk kita?" tanya Nabil, jujur dia lebih suka jika dia sendiri yang menyiapkan segalanya untuk sang suami.
Ting...
Pintu lift terbuka, Faris terlebih dahulu melangkahkan kakinya keluar "Aku tidak ingin kamu capek, sayang!" sarkas Faris.
"Tapi sebagai istri, aku ingin diriku sendiri yang mengurus keperluan mu, termasuk memasak untuk Mas!" timpal Nabil, dan saat ini mereka sudah berada di dalam kamar.
Faris meletakkan Nabil pada tepi ranjang, lalu membuka niqab sang istri dengan begitu lembut.
Cup...
Tidak lupa ciuman di bibir sang istri "Sebagai seorang suami, tentu aku juga sangat senang jika istri ku sendiri yang menyiapkan segalanya, akan tetapi untuk hari ini aku ingin hanya berdua dengan dirimu!" celetuk Faris sambil tangan kanannya mengelus lembut pipi Nabil.
"Kita sudah dua hari dua malam tinggal bersama tanpa ada seorang pun yang menggangu, Mas!" imbuh Nabil, tidak habis pikir dengan sikap Faris sekarang ini.
"Bahkan bertahun-tahun dengan mu tidak pernah membuat ku jengah, bahkan saat berdua dengan mu, aku selalu ingin waktu jangan cepat berlalu!" sergah Faris, memang yang dia katakan nya benar adanya.
"Hem ... Tapi kan Mas bisa temani aku masak!" timpal Nabil yang terakhir kalinya.
__ADS_1
Faria memegang dagunya sejenak, sepersekian detik, dia langsung mengiyakan ucapan sang istri, padahal Nabil hanya asal bicara, mana mungkin lelaki seperti suami nya mau bermain di dapur, apalagi membantu dirinya masak.
"Usulan mu boleh juga, sayang! Aku akan ganti baju dulu, kamu juga ganti baju dengan yang simpel saja, karna para penjaga lelaki, akan aku suruh pulang sekarang juga!" cerocos Faris membuat Nabil terbelalak.
"Ta-tapi Mas!" Nabil ingin protes, tapi melihat lirikan Faris yang begitu tajam membuat Nabil mengurungkan niatnya.
"Jane, hubungkan dengan televisi di setiap ruangan, termasuk di depan dan juga gerbang!" perintah Faris.
"Baik, boy!" seketika wajah Faris sudah terlihat pada layar di setiap ruangan.
"Untuk para Maid keluar dari dapur, kerjakan yang lainnya, dan untuk para lelaki, hari ini boleh pulang, sekarang!" ucap Faris dengan begitu tegas.
Nabil terbelalak dengan mulut menganga, hidup suaminya itu memang terlalu mudah.
Dalam seketika, dapur yang tadi sudah di huni oleh para pelayan seketika kosong, begitu pun para lelaki, baik supir, bodyguard, atau tukang kebun semua nya kosong, ada sebagian dari mereka pulang ke rumah, ada juga yang masuk dalam kamar khusus penjaga di kediaman Bagaskara.
"Sayang, ayo kita keluar!" ajak Faris, setelah mereka mengganti pakaian.
Faris hanya menggunakan celana selutut berwarna moka, dengan baju kaos melekat pas di tubuh atletis nya. Sedangkan Nabil menggunakan dress santai berwarna biru, dengan rambut di kincir ke atas.
"Tapi benarkah sudah tidak ada lelaki lagi di bawah?" tanya Nabil ragu, karna dia keluar tidak menggunakan khimar dan juga niqab.
"Aku tidak mungkin membiarkan seorang lelaki pun melihat mu tanpa penutup wajah, sayang!" ucap Faris, sambil mencium tangan Nabil, kemudian mereka pun langsung melangkah keluar.
Hanya beberapa menit, keduanya sudah berada di dapur, Nabil tampak lincah, mengambil celemek dan juga alat-alat memasak nya, berbeda dengan Faris, dia tampak bingung melihat semua yang di pegang sang istri, terlebih dia hanya menatap saat wanita nya itu memakai kan celemek pada tubuhnya.
Faris tertawa melihat tingkah sang istri yang menurut nya sangat menggemaskan, lalu mengacak rambut sang istri, membuat empunya memonyongkan bibirnya.
"Kok di acakin sih rambut ku, Mas! Kita mau masak loh!" protes Nabil memarahi sang suami.
"Habis nya aku gemes sayang!" timpal Faris.
"Ya sudah, kita mulai masak ya!" ajak Nabil yang kembali tersenyum.
"Bagaimana kalau kita memasak sup dan ayam kecap saja?" tanya Nabil yang mendapat anggukan dari sang suami.
"Oke, Mas bantu aku memotong bawang saja ya!" ujar Nabil begitu semangat memberikan bawang juga pisau pada Faris.
"Hanya itu?" tanya Faris meremehkan.
"Memang mau apa lagi, itu saja belum tentu bisa Mas lakukan!" ejek Nabil sambil tertawa renyah.
"Kamu menantang ku, sayang?" tanya Faris tidak terima, seketika jiwa nya suka akan tantangan langsung meronta-ronta.
__ADS_1
"Coba saja kalau bisa!" timpal Nabil lagi meremehkan.
"Oke kita mulai!" Faris dan Nabil sudah mulai dengan tugasnya masing-masing, Nabil langsung memotong daging yang akan dia jadikan sup, sedangkan Faris masih memutar-mutar bawang di tangan nya.
Dengan ekor mata lelaki dua puluh delapan tahun ini melirik pada Nabil yang fokus pada daging yang sedang dia potong, dia bingung cara mengiris bawang, karna saat ingin mengiris nya, bawang itu selalu lepas dari pisau, karna dia tidak memegang bawang yang ingin dia iris.
Nabil yang menyadari Faris sedang kesusahan terkekeh, kemudian dia mendekat, di raihnya tangan sang suami sebelah kanan yang memegang pisau, dan di tuntun yang sebelah kiri untuk memegang bawang nya agar bida terisis.
"Kalau Mas tidak memegang nya, bagaimana bisa teriris!" ucap Nabil pelan sambil terus menggerakkan tangan Faris mengiris bawang di depan mereka.
Namun, berbeda dengan Faris, saat seketika Nabil mendekat, dia malah fokus pada leher jenjang putih milik sang istri, tanpa sabar dia langsung mencium leher Nabil, mendengus nya hingga membuat Nabil merasa geli.
"Ih ... mas! Bukan nya dilihat pas Nabil ajarin!" protes Nabil segera melepaskan diri, jika tidak suaminya pasti tidak akan melepaskan dirinya.
Faris terkekeh, lalu mencoba mengiris kembali bawang yang hanya terisa beberapa butir.
"Aw....!"
"Mas...!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung
Jangan lupa Like, komen dan juga vote ya.
Oh iya, sambil nunggu Nabil up kembali, kalian mampir saja di cerita yang berjudul "Penyesalan Zenaya" karya Kim O.
Kisah ini juga menceritakan tentang taruhan, Zenaya sangat mencintai lelaki yang bernama Reagen, hingga dia bisa menjalin hubungan dengan lelaki tersebut, dia kira Reagen benar-benar menyukai dirinya, akan tetapi pemikiran nya salah, karna bagi lelaki itu, perasaan Zenaya itu hanya lah sampah.
Reagen mendekati dirinya hanya karna sebuah taruhan, setelah mengetahui jika lelaki yang dia perjuangkan ternyata hanya mempermainkan dirinya, perasaan Zenaya berubah, membenci nya, dan bersumpah tidak akan membuka hati untuk lelaki lagi.
__ADS_1
Tapi, takdir berkata lain, saat sudah bertahun tahun, akhirnya mereka di pertemukan kembali, dan Zenaya harus menerima kenyataan kalau diri nya harus menikah dengan Reagen demi menyelamatkan harga diri dan nama baik keluarga nya.
Bagaimana kisah selanjutnya, langsung saja ya ke lapak nya.