Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Selamat Bahagia Miraku.


__ADS_3

Sebulan berlalu semenjak kematian Robert, dan beberapa hari lagi kandungan Nabil tepat memasuki bulan ke tujuh.


Mereka mempersiapkan dengan baik, meski Nabil mengatakan tidak perlu mengadakan acara besar-besaran, cukup dengan memanggil anak yatim ke rumah, dan melakukan doa bersama.


Sementara mereka yang sibuk membincangkan acara untuk ke tujuh bulanan, Nabil. Seseorang lelaki tampak bersemangat dan tak sabaran di dalam sebuah Apartemen.


Berulang kali lelaki yang ternyata adalah Diki melihat pantulan penampakan nya di cermin di dalam kamarnya.


Matanya kadang juga selalu melihat pada jam yang menggantung pada dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.


Ada rasa takut menyelimuti hatinya, karna hari ini tepat di hari waktu yang di berikan Mira, dia akan meminta jawaban dari wanita yang semakin hari semakin mengganggu pikirannya.


Sesuai yang di katakan Mira di saat mereka terakhir bertemu, bahwa dia menyuruh Diki kembali menemui dirinya di taman jika Diki sudah merasa melakukan kewajiban nya.


Dan selama satu bulan lebih Diki begitu gita mengubah hidupnya, meski sudah sangat lama tidak melaksanakannya, akan tetapi asisten Faris ini begitu giat belajar dan perlahan mempraktekkan nya, hingga dia keterusan.


Bahkan perjuangan nya patut di ajukan jempol, sama seperti Faris, dia juga sering mendengarkan pengajian dari benda canggih nya.


Untuk pemula seperti Diki sudah sangat lumayan, karna tidak hanya satu waktu, akan tetapi Diki bisa mendirikan solat langsung lima waktu, bahkan subuh yang paling berat, sengaja Diki bunyikan alarm agar bisa menunaikan kewajiban solat subuh.


Meski setiap pagi dia harus berperang dengan rasa kantuk, akan tetapi tidak sekali mengurangi niat dalam diri lelaki berwajah tampan ini.


Mengingat itu, Diki yang tengah duduk di sofa sambil meminum kopi agar dirinya tenang pun tersenyum, dia bahagia karna bisa mengubah dirinya walaupun belum sepenuhnya.


Bukan rasa bangga, akan tetapi bahagia karna dia sudah menjadi lebih baik, bahkan banyak yang dia dapatkan dari perubahan yang dia lakukan.


Jiwa yang selalu gelisah menjadi tenang, kebahagiaan kadang tak ada sebab dia rasakan. Jika awal mula Diki berubah karna, Mira, akan tetapi sekarang Diki memang berubah karna niat nya sendiri.


Akan tetapi harapan tetap lah harapan, saat ini Diki di landa rasa takut di sudut hatinya, dia takut jika Mira menolaknya, meski dia berubah bukan karna Mira lagi, bukan berarti dia sudah tidak mencintai Mira, bukan berarti dia tidak berharap akan balasan perasaan wanita nya itu.


Bahkan rasa cinta terhadap Mira semakin hari semakin membesar, tapi meskipun begitu, Diki tetap akan memberikan pilihan pada wanita nya, dia tidak akan memaksa Mira jika memang dia tidak menerima Diki.


"Apa dia akan menerima ku?" desis Diki pada dirinya sendiri.


Rasa takut, khawatir grogi dan gugup sudah lebih dulu menggerogoti relung hatinya, meski sudah banyak yang bilang bahwa dia cocok dengan Mira, akan tetapi itu tidak membuat kekhawatiran Diki lenyap, rasa tidak pantas terus hinggap di hatinya.


"Apa aku tidak usah menemui dirinya saja?" tanya Diki lagi pada diri sendiri.


"Tapi bagaimana jika dia menunggu ku di sana," mata Diki kembali melihat arloji yang melingkar di tangan nya. Yang sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Lebih baik aku pergi, ya aku pergi. Persetan dengan penolakan nya, aku tidak akan tau sebelum mendatangi nya," Diki langsung bersiap-siap untuk pergi menemui Mira.


Setelah menutup pintu mobil, Diki menarik nafas dari dalam kemudian menghembusnya dengan kasar, mencoba menelisir dari rasa gugupnya.

__ADS_1


"Bismillah, Ya Allah, tujuan hamba baik, ridhoi lah langkah hamba, dan berikan lah jawaban terbaik untuk hamba, jika dia memang jodoh hamba, maka dekat kan kami dalam hubungan yang sah, Aaminnn!" Setelah berdoa, Diki langsung menancap pedal gas pada mobil nya, menuju taman di mana Mira mungkin sudah lama tiba.


...****************...


Dalam perjalanan hati Diki tidak pernah merasa tenang, rahang nya mengeras karna saking nya menahan kegugupan.


Sebelum ke tempat perjanjian mereka, Diki terlebih dahulu singgah di toko bunga, dia memang bukan laki-laki romantis, akan tetapi Diki sudah banyak belajar dari Faris, bagaimana Faris yang kaku dan dingin memperlakukan wanita yang di cintai nya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.


Turun dari kendaraan beroda empat nya, tidak lupa kaca mata yang bertengger di hidung mancung nya. Kulitnya yang putih, tubuh atletis dan tinggi yang sekitar 170 cm melebihi tinggi orang pada umumnya.


Semua mata pengunjung dan penjual bunga terkesima melihat Diki yang begitu berkarisma saat berjalan masuk ke dalam toko bunga yang besar tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Taun?" tanya seorang wanita yang sudah di yakini pekerjaan di toko bunga tersebut. Mata wanita itu terus memandangi Diki, dengan senyuman tak lepas dari bibirnya.


"Saya ingin membeli bunga," jawab Diki santai.


"Saya tau, Tuan! Tidak mungkin anda kemari untuk membeli ikan," timpal wanita itu di iringi dengan gelak tawanya.


Diki mengerutkan keningnya "Benar juga ya, kenapa aku sangat terlihat bodoh," gerutu Diki di dalam hati.


"Anda mau membeli bunga apa, Tuan?" tanya wanita itu lagi, melihat Diki tidak berekspresi mengenai gurauan nya, dia kembali bertanya serius.


"Bunga apa yang biasanya di sukai oleh perempuan?" tanya Diki polos, jika urusan laptop, tablet dan urusan kantor, Diki ahlinya, akan tetapi juka menyangkut dengan wanita dia memang tidak paham, karna baru ini kali pertama Diki menyukai seorang gadis dan ingin serius dengan wanita tersebut.


"Kesukaan wanita tidak semu sama, Tuan! Selera kan beda-beda," timpal wanita itu yang juga tampak bingung dengan Diki.


"Apa bunga ini untuk istri anda?" tanya wanita itu lagi, dia mengira Diki sudah menikah, karna umur Diki memang sudah memasuki 29 tahun.


"Bukan, ini untuk..." Diki bingung harus mengatakan apa.


"Untuk calon istri?" tanya wanita itu lagi, dan Diki hanya mengangguk dengan senyuman kikuk nya.


"Baiklah, tunggu sebentar, akan saya berikan bunga yang cocok untuk wanita anda itu," wanita yang ramah itu langsung membungkus buket bunga dan di berikan pada Diki.


"Terimakasih," ucap Diki sambil mengambil bunga tersebut dan membayarnya.


"Sama-sama, Tuan! Semoga wanita beruntung itu suka dengan bunga nya," ujar wanita itu yang merasa Mira beruntung karna mendapatkan Diki.


"Saya permisi," Diki langsung bergegas masuk kembali dalam mobil nya.


...****************...


Diki kembali gugup saat mobil nya hampir dengan dengan taman yang sebulan lalu dia datangi.

__ADS_1


"Hais ... Kenapa aku seperti ABG saja yang gugup senang karna bertemu dengan nya, ingat lah Diki itu tidak pantas bagi kamu yang hampir berkepala tiga," cerocos Diki untuk dirinya sendiri.


Setelah menepikan mobilnya, Diki turun, sedikit merapikan jas yang melekat di tubuhnya, dia kembali mengambil bunga yang barusan dia beli, tidak lupa satu kotak merah yang berisi cincin yang akan sematkan di jari manis Mira jika wanita nya itu mau menerima pinangan dari nya.


Berulang kali Diki menarik nafas dan membuang nya, setelah di rasa jantung nya sedikit aman, lelaki tampan itu langsung menggeret langkahnya menuju tempat yang di janjikan Mira.


Wajah Diki tampak bersinar dan bibirnya begitu lebar melengkungkan senyuman saat melihat wanita yang duduk di bangku tempat sebulan lalu mereka bertemu.


Akan tetapi senyuman itu perlahan memudar, dan semakin menguncup, bibir Diki terasa kelu, matanya terasa peri.


Duarrrr


Bagaikan petir di siang bolong, saat melihat wanita yang sebulan penuh dia tunggu tengah duduk dan berbincang dengan seorang lelaki.


Lelaki yang berpakaian layaknya seorang ustadz, Diki hanya bisa tertawa getir, dengan air mata yang tanpa sengaja menetes keluar.


Ini alasan Mira menolak dirinya sebulan yang lalu, ini alasan Mira mengatakan jangan mengharapkan dirinya karna akan menyakiti perasaan Diki, ini juga alasan wanita di hadapannya tidak pernah merespon setiap pesan dan panggilan dari Diki.


Bunga yang berada di tangan nya perlahan jatuh, lututnya terasa begitu lemah, walaupun hanya untuk menopang tubuhnya.


Akan tetapi meski begitu, tetap Diki paksa untuk melangkah meninggalkan Mira dengan kebahagiaan nya.


"Selamat bahagia, Miraku"


.


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Mewek aku sama kisah mereka, Bang Diki sabar ya, eh kenapa nggak nyamperin sih, cari tau kebenaran nya.

__ADS_1


Jangan lupa loh untuk Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2