Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Perubahan sikap Faris.


__ADS_3

Jam 8 pagi, mobil yang di naiki Faris tepat berada di depan pintu utama mansion Bagaskara, dengan ragu Faris keluar, dia takut jika sang kakek tau jika dirinya meninggalkan Nabil dari semalam.


Dia ingat, pas bangun tadi pagi sudah berada dalam kamar yang ada di ruangan miliknya yang berada di bar.


"Diki, kalau sampai Kakek memarahi ku, kamu akan tau akibatnya!" ancam Faris kepada sang asisten.


Diki meneguk liurnya dengan kasar "Ke-kenapa saya, Tuan?" tanya Diki.


"Karna kamu tidak membangunkan saya, hingga kita pulang dengan terlambat!" hardik Faris, Diki hanya bisa melebarkan matanya, kenapa setiap ada masalah, selalu dirinya yang di salahkan.


"Sekarang, kamu pulang! Akan semakin curiga Kakek jika melihat mu di sini" lanjut Faris lagi.


"Baik, Tuan!" jawab Diki mengiyakan.


Dengan mengendap, Faris melangkah masuk, matanya terus melihat kanan dan kiri, agar di saat melihat keberadaan sang kakek, dia bisa bersembunyi.


Nabil yang baru selesai meletakkan makanan di atas meja, tanpa sengaja mata nya menangkap sosok lelaki yang sedang berjalan hampir berjongkok.


Nabil terus memperhatikan lelaki yang hampir masuk ke dalam lift, saat di yakin itu adalah suaminya, tanpa menunggu lagi, dia langsung melangkah mendekati Faris.


"Mas, Faris!" panggil Nabil yang sudah berada di belakang punggung suaminya.


"Aakhhh!" pekik Faris merasa terkejut, dia langsung membalikkan badannya, seketika itupun wajah iblis nya langsung dia pasang, saat tau jika yang mengagetkan dirinya adalah sang istri.


"Kamu! ngapain kamu di sini?" tanya Faris sedikit membentak.


Deggggg


Jantung Nabil rasanya langsung diam, saat mendengar lelaki yang kemaren  begitu manis dan sopan, membentak dirinya.


"Sa-saya, melihat mas! Makanya saya ke sini!" jawab Nabil sedikit gugup.


"Dimana Kakek?" tanya Faris masih dengan suara nya meninggi.


"Kakek keluar, katanya mau berolahraga!" timpal Nabil menjawab.


Mendengar itu, Faris sedikit lega. Dia langsung mengubah ekspresi nya menjadi datar.

__ADS_1


"Oh ya, kenapa aku tidak teringat, jika kakek memang suka lari pagi!" batin Faris, kemudian tanpa berkata sepatah katapun, dia langsung masuk ke dalam lift, agar bisa sampai ke kamarnya.


Nabil ikut masuk, Faris menatap nya dengan heran "Kenapa kamu mengikuti ku?" tanya Faris datar.


Nabil lagi-lagi terhenyak mendengar ucapan Faris, dia seperti melihat orang lain dalam diri suaminya.


"Saya ingin membantu mas, Faris! mungkin anda membutuhkan sesuatu!" jawab Nabil formal, dia semakin menciut karna perlakuan Faris begitu berbanding terbalik saat sebelum menikah.


"Saya tidak butuh bantuan kamu!" cemooh Faris lagi. Dia hanya bersikap cuek, sama sekali tidak melihat pada Nabil yang sudah menundukkan kepalanya menahan sakit atas perkataan Faris.


Meski perasaannya mulai terluka, Nabil tetap mengikuti kemanapun Faris melangkah, dia masih berusaha berfikir baik, dia mengira jika Faris terlalu capek, maka dari itu sikap suaminya itu seperti itu pikir Nabil.


Sampai di depan kamar, Faris langsung membuka daun pintu bercorak abu-abu itu. Saat kedua nya melangkah masuk, Nabil dapat melihat empat Maid sedang sibuk dengan tugas nya masing-masing.


"Pantas saja, Mas Faris mengatakan tidak butuh bantuan ku, karna semua nya sudah ada yang mengerjakan nya" batin Nabil.


"Tapi bukankah ini semua sudah menjadi tugas ku!" lanjut nya lagi, dia melirik pada wajah tampan suaminya yang masih tampak datar.


Perhatian Nabil kembali teralih kepada jane, yang menyapa Faris saat pemuda itu masuk.


"Selamat pagi, Boy!"


"Mas, bisakah aku yang menyiapkan semua kebutuhan mu?" tanya Nabil sopan.


Faris hanya mendelik, lalu menjawab "Terserah!"


Nabil menelan rasa sedihnya, lalu melangkah mendekati maid yang sedang menyiapkan air mandi untuk Faris.


"Bu, biar Nabil saja ya!" pinta Nabil.


Maid yang bernama Mirna tidak langsung mengiyakan, dia lebih dulu melihat pada Faris yang sedang memakan buah apel dan juga meminum susu.


Nabil yang paham pun kembali bersuara "Aku sudah meminta izin kepada Tuan!" imbuh Nabil.


"Baiklah kalau seperti itu, Nona! Bibi keluar dulu!" ucap bi Mirna, dan Nabil pun mengangguk.


Kemudian dia langsung menyiapkan air mandi untuk lelaki yang baru kemaren menjadi suaminya.

__ADS_1


"Silahkan, Mas!" tukas Nabil kepada Faris.


Faris yang mendengar nya, langsung berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun, Nabil lagi dan lagi merasa sedih dengan sikap Faris. Tapi, dia masih mencoba menahan nya. Kemudian, kakinya pun bergerak kepada pelayan yang sedang menyiapkan makanan Faris.


"Kenapa makanan Tuan di siapkan di sini?" tanya Nabil.


"Karna Tuan tidak suka makan di meja makan, dia hanya ingin makan di dalam kamarnya sendiri!" jawab maid itu, Nabil hanya mengangguk.


"Lalu, Kakek makan dengan siapa?" tanya Nabil lagi.


"Tuan besar sering makan sendiri, atau di temenin oleh Tuan Diki!" timpal pelayan itu lagi.


"Kasihan sekali kakek!" ucap Nabil di dalam hati.


"Bisa saya yang menyiapkan nya?" tanya Nabil dengan ragu.


"Boleh, Nona!" jawab nya dengan begitu sopan.


Keempat maid langsung keluar, menyerahkan nya kepada yang lebih berhak, yaitu istri Faris sendiri.


Hanya dua puluh menit, Faris keluar dengan kimono handuk yang melekat pas di tubuh atletis nya itu.


"Mas, kamu mau pakai baju apa?" tanya Nabil yang masih belum cukup tau, apa lagi dia ragu jika suaminya itu akan berangkat kerja, atau menemani dirinya di rumah.


"Aku mau ke kantor, mana mungkin aku memakai baju kaos ke kantor, begitu saja tidak tau! Dasar tidak becus!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Mohon dukungan nya dong, dengan cara Like, komen dan juga Vote ya para Reader ku ter❤️.


__ADS_2