
Nabil dan Faris sama-sama menoleh pada asal suara, dalam seketika wajah Faris langsung berubah garang, tampang nya menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan orang yang barusan memanggil istrinya.
"Abiyan!" seru Nabil yang juga kaget karna melihat lelaki yang kemaren menjadi penyebab Faris salah paham.
"Hai, Nabil!" ujar Abiyan tersenyum manis ke arah Nabil.
Melihat itu, Faris semakin murka "Kenapa kamu memanggil istri saya?" tanya Faris penuh penekanan, tangan nya semakin erat memeluk pinggang calon ibu dari anak nya.
"Sabar, Tuan! Tidak perlu posesif begitu, saya hanya menyapa karna kebetulan melihat anda dan juga Nabil!" jelas Abiyan.
"Kamu memanggil bukan menyapa."
"Saya hanya ingin bertanya, apa Nabil masih kuliah atau tidak? karna dia sudah jarang datang ke kampus!" celetuk Abiyan tanpa beban, tanpa dia sadari Faria sudah mengeratkan genggaman nya, ingin sekali dia menghajar lelaki di hadapannya itu.
"Jaga batasan mu, dia pergi ke kampus atau tidak itu bukan urusan mu!" sarkas Faris lagi dengan suara berat.
Nabil yang paham jika sang suami mulai emosi pun langsung mengelus lengan sang suami.
"Maaf, Abiyan! Kami pamit, dan saya mohon, jika lain kali kita bertemu anggap saja kita tidak saling mengenal, untuk kuliah saya belum tau, karna saat ini saya lebih mengutamakan mengurus suami saya dan menjaga kandungan saya," elak Nabil langsung menarik tangan Faris ingin menjauh.
"Apa suamimu memperlakukan mu seperti pembantu? Apa dia bersikap seperti anak kecil hingga harus kamu urus!" tanya Abiyan lantang setelah Nabil berjarak sekitar lima langkah dari nya.
Mendengar itu, Faris ingin berbalik dan menghajar wajah Abiyan, tapi lagi-lagi Nabil menahan nya.
"Mengurus suami adalah kewajiban saya, membuat suami bahagia untuk mencapai keridhaan Tuhan, melayani suami dengan sepenuh hati pahala yang saya dapatkan, tidak ada yang merasa jadi pembantu atau anak kecil bagi mereka yang melakukan semuanya karna, Allah!" sergah Nabil tanpa membalikkan tubuhnya, setelah itu dia kembali menarik tangan sang suami untuk menjauh dari Abiyan yang masih berdiri mematung di tempat, dia masih berusaha mencerna kata-kata tamparan dari wanita yang dia incar selama ini.
Sedangkan Nabil dan Faris kini sudah duduk di kursi dengan berbentuk sofa panjang dalam sebuah restoran yang tersedia juga es krim sesuai keinginan ibu hamil itu.
Nabil melihat sang suami masih dengan wajah bengis dan rahang masih mengeras, sesekali terdengar dia menggertakkan giginya.
"Mas, apa kamu marah?" tanya Nabil dengan memajukan wajahnya di depan muka Faris.
Akan tetapi Faris menggubris nya, dia hanya diam menatap ke depan.
"Mas ... Apa Mas marah?" ulang Nabil lagi bertanya, kini sambil menggoyangkan pundak sang suami.
"Apa aku menyusahkan mu? Apa kamu kerepotan selama ini? Apa kamu merasa seperti pembantu atau aku bertingkah layaknya anak kecil?" Faris beralih menatap mata indah Nabil dengan pertanyaan yang membuat Nabil kaget.
__ADS_1
"Kenapa Mas bertanya seperti itu? Aku tidak pernah merasa repot selama menjadi istri Mas, justru sebaliknya aku sangat bahagia hidup dengan mu, bukan kah melayani mu memang kewajiban ku?" tangan Nabil terangkat memegang kedua pipi sang suami.
"jangan Mas dengarkan apa yang baru dia ucapkan Abiyan, aku yang lebih mengenal mu, dari siapapun, aku yang setiap harinya merasakan perlakuan mu, aku yang tau sifat mu, dan aku tidak pernah merasa di repotkan oleh suami ku," celetuk Nabil panjang lebar, hingga Faris kembali mengukir senyuman manis di bibirnya.
"Tapi ... Memang benar sih, kadang-kadang suamiku ini seperti anak kecil yang selalu ingin di peluk dan di cium kalau sifat manja nya kambuh!" lanjut Nabil sambil tertawa lepas.
Mendengar itu Faris juga ikut tersenyum, dia meraih tangan sang istri dan menggenggam nya erat, setelah itu dia menggelitik seluruh badan wanita nya.
"Kamu berani mengejekku, hem!"
"Ha ... ha ... ha ... sudah, Mas! Perutku sudah ku keram, hentikan tangan mu itu, aku merasa geli," pinta Nabil yang sudah capek tertawa karena ulah Faris.
Faris berhenti, karna tidak ingin membuat Nabil kesakitan, Mereka baru sadar jika banyak mata yang melihat kelakuan mereka, Nabil langsung masuk ke dalam pelukan Faris, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.
"Meski aku bersikap anak kecil dan manja, akan tetapi kamu tetap cinta kan?" bisik Faris membalas menggoda wanita pujaan hatinya.
Nabil hanya tersenyum, memang tidak bisa di pungkiri, kalau Nabil memang suka saat Faris bersikap manja kepada dirinya.
...****************...
Setelah menghabiskan dua mangkuk es krim dengan porsi yang berbeda, kini Faris dan Nabil langsung menuju jalan pulang.
Faris hanya menarik sudut bibirnya, tersenyum melihat tingkah sang istri bagaikan anak kecil, dia tidak menghiraukan tangan kanan nya yang merasa pegal karna harus menyetir sebelah, sungguh Faris tidak tega menarik tangan yang sedang menjadi mainan sang istri.
Karna merasa lelah, tanpa terasa Nabil tertidur saat masih meliuk-liuk jemari sang suami, Faris lagi-lagi tersenyum, menarik tangan nya yang sudah terlepas dari genggaman sang istri, kemudian mengelus puncak kepala Nabil di susul dengan satu kecupan.
Setelah melewati perjalanan yang agak macet, kini mobil yang membawa mereka sudah berdiri tepat di depan mansion Bagaskara.
Faris menatap kembali pada Nabil yang masih tertidur dengan pulas, karna tidak ingin membangunkan bumilnya, Faris memilih untuk menggendong wanita nya itu.
Tanpa merasa terganggu sedikit pun, Nabil malah semakin nyenyak tidur dalam pelukan sang suami.
Tanpa rasa lelah atau pegal, Faris menggendong Nabil sampai ke lantai tiga, setelah sampai di dalam kamar, cucu tunggal Bagaskara ini membaringkan sang istri dengan begitu pelan, setelah itu dengan sangat hati-hati Faris membuka niqab dan khimar sang istri, dia bahkan membuat sepatu yang di pakai Nabil.
Setelah menyelimuti wanita nya, Faris memilih untuk membersihkan dirinya, karna merasa badannya sudah sangat lengket.
...****************...
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di Apartemen, Diki tengah duduk di depan jendela kaca, tatapan nya mengarah pada matahari yang perlahan terbenam.
Hari ini Diki merasa sangat lelah, sebab Faris tidak masuk dan menyuruh nya menghandle semua pekerjaan.
Selain tubuh nya yang merasakan lelah, hatinya juga sedari tadi tidak tenang, terus saja memikirkan wanita yang akhir-akhir ini terus berada di samping nya.
Tangan nya sibuk membolak-balikkan ponsel, ragu antara ingin mengirimkan pesan pada Mira atau mengabaikan kegelisahan karna penasaran dengan yang di lakukan wanita yang dia sebut kucing liar.
Sudah beberapa kali dia menuliskan pesan singkat, akan tetapi karna ragu, dia lagi-lagi menghapus nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apa aku benar-benar sudah mencintai wanita itu?" tanya Diki pada dirinya sendiri.
"Jika aku mengirimkan pesan ini, apa yang akan dia pikirkan, apa dia akan marah?" lanjutnya lagi berargumen pada dirinya sendiri.
"Akhhhh ... Aku bisa gila jika menahan ini. Aku coba saja, karna aku tidak akan tau jika belum mencoba!" tukas Diki sudah bulat dengan tekad nya.
Kucing liar 💌: "Apa yang sedang kau lakukan, Kucing liar?"
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Ya elah, Diki! Aku kira kamu mau mengirimkan pesan apa gitu, ini cuma manggil aja, itupun dengan sebutan kucing liar. Wajar saja Mira ganas dengan mu, hehhe.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.