Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Dokter Riska.


__ADS_3

Melihat Nabil tergeletak di lantai tanpa sadarkan diri, bi Mila berteriak histeris.


"Nona, Nabil!" pekik nya sambil kakinya berlari mendekati istri tuan nya yang sedang terkulai lemas dengan mata terpejam.


"Nona, kenapa dengan Anda?" tanya bi Mila yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban.


Tidak ingin majikannya terlalu lama terbaring di lantai, bi Mila langsung memanggil beberapa maid untuk membantu nya mengangkat Nona mudanya yang sudah sangat dia sayangi.


Lima orang pelayan langsung menghampiri setelah mendengar teriakan dari kepala pelayan di rumah Bagaskara, Semua terbelalak saat melihat istri kesayangan tuan muda mereka terlihat lemah tidak berdaya.


Tanpa berbasa-basi lagi, mereka semua mengambil posisi untuk mengangkat tubuh Nabil yang sangat lemah.


"Di sini saja dulu, terlalu jauh jika kita membawa nya ke dalam!" tukas bi Mila, memberi instruksi agar meletakkan Nabil di sofa ruang tamu saja.


"Kenapa tidak memanggil pak Ahmad dan penjaga lainnya, untuk membawa Nona tidur di dalam kamar saja!" celetuk seorang maid yang masih terlihat muda.


Sedangkan yang lain sibuk mengelus lengan dan mendekatkan minya angin pada hidung Nabil, supaya Nona mereka segera sadar.


Bi Mila langsung menatap nya marah "Lebih baik di sini, daripada semua penjaga harus di hukum oleh Tuan Faris karna menyentuh kesayangan nya!" timpal bi Mila dengan nada ketus, bertahun-tahun mengabdi di kediaman Adinata, membuat nya tau sifat dari tuan nya.


Mendengar itu, pelayan yang memberi saran langsung menunduk "Maafkan saya, karna saya tidak tau!" pinta nya dengan nada ketakutan, mereka semua memang sangat menghormati bi Mila, selain karna sudah lama di sana, dia juga menjadi kepercayaan kakek dan juga Faris.


"Jaga Nona, saya akan memberitahu Tuan!" ucap bi Mila, lalu dengan tergesa-gesa mengambil ponsel, kemudian langsung memencet nomor tuan mudanya melalui telepon rumah.


"Iya, katakan!" terdengar suara dingin dari seberang, pertanda telpon nya sudah terjawab.


Bi Mila gelagapan "E a-anu, Tuan!' katanya terbata-bata, dia sungguh ragu untuk memberitahu pada Faris.


"Ada apa? Katakan dengan jelas!" tegas Faris tidak mau berbasa-basi.


"E a-anu, Tuan! No-nona Nabil!" ucapnya masih terbata.


"Apa yang terjadi pada istri ku, katakan dengan jelas, Bi...!" bi Mila menelan ludahnya secara kasar, saat mendengar suara Faris yang semakin dingin mengandung kekhawatiran.


"Nona pingsan, Tuan!" setidak nya bi Mila bernafas lega karena telah mengatakan hal tersebut, meski dia di buat terkejut dengan pekikan Faris.

__ADS_1


"Apa, istriku pingsan?" teriak Faris memekik telinga.


"Iya, Tuan! Selepas anda pergi, tiba-tiba Nona langsung tak sadarkan diri di ambang pintu!" jelas bi Mila dengan sangat terperinci.


"Saya akan segera pulang!" setelah mendengar itu, bi Mila mendapati sambungan nya langsung terputus, khawatir dengan keadaan Nabil, dia kembali mendekati wanita muda yang masih memejamkan mata di atas sofa itu.


Sedangkan Faris mulai panik, dia segera menyuruh Diki untuk putar balik ke rumah, tidak ingin membuang waktu, dia langsung menelpon seseorang.


"Tante...!" Panggil Faris dengan gusar, saat tidak berapa lama sambungan nya terjawab.


"Ada apa, Ris? Tumben pagi-pagi kamu telpon Tante...!" tanya wanita di seberang yang di sebut tante olehnya.


"Datang ke rumah sekarang juga, Tan! Bawa seluruh alat medis mu, atau bawa dokter-dokter terbaik di rumah sakit, sekarang juga!" perintah Faris tanpa basa-basi.


Mendengar itu, wanita di seberang yang berprofesi sebagai dokter bernama Riska ini, langsung mengernyitkan dahinya, biasanya Faris seperti itu jika keadaan jantung kakek sedang kumat, tapi sekarang kan, kakek di luar negeri, untuk apa dia ke sana, apa kakek sudah pulang sekarang, pikirnya yang tidak sempat bertanya.


"Siapa yang sakit? Apa ka..." katanya langsung terputus saat Faris memotong nya.


"Tidak ada waktu untuk mengatakan nya, aku tunggu Tante dalam lima belas menit sudah sampai di rumah.." imbuh Faris langsung memutuskan panggilan nya.


"Diki, bisakah kamu tambahkan kecepatan nya lagi, rasanya aku lebih cepat berjalan kaki!" protes FarisĀ  sekaligus memerintah.


Mendengar itu Diki tidak menjawab, tapi hanya menambah kecepatan nya, dia tau saat ini bos nya itu sedang tidak baik-baik saja, perasaan nya pasti kacau, perihal istrinya yang di kabarkan pingsan.


Sampai di rumah, ban mobil masih berputar, akan tetapi Faris sudah melompat keluar dan berlari agar segera sampai di dalam rumah. Sungguh perasaan nya tidak tenang, takut terjadi apa-apa dengan wanita yang sudah merebut hatinya.


Sampai di dalam ruang tempat sang istri di tidurkan, tatapan nya langsung langsung menangkap sang istri yang terkulai lemah dengan mata terpejam.


Perlahan ... Deret kakinya yang bergetar di langkahkan mendekati Nabil, dia merasa semakin khawatir dengan keadaan sang istri.


Tidak berkata sepatah katapun kepada siapapun, Faris dengan sigap mengangkat tubuh lemah sang istri, membawa nya masuk ke dalam lift, yang bertujuan langsung ke kamarnya.


Diki juga tidak tinggal diam, dia dengan sigap mengikuti dan membuka pintu untuk Faris agar lebih mudah saat mereka masuk ke dalam kamar.


Dengan sangat perlahan, Nabil membaringkan Nabil di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Keluarlah, Diki! Telepon Tante Riska lagi, katakan padanya untuk datang Sekarang juga!" celetuk Faris menyuruh asisten nya keluar dari dalam kamar nya, tentu saja Faris tidak ingin jika Diki melihat wajah Nabil saat dia membuka niqab sang istri.


"Baik...!" hanya satu kata terucap dari mulut Diki, selanjutnya dia langsung bergerak keluar.


Faris dengan telaten membuka kain Khimar dan kain penutup wajah Nabil, hatinya berdesir tak karuan saat melihat wajah Nabil yang begitu pucat. Dengan perlahan dia menggenggam tangan sang istri, mencium nya dengan sangat lama.


"Apa yang terjadi dengan dirimu, sayang ... Mengapa jadi seperti ini!" lirih Faris begitu dalam, tangan nya terus mengelus wajah yang matanya masih terpejam.


Sedangkan di luar, setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Diki dapat melihat orang yang dia tunggu akhirnya datang.


"Tante...!" panggil Diki begitu Dr.Riska tepat di hadapannya.


"Siapa yang sakit, Diki? Anggota dokter lainnya belum sampai, karna aku begitu buru-buru datang ke sini..." cerocos Dr.Riska pada asisten keponakan nya itu.


"Untung juga Tante datang tepat waktu, Tuan sudah menunggu anda untuk memeriksa istri nya!" jawab Diki dengan menarik nafas lega.


"Siapa yang sakit, apa Kakek susah pulang?" tanya dr.Riska yang masih belum mendapatkan jawaban.


"Istri nya Tuan, Tan...!" jawab Diki yang langsung membuat wanita di depannya melotot hampir mengeluarkan matanya.


"Apa yang kamu katakan, Diki? Apa Tante tidak salah dengar?" tanya dr.Riska belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja Diki katakan, soalnya dia tau betul, jika keponakan nya itu belum pernah dekat dengan wanita manapun.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak ku sayang.

__ADS_1


Dengan cara like komen dan juga Vote sebanyak-banyak.


__ADS_2