
Mendengar pertanyaan sang suami, Nabil kembali menarik nafas dalam-dalam, dia memang harus sedikit bersabar menghadapi sifat keras kepala Faris.
Meski mengantuk dan terasa pegal, tapi Nabil masih berusaha kuat, agar sang suami tetap merasa nyaman di pangkuan nya. Dia masih terus menyisir rambut sang suami dengan jari-jari tangan nya yang lembut.
"Mas tau, orang yang paling di sayangi Allah itu paling banyak ujian nya?" tanya Nabil, membuat Faris menatap heran pada nya.
"Jika sayang, maka tidak mungkin memberatkan nya, sayang!" jawab Faris sudah mulai mencerna ucapan sang istri.
"Memang itu kebenaran nya. Mas pasti tau bukan, jika Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, adalah rasul Allah, manusia paling di muliakan, Nabi yang paling di cinta Allah. Lantas, dengan begitu apakah hidup Nabi merasa senang setiap saat, apa Nabi tidak pernah di beri ujian? Jawaban nya itu salah, karna sejak dari kecil Nabi selalu mendapatkan cobaan dan rintangan dari Allah Subhana wa taala!" celetuk Nabil memberi masukan pada otak Faris yang seperti nya sedikit geser.
"Sejak dalam kandungan, ayah Nabi wafat, saat di lahirkan Nabi sudah menjadi yatim, kemudian setelah umur Nabi 6 tahun, musibah kembali menimpa dirinya, karna Ibu yang sangat dia sayangi juga wafat, meninggalkan dirinya, setelah itu Nabil tinggal bersama sang Kakek, yang sangat menyayangi Nabi, akan tetapi itu juga tidak bertahan lama, karna di umur Nabi memasuki delapan tahun, Kakek yang melindungi nya juga wafat, hingga Nabi tinggal bersama paman, untung nya sang Paman juga sangat menyayangi dan menjaga Nabi, hingga beliau menikah dengan Khadijah! Namun, cobaan nya tidak sampai di sana, karna istri yang sangat Nabi cintai juga wafat terlebih dahulu dari dirinya, kemudian di susul oleh paman Nabi, tahun itu di namakan tahun kesedihan bagi Nabi, karna di tinggalkan oleh orang yang sangat dia sayangi" sarkas Nabil panjang lebar, agar sang suami bisa memahami nya.
"Apa Nabi pernah marah, pernah kecewa? Nabi tau jika semua yang terjadi atas kehendak Allah, tidak ada yang mengetahui rencana Allah, maka dari itu Nabi tetap tegar dan sabar, Dari cerita Nabi, dapat di pahami jika kita hidup di dunia ini tidak lepas dari cobaan, jika Allah memilih mu menghadapi ujian yang berat, berarti Allah tau, kalau Mas kuat, dan juga mampu, karna Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuan nya!" cerocos Nabil lagi, dia berharap setelah ini hati suaminya bisa tersentuh, dan mau bertaubat kembali kepada Allah.
"Ingat, Mas! Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan Kematian, kita hanya menunggu waktu nya saja, kapan dan dimana!" imbuh nya lagi, ntah masih di dengar oleh Faria atau tidak, karna dia melihat suaminya itu sudah memejamkan mata, mungkin dia sudah tertidur, karna melihat dari deru nafasnya yang sudah teratur.
Sekedar Nabil mendongak, dia menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, kenyataan malam ini sungguh membuat nya terkejut, karna suaminya seorang yang tidak mempercayai Tuhan.
"Ya Allah ... Apa ini juga cobaan bagi hamba, dulu hamba berharap mempunyai suami seorang ustadz yang bisa membimbing hamba ke jalan mu, akan tetap takdir mu berkata lain, hamba engkau berkenan kan dengan lelaki yang bahkan meragukan tentang dirimu, bagaikan dia bisa membimbing hamba, jika memang tugas hamba membawanya kembali kepada mu, maka kuatkan lah hati hamba, dan juga ketuk lah pintu hatinya, agar bisa mengikhlaskan kepergian Mama dan Papa!" batin Nabil dalam sayup-sayup, karna dia sudah sangat mengantuk, akhirnya dia ikut tertidur, walaupun dengan keadaan duduk bersandar, dan Faris dalam pangkuan nya.
...****************...
Pagi hari sinar mentari mulai masuk, kicauan burung terdengar bersahutan, suara kegaduhan kota pun mulai terdengar dari kendaraan yang terus melintas jalan raya menunju tujuan mereka masing-masing.
Orang yang berada di dalam kamar dengan posisi tidur menyamping memeluk perut seseorang perlahan membuka matanya. Yang pertama kali dia lihat adalah wajah sang istri yang masih memejamkan mata meski dalam keadaan duduk.
__ADS_1
Faris langsung bangun, perlahan dia merebahkan tubuh sang istri di atas bantal, agar Nabil bisa tidur dengan nyenyak, dia merasa kasihan, karena istri nya harus tidur secara duduk untuk membuat dirinya nyaman, terlebih mereka hanya tertidur sebentar, karna dirinya tidak mau berhenti untuk menanam bibit unggul pada rahim sang istri.
"Tidurlah, sayang ku! Pasti kamu sangat capek!" gumam Faris begitu lirih, kemudian mencium kening Nabil dengan begitu lama.
Sejenak, Faris terdiam dia kembali mengingat mimpi yang semalam dia alami.
Faris baru saja memejamkan matanya, tapi sentuhan seseorang di pipinya kembali membuat dirinya membuka mata, dan betapa terkejutnya dia melihat jika orang yang sedang mengelus lembut wajah nya adalah wanita dan lelaki yang sangat dia cintai.
"Ma-mama, Papa" ucap Faris, Hana danĀ Bagaskara hanya tersenyum kepada putranya itu.
"Iya, sayang! Ini Mama!" jawab Hana.
Faris yang memang sedari dulu merindukan mamanya, langsung memeluk Hana dengan begitu erat. Ini momen yang sangat dia rindukan, diaman kedua orang tuanya membangun dirinya di kamar seperti yang dulu mereka lakukan.
Hana kembali tersenyum, lalu meraup wajah Faris dengan kedua tangan nya.
"Mama dan Papa selalu berada di dekat mu, Nak! Jangan khawatir kan Mama, karna Mama dan Papa sudah hidup bahagia sekarang, yang perlu kamu pikirkan sekarang adalah tanggung jawab mu, ingat Nak sudah ada seorang wanita yang menjadi bagian hidup mu, sayangi dia, karna dia lah wanita yang tulus mencintai mu!" ucap Hana sambil mengelus rahang Faris.
"Iya, Nak! Ikhlaskan kami, kejarlah kebahagiaan mu bersama dengan nya, dia lah kebahagiaan mu sekarang ini, jangan sakiti dia, kelak dia lah wanita yang akan membawa mu bertemu dengan kami!" timpal sang Papa.
"Sekarang kami akan pamit, anak Mama sudah ada yang merawat dan menjaga, Mama hanya berharap kamu melupakan dendam yang ada pada dirimu, Nak! Karna kami sudah tenang di tempat baru kami!" tukas Hana lagi.
Keduanya sama-sama memeluk Faris, lalu perlahan mereka berjalan meninggalkan Faris yang tidak bisa menggerakkan kakinya di atas kasur.
Faris berusaha keras mengangkat kakinya untuk mengejar kedua orang tuanya yang hampir hilang di balik pintu.
__ADS_1
Faris histeris, memanggil Mama dan Papa nya yang sudah menghilang ntah kemana.
Bersamaan dengan teriakan, sang istri langsung memeluk nya, mendekap agar dia merasa tenang.
"Mimpi yang terasa begitu nyata!" gumam Faris lagi, kemudian dia melihat pada wanita di sebelah nya.
"Dia memang wanita yang sangat istimewa, Ma! Faris berjanji tidak akan melepaskan atau menyakiti dirinya lagi!" lanjut nya lagi.
Semua bayangan semalam berputar di kepalanya, bagaimana sang istri dengan sabar menasehati dirinya, meski akalnya masih tidak ingin memahami, tapi hati kecilnya tersentuh dengan apa yang di cerita kan Nabil semalam.
.
.
.
.
~Bersambung.
Maaf ya, bila alur nya tidak menarik, karna karya ini memang menceritakan tentang wanita yang mengubah lelaki yang tidak mempercayai agama, maka dari itu cerita ataupun contoh sengaja aku hadirkan di sini.
Semoga kalian suka dan juga dapat mengambil manfaat nya.
Tinggalkan like, komen dan vote, sebagai tanda kalian sukaš„°.
__ADS_1