Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Melihat kesungguhan mu.


__ADS_3

Suasana siang hari dengan terik matahari yang begitu terasa panas, bahkan angin sepoi-sepoi yang bertiup hingga membuat gelombang rambut kemanapun arah angin berhembus.


Perasaan panas, deg-degan bahkan keringat dingin sudah mulai keluar dari pori-pori kulit seorang lelaki yang berdiri di ujung bangku panjang di taman kota, dengan ragu dia melihat wanita dengan pakaian tertutup yang juga berdiri di ujung kursi lainnya.


Diki menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan nya secara kasar, sebelum menjawab diapun mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut, menopang kedua tangan dengan kedua lututnya.


"Kamu tau sendiri aku orang yang seperti apa, aku tidak ingin berbohong padamu agar kamu menerima ku, aku memang bukan orang yang taat dalam ibadah, bahkan aku sudah sangat lama tidak mengerjakan solat,"


"Itulah yang ada pada diriku, aku mengatakan yang sebenarnya, lalu apa yang tanggapan mu? Apa kamu menolak ku karna itu, apa kamu tidak bisa menerima apa yang ada pada diriku?" tanya Diki lirih.


Mira menggeleng sambil merapikan niqab nya yang tertiup oleh angin "Bukan tidak bisa, tapi untuk memilih seorang imam memang di bolehkan, karna dia yang akan membimbing aku kelak, jika kamu melupakan kewajiban mu, bagaimana kamu akan bertanggung jawab atas diriku, jika kamu melupakan Allah, tidak mungkin jika nanti kamu juga akan melupakan diriku,"


"Dalam hidup yang utama adalah solat, jika yang utama saja sering kamu lupakan, bagaimana dengan yang lain nya?"


"Tapi bisakah kamu menerima ku dan mengajarkan ku untuk mendekati diri kepada Tuhan?" tanya Diki.


"Solat itu sangat penting, dia yang akan membimbing mu ke jalan yang lurus, dia juga yang akan mengharmoniskan sebuah keluarga, dan solat lah jawaban di setiap masalah. Jadi, solat lah karna Allah, jangan karna kamu menginginkan sesuatu atau karna seseorang, karna itu tidak akan ada hasilnya, setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, maka kamu akan kembali meninggalkan nya,"


"Solat lah karna kesadaran mu dan juga karena kemauan mu, aku tidak akan memaksamu, tapi untuk menyebrang lautan kita harus menaiki kapal yang nahkoda nya sudah siap dan memenuhi syarat dan kewajiban nya,"


"Hari ini aku akan kembali ke pesantren, mungkin bulan depan aku akan pulang kembali, jika kamu sudah merasa siap dan sempurna melaksanakan solat mu, maka temui aku lagi di sini di tanggal satu bulan nanti,"


"Pesanku hanya satu, jangan melakukan nya karna seseorang, karna jika seperti itu, saat kamu tidak bisa mendapatkan nya, maka kamu akan terluka, dan kembali ingkar kepada Allah, tapi lakukan dengan ikhlas dan berserah diri, karna jika kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, kamu tetap akan selalu bersyukur. Saya pamit pulang dulu, Assalamualaikum!" setelah mengucapkan salam, Mira langsung pergi meninggalkan Diki yang di landa beribu pemikiran.


Diki memejamkan matanya saat sang wanita sudah menjauh, tangannya menggenggam erat kotak merah yang sedari tadi dia siapkan, rasanya begitu sesak menerima setiap kata yang Mira ucapkan, bukan karna sakit hati. Akan tetapi dia ragu, takut jika tidak mampu melaksanakan kewajiban nya.


Diki juga bangun, asisten kepercayaan Faris ini melangkahkan kakinya dengan gontai, meninggalkan tempat yang mungkin akan dia datangi sebulan ke depan.


...****************...


Sedangkan di kantor, Nabil tengah menyuapi sang suami yang begitu manja hari ini, sedari tadi Faris hanya bergelayut di lengan sang istri, tangan nya hanya memainkan wajah cantik Nabil, kadang hidung, kadang pipi tak tinggal juga memainkan bibir sang istri dengan tangan nya.

__ADS_1


"Mas ... Makan dulu jangan seperti ini." protes Nabil yang merasa risih dengan kelakuan sang suami.


"Aku sudah kenyang, aku hanya ingin kamu memelukku saja!" rengek Faris, Nabil tersenyum melihat Faris yang bertingkah layaknya anak kecil. Tidak ada bantahan, Nabil pun meletakkan sendok dan juga kotak makan di atas meja, kemudian dia langsung memeluk sang suami, membawa sang lelaki bersandar di dadanya.


"Nyaman sekali jika seperti ini, sayang!" gumam Faris, Nabil hanya tersenyum.


Beberapa saat dalam posisi seperti itu, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara pintu yang di buka, Nabil yang sudah membuka niqab begitu panik, sementara Faris dengan sigap menarik Nabil dalam dekapan, menyembunyikan wajah sang istri di dalam dadanya. Sambil memakaikan kembali kain penutup di wajah sang istri, Sungguh dia tidak rela jika ada orang lain yang melihat kecantikan sang istri.


Setelah selesai memakaikan niqab untuk Nabil, kedua pasutri ini langsung melihat ke arah pintu, sudah ada Diki yang berdiri begitu lemas.


"Apa kamu tidak tau sopan santun saat masuk ke dalam ruangan ku, hah? Apa kamu sudah bosan hidup?" tanya Faris dengan suara meninggi, dia kesal karna hampir saja Diki melihat wajah Nabil.


Diki tidak menjawab, dia malah terus melangkah masuk, langkahnya yang gontai membuat Nabil mengerutkan keningnya.


"Hei, apa kamu tidak punya kuping? Apa kamu bisu, hah?" tanta Faris lagi yang sudah geram karna melihat Diki tidak merespon ucapan nya.


Diki kini sudah duduk di sofa di depan Faris dan Nabil, kepalanya hanya menunduk, dengan wajah yang terlihat lesu.


"Kamu sudah jelek, jangan buat wajah mu seperti itu lagi," cerca Faris yang masih terus mengatai Diki.


"Sudah, Mas! Kelihatannya, Kak Diki lagi ada masalah!" timpal Nabil menyuruh Faris berhenti mengintimidasi Diki.


Mendengar itu, Faris diam dia hanya membiarkan sang istri yang bertanya.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Nabil.


"Dia kembali ke pesantren hari ini," jawab Diki bernada lemah.


"Dia menolakmu? Aku memang sudah menduganya," imbuh Faris di iringi dengan tawa merekah, tapi hanya sesaat, karna seketika dia terdiam kembali saat melihat tatapan horor dari Nabil dan juga Diki.


"Baiklah, aku hanya bercanda!" sambung Faris lagi.

__ADS_1


"Dia kembali ke pesantren hari ini, dia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan ku, dia menyuruh ku solat, jika aku sudah melaksanakan kewajiban ku, maka aku boleh menemui dirinya saat dia kembali lagi dari sana." jelas Diki pada Nabil.


"Jadi ... Apa Kak Diki merasa keberatan?" tanya Nabil, dia tidak menyalahkan sahabat nya, karna apa yang di lakukan Mira memang benar, sahabat nya itu pasti tidak ingin seperti dirinya yang dinikahi hanya karena sebuah taruhan.


Diki mengangkat kedua bahunya "Aku juga tidak tau, Bil! Mungkin saja ini cara dia menolak ku."


Nabil menggeleng "Bukan menolak, akan tetapi dia sudah memilih Kakak sebagai pendamping hidup nya, tapi untuk itu dia ingin Kakak membuktikan kesungguhan Kakak,"


"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Diki pada istri bos nya itu.


"Karna aku juga perempuan, jadi aku tau apa yang di inginkan oleh perempuan, lagi pula aku mengenal Mira dengan sangat baik, di lihat dari tingkah nya dia juga sepertinya menyukai kakak, tapi dia takut akan kembali kecewa, dari itu dia ingin melihat kakak apa benar-benar serius dengan nya atau tidak,"


"Pilihlah pasangan yang membawamu ke jalan kebaikan, karna dia lah yang tulus mencintaimu!"


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Nabil ... Salut deh sama kamu.

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2