
Di kantor...
Faris sedang memeriksa setiap laporan yang di berikan oleh karyawan nya. Karyawan yang di tugaskan menyelesaikan rancangan yang di berikan Faris dan juga yang di percayai Faris untuk mengikuti tender, setiap kali ada perusahaan yang mengadakan nya. Mereka di bagi menjadi tiga kelompok, A, B, dan C, salah seorang dari setiap kelompok mereka sudah menyerahkan pekerjaan mereka kepada Faris, agar bisa di tanda tangani oleh Presdir perusahaan Bagaskara.
"Bagaimana pekerjaan wanita itu selama dua hari di sini, Diki?" tanya Faris kepada sang asisten yang juga sibuk dengan layar kaca di depannya.
Faris bertanya tentang Talia yang baru dia terima di perusahaan nya, Talia di masukkan ke dalam kelompok A.
Diki hanya menoleh sekejap ke arah Faris "Lumayan untuk karyawan baru!" jawab Diki santai, semua karyawan memang tidak pernah lepas dari pantauan Diki, karna Faris memang sangat mempercayai asisten cueknya itu. setelah menjawab, Diki kembali fokus dengan apa yang ada di hadapannya,
"Hem ....! Diki!" panggil Faris lagi.
"Iya, Tuan!" jawab Diki yang masih fokus pada layar di depannya.
"Besok kita akan ke kota B, untuk melihat lahan tanah yang sudah Rangga jual kepada kita!" celetuk Faris memberi usulan.
Diki berhenti dari pekerjaannya, lalu melihat ke arah Faris "Apa kamu benar-benar akan menanam gandum dan di jadikan minuman di sana?" tanya Diki mengintimidasi.
"Iya, besok kita pantau, sambil mencari para pekerja untuk mengolah tanah itu lalu menanam gandum seluas tanah tersebut," jawab Faris dengan begitu yakin.
"Tapi tua-!"
"Tidak ada penolakan Diki, besok kamu carikan buruh agar mau bekerja di perkebunan kita, dan yang terpenting mereka terpercaya dan bisa menjaga rahasia!" ucap Faris memotong ucapan Diki yang ingin protes.
Mendengar perintah Faris, Diki hanya bisa mengangguk dan pasrah mengikuti kehendak sang atasan.
...****************...
__ADS_1
Jam istirahat, Nabil dan Mira keluar dari dalam kelas, saat ini mereka tengah melangkah menuju kantin kampus. Sampai di sana, keduanya langsung duduk di tempat biasa, dimana tempat yang tidak terlalu banyak orang. Bagi mereka yang menggunakan niqab, memang lebih nyaman jika makan di tempat sepi, karna lebih leluasa saat memasukkan makan ke dalam mulut mereka.
"Bil, aku pesan makanan nya dulu ya!" ujar Mira kepada sahabat di depan nya.
"Iya, Ra! seperti biasa ya!" jawab Nabil mengiyakan.
Mira hanya mengangguk, dan melangkah pergi, sedangkan Nabil yang duduk di kursi panjang juga dengan meja panjang, hanya melihat kuku jarinya, sambil menunggu sahabat nya kembali dengan makanan pesanan mereka.
"Tara ... Nasi goreng telur nya ibu ustadzah!" celetuk Mira sambil meletakkan nampan berisi dua piring nasi goreng kesukaan mereka, satu jus jeruk dan satunya lagi es lemon tea.
"Terimakasih, bu ustadzah Mira" balas Nabil juga tidak mau kalah. Mereka sama-sama terkekeh setelah mendengar ucapan mereka masing-masing.
"Permisi, boleh saya duduk di sini juga?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba datang juga membawa nampan berisi bakso dan jus jeruk.
Nabil dan Mira lagi-lagi saling tatap, keduanya ingat, jika lelaki yang memakai tas ransel itu adalah lelaki yang tadi pagi menabrak Nabil.
Dan yang membuat mereka terkejut, ternyata lelaki itu satu jurusan dengan Nabil dan Mira, baru tadi mereka di perkenalkan dengan siswa baru itu.
Sedangkan Nabil dan Mira sudah saling memberi kode, mereka sebenarnya keberatan mengizinkan nya, mengingat dia adalah seorang lelaki, tapi tidak mungkin juga keduanya langsung mengusir lelaki itu. Sangat tidak sopan bukan.
Nabil acuh, dia akhirnya menyerahkan pada Mira, karna tidak tega menolak, akhir Mira mengangguk kecil sebagai tanda persetujuan, meski dengan berat hati.
Tanpa membuang kesempatan, lelaki itu langsung duduk walaupun dengan jarak yang cukup jauh. Karna kursi yang mereka duduki memang berukuran panjang.
"Kenalkan nama saya Abiyan Pratama!" ucap nya di sela-sela suapan nasi Mira dan Nabil.
"Saya Mira, dan ini sahabat saya, Nabil! iya saya sudah tau nama anda, kan tadi sudah memperkenalkan diri waktu di kelas!, " tukas Mira juga, tanpa basa-basi.
__ADS_1
Setelah itu, keduanya saling memberi kode, supaya cepat menghabiskan makanan mereka, agar mereka bisa cepat-cepat pergi dari sana.
"Tempat tinggal kalian di mana, ukhti?" tanya Abiyan terus menatap ke pada Nabil, membuat keduanya terbatuk.
Ukhuk ... Ukhuk ....
Tidak ingin lagi berlama-lama, bukan nya menjawab, Nabil langsung menarik tangan Mira untuk minggat dari tempat duduk mereka.
"Maaf Tuan, Abyan, kami harus pulang sekarang!" tukas Nabil, dengan hormat dia meminta maaf, lalu melangkah menjauh dari lelaki yang mungkin seumuran dengan nya.
Abiyan terdiam, suara Nabil begitu merdu di telinga nya, sikap Nabil membuat nya semakin penasaran.
"Kenapa mereka begitu ketakutan melihat ku, apa wajah ku tidak lolos seleksi bagi mereka, padahal banyak wanita yang hampir pingsan melihat ketampanan ku!" gumam Abiyan sendiri sambil memegang pipinya.
Memang benar yang dia katakan, dia lelaki yang terbilang tampan, banyak wanita yang menginginkan dirinya, tapi Nabil, bahkan wanita itu sama sekali tidak melirik terhadap nya. Pikir Abiyan.
"Kenapa aku semakin penasaran dengan sosok wanita itu, aku harus mencari taunya" lanjut nya lagi, setelah itupun, dia mengambil tas ransel nya, lalu ikut pergi dari kantin.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Kalian jahat, masak akunya di suruh up banyak, tapi nggak ada satupun dari kalian yang ngasih aku vote, like dan komen nya cuma sedikit.
Jangan ketinggalan dukungan nya, Reader ku ter❤️.