Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Maafkan, Talia, Pa.


__ADS_3

Mendengar pertanyaan sang Bunda, jantung Mira dan Diki langsung berdetak cepat. Jika Mira takut akan di marahi karna pergi ke Apartemen lelaki dan mengganti pakaian di sana, lain halnya, Diki yang takut jika ayah dan bunda tau jika dia meninggalkan Mira hingga Mira basah kehujanan.


"Tadi saat lagi di taman, hujan langsung turun dan kami sempat basah, maka dari itu saya mengajaknya di toko baju terdekat dan mengganti nya, supaya Mira tidak masuk angin," elak Diki mencari alasan.


"Benar kan, Mira?" Mira yang sempat bingung dengan jawaban Diki pun ikut mengangguk.


"I--iya, Yah, Bunda!" terpaksa Mira harus berbohong karna ulah Diki, matanya terus melototi Diki.


"Oh ... Begitu ceritanya, tapi kalian tidak ngapa-ngapain kan?" tanya bunda lagi mengintimidasi.


"Ya nggak lah, Bunda! Apa Bunda tidak bisa mengenal anakmu?" tanya Mira sebagai bentuk protes karna pertanyaan bunda nya.


"Ya siapa tau aja kan, kalian khilaf,"


"Astaghfirullah, Bunda...." Rengek Mira yang merasa malu karna ucapan sang bunda.


"Jadi, Nak Diki. Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan, karna Ayah dan Bunda tidak ingin kalian bertunangan lagi, akan tetapi akan langsung menikah," tanya Ayah Mira membuat sang putri terbelalak dan Diki tersenyum senang.


"Secepatnya, Ayah! Aku juga tidak ingin lagi menunda,"


"Tapi beberapa hari lagi Nabil mengadakan acara tujuh bulanan nya, dia juga mengundang kita semua," sarkas Bunda.


"Kita tunggu setelah mereka mengadakan acara tujuh bulanan, Nabil, baru setelah itu kita bicarakan lagi tentang hari pernikahan kalian," timpal ayah lagi.


"Apa secepat itu?" tanya Mira yang sedari tadi hanya menyimak.


"Iya," jawab Ayah, Bunda dan Diki begitu kompak, membuat Mira terkejut.


"Kenapa mereka jadi aneh gini ya," batin Mira melihat sikap orang tuanya.


...****************...


Sementara Mira dan Diki lagi membahas hari kebahagiaan mereka dengan kedua orang tua, Mira. Lain halnya dengan pasutri yang akan menjadi abi dan ummi ini.


Di rumah mereka tengah membahas masalah acara yang akan mereka adakan.


"Mas kita undang anak yatim piatu dari yayasan amal saja, undang semuanya, biar anak-anak kita mendapatkan doa yang banyak," usul Nabil yang tengah duduk sambil berpelukan, tak lupa kopi dan susu hangat buah dan beberapa cemilan yang menemani mereka sambil melihat rintitan hujan yang kini sudah mulai reda.


"Boleh sayang, apapun yang kamu inginkan, aku akan penuhi, selain itu apa lagi?" tanya Faris pada wanita nya.


"Cuma tahlilan, dan doa bersama, Em ... Sekaligus undang ustadz biar dia memberikan tausiyah,"


Faris hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar usulan Nabil yang terlihat begitu antusias. Tangan nya melingkar sempurna di perut besar Nabil, hingga mereka di kejutkan dari tendangan dalam perut sang istri.


"Dia nendang, Mas!" celoteh Nabil terlihat kegirangan.

__ADS_1


"Iya, sayang! Mereka selalu nendang kalau tangan Abi mereka sedang mengelus perut mu sayang,"


"Mungkin mereka ingin dengar Abi nya mengaji atau bersolawat, Mas!"


Faris tersenyum, dia sudah menduga, istri nya pasti akan menyuruh dirinya untuk mengaji atau bersolawat.


Lagi dan lagi, tendangan dari dalam perut besar Nabil kembali terasa "Mas, ayo cepat mengaji atau bersolawat, nanti mereka ngambek loh," ujar Nabil lagi meminta pada Faris.


"Padahal suara kamu dan bacaan kamu lebih bagus lagi, sayang! Kenapa tidak kamu saja," elak Faris, akan tetapi tendangan dalam perut Nabil semakin terasa.


"Ih ... Mas, mereka itu mau kamu, cepat deh, udah geli dan ngilu nih rasanya," pekik Nabil, mau tidak mau akhirnya Faris melantunkan solawat di depan perut Nabil, hingga anak dalam perut sang istri tidak lagi melakukan pergerakan.


"Nah kan, mereka diam, mulai sekarang kamu harus selalu bacakan Al-Qur'an di perut ku tiap pagi dan petang. Pagi baca surah Yusuf, petang nya kamu baca surah maryam, supaya anak kita tampan atau cantik, dan menjadi anak yang pintar juga berbakti kepada kita, dan mempunyai akhlak mulia." celetuk Nabil dengan senyuman merekah di bibirnya.


"Sebisa ku sayang, aku akan berusaha menjadi suami dan Abi yang baik untuk anak-anak kita," imbuh Faris sambil terus mendekatkan wajahnya dengan wajah Nabil.


Cup...


Faris yang gemas melihat senyuman Nabil langsung ******* bibir manis sang istri yang telah membuat nya candu.


Ciuman Faris begitu lembut tanpa menggebu-gebu, tidak menuntut akan tetapi begitu di nikmati oleh Nabil, hingga dia membalas dan mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Faris bangun tanpa melepaskan ciumannya, perlahan dia meletakkan Nabil di atas tempat tidur.


"Sayang, aku mau!" pinta Faris dengan mata yang sudah sayu dan suaranya sudah serak.


Tidak ada kata bantahan, kapan pun yang dia inginkan, Nabil selalu melayani nya.


Akhirnya siang yang dingin karna gerimis kini menjadi panas di atas ranjang Nabil dan Faris.


...****************...


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di markas. Talia sudah di nyatakan sembuh, mental nya sudah kembali, dia nekad untuk menemui Papa nya di markas, meski anak buah Faris sudah menahan nya, akan tetapi Talia tetap nekad.


"Dimana Papa saya?" tanya Talia setelah melihat ruang penyekapan Papanya ksong.


"Dimana Papa saya?" tanya Talia lagi saat melihat tidak ada yang merespon.


"Apa kamu benar-benar ingin melihat Papa mu?" suara bariton yang tiba-tiba terdengar, yang ternyata orang itu adalah, Max.


Mendengar pertanyaan itu, tentu saja Talia mengangguk. Max yang melihat itu langsung menarik tangan Talia


"Kita mau kemana?" tanya Talia saat Max menyuruh Talia masuk ke dalam mobil.


"Ingin melihat Papa mu itu kan?" tanya Max begitu tegas, wajahnya terlihat begitu kejam.

__ADS_1


Talia hanya mampu mengangguk sambil menelan kasar ludah nya, diapun ikut masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu.


...****************...


"Ngapain kita ke sini? saya hanya ingin melihat Papa saya, kenapa kamu membawa saya ke tempat ini?" tanya Talia yang bingung melihat Max yang membawa dirinya ke sebuah makam kuburan.


"Jangan banyak bicara," tegas Max, dia kembali menarik tangan Talia dan menunjukkan satu kuburan dengan batu nisan keramik bertuliskan nama papa nya Talia.


Seketika Talia terduduk di tanah yang basah, tubuhnya bergetar melihat kuburan di depan nya.


"Pa-papa," lirih Talia, tangan nya yang bergetar terangkat dan mengusap tanah yang satu bulan lalu di kuburkan papanya.


"Papamu bunuh diri di saat mau di bawa ke kantor polisi, untung nya Tuan kami baik mau menguburkan Papa mu layaknya seorang manusia, meski tau apa yang sudah Papa mu lakukan," ucap Max yang masih berdiri gagah dengan kacamata hitam menutupi matanya.


"Ap- apa salah Papa saya?" suara Talia sudah serak, air matanya terus keluar.


Mentalnya baru saja sembuh, melihat kuburan yang bertuliskan nama papa nya, membuat jiwanya kembali gantar.


Akan tetapi sebisa mungkin dia melawan rasa takut dan guncangan jiwanya, dia tidak ingin nantinya menjadi orang stres.


"Kesalahan Papa mu tidak bisa hitung, dia tidak hanya melakukan satu kesalahan, akan tetapi semua yang menimpa pada Tuan Faris, dia lah dalang nya,"


"Jangan kamu tangisi lagi, jika kamu tidak mau depresi yang kedua kali. Hiduplah dengan tenang, Tuan Faris dan istri nya sudah memaafkan mu. Untung saja mereka orang baik, jika aku tidak akan memaafkan kesalahan mu atau Papamu itu,"


"Pergi lah sejauh mungkin, jangan pernah mengusik keluarga Bagaskara lagi jika ingin jiwa dan raga mu selamat." setelah meninggalkan pesan untuk Talia, Max langsung pergi, meninggalkan Talia yang masih menangis dan memeluk batu nisan Papa Robert.


"Maafkan, Talia, Pa!"


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Hem ... Semoga Talia mengambil hikmah dari ini semua.


Jangan lupa ya like, komentar sama vote nya, aku tunggu loh, heheheh.

__ADS_1


__ADS_2