
Sudah beberapa hari ini Faris selalu memantau Nabil, dia selalu melihat saat Nabil pergi mesjid besama sang aby.
Faris sempat tercekat saat melihat lelaki paruh baya yang pergi bersama Nabil yang dia yakini adalah ayah dari wanita incaran nya.
Tekad Faris malah semakin besar untuk menikahi Nabil, bukan hanya karna taruhan, tapi dia menikahi wanita itu karna mempunyai alasan yang tidak di ketahui selain dirinya sendiri.
"Diki, siapkan aku sarung, peci, baju koko untuk ku!" perintah Faris yang langsung membuat Diki tercekat merasa kaget dengan permintaan Faris.
Tentu saja Faris tau semua jenis pakaian orang muslim saat melaksanakan kewajiban nya, karna pada dasarnya Faris adalah seorang yang patuh dan sering mengerjakan solat bersama kedua orang tua nya, tapi karna merasa kecewa dan juga shock saat kedua orang tua nya merenggang nyawa tepat di hadapannya, membuat Faris yang kala itu masih remaja menjadi pembangkang dan tidak lagi mempercayai agamanya.
"Untuk apa anda meminta pakaian itu Tuan?" tanya Diki kepada atasan nya itu.
"Mau ke kantor!" ujar Faris datar.
Diki lagi-lagi melebarkan matanya, tidak mempercayai dengan apa yang dia dengar.
"Tuan, bukan kah pakaian itu untuk pergi ke mesjid!" tukas Fero lagi.
"Sudah tau masih bertanya!" cibir Faris kepada asisten pribadinya itu.
Diki merasa bodoh sendiri dengan semua ucapan Faris yang seolah mempermainkan dirinya.
...****************...
Petang menjelang, magrib pun datang... Faris sudah siap dengan pakaian muslim nya, setelah berkelahi dengan sarung nya, akhirnya kain bercorak petak itu kini bertengger di pinggang nya.
__ADS_1
Diki pun ikut serta berjalan bersama Faris ke mesjid, saat mereka melihat Nabil berjalan melewati rumah Faris, keduanya turut mengundurkan langkah.
Tapi anehnya saat ini wanita itu berjalan sendiri, tanpa ada ayah yang bersamanya, Faris dan Diki memantau, jika Nabil benar-benar pergi sendiri tanpa di dampingi oleh aby nya yang selalu bersama dengan Nabil.
Kini ke duanya berjalan tepat di belakang Nabil, Faris mempercepat jalan nya, ingin mensejajarkan langkah mereka bersama Nabil.
"Assalamualaikum...!" ucap Faris sukses membuat Nabil tersentak kaget.
"Waalaikum salam!" jawabnya dengan suara lembut.
Diki hanya diam tanpa ekspresi, sebenarnya Diki sangat tidak setuju mengikuti rencana dan drama yang di rencanakan Faris.
Namun, apalah daya dia yang hanya seorang asisten, saat atasan yang berkuasa itu memerintah, dia hanya bisa pasrah dan mengikuti semua kekonyolan ini.
"Apa saya boleh bertanya ukhti?" tanya Faris dengan menunjukkan sikap sopan santun nya, seolah dia seorang ustadz yang sangat paham dan menghargai manusia yang lain, tapi nyatanya manusia lain hanya lah sebagai debu di mata cucu tuan Bagaskara ini.
"Saya orang baru di sini, saya mau ke masjid, tapi saya belum tau itu di mana!" tukas Faris membuat alasan yang kurang masuk akal dipikiran Nabil.
Belum sempat Nabil menjawab, namun suara azan sudah berkumandang yang berasal tidak jauh dari mereka.
"Saya rasa anda sudah mengetahui di mana mesjid nya, Tuan!" tukas wanita bercadar itu dengan sopan.
"Kalau begitu mari kita berjalan bersama!" ajak Faris sontak membuat Nabil mundur.
"Silahkan anda duluan Tuan, sangat tidak baik jika wanita yang berjalan di depan!" tolak Nabil dengan begitu halus.
__ADS_1
Tapi Faris berdecak kesal di dalam hati, perihal sikap Nabil yang menurutnya begitu sok.
Faris dan Diki berjalan di depan, dengan Nabil berjalan di belakang, sebenarnya Nabil merasa tidak nyaman ketika harus berjalan dengan lelaki tampan di hadapan nya.
Saat Faris berbicara, sedikit tidak nya Nabil melihat perawakan Faris, namun dia dengan cepat beristighfar dan membuang pikiran buruknya.
Selesai solat magrib, seperti yang sudah dia lakukan beberapa hari lalu, Nabil mengajari ibu-ibu di sana mengaji sambil menunggu waktu solat isya datang.
Faris dengan sangat terpaksa ikut duduk dalam mesjid menunggu Nabil pulang, rasa panas dan mengantuk hinggap pada dirinya, dia benar-benar tidak nyaman dengan rasa yang menyerang dirinya saat ini.
...****************...
Solat isya selesai, Nabil berencana akan segera pulang, langsung saja Faris dan Dan mengikuti nya dari belakang.
"Ukhti, dimana anda tinggal?" tanya Faris lagi-lagi membuat Nabil terkejut.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.