
Nabil dan Faris sama-sama terkejut mendengar berita yang Max sampai kan melalui Jane.
"Bagaimana itu bisa terjadi, Max? Kenapa kalian lalai hingga kalian tidak tau kalau lelaki itu bunuh diri?" tanya Faris menggebu-gebu.
Nabil sudah menutup mulut saking terkejutnya, dia bahkan belum bertemu dengan pelaku pembunuh kedua mertuanya, akan tetapi orang itu lebih dulu mengakhiri hidupnya sendiri.
Malam sebelum kejadian, di markas tempat penyekapan orang-orang pengkhianat Faris.
Max baru saja memberitahu Faris bahwa polisi akan menjemput Robert untuk di interogasi di kantor polisi, sekaligus memberikan hukuman yang pantas untuk Robert.
Sementara Robert yang mendengar nya langsung gemeteran, dia terlihat sangat ketakutan, bukan karna akan mati. Tapi dia mengingat ucapan Faris, mungkin saja anaknya Talia akan bertambah depresi atau bahkan menjadi gila karna malu jika di ejek anak dari seorang pembunuh dan koruptor.
Itu hal yang sangat wajar terjadi, karna Robert juga pengusaha terkenal, dan Talia adalah anaknya yang juga sangat terkenal dan di akui cantik, hanya Faris yang tidak melirik Talia sedikitpun.
Tidak ingin orang lain anak satu-satunya menjadi korban, Robert langsung memikirkan cara.
"Hei kamu, keluarkan saya dari sini sebentar, saya mau ke kamar mandi." pinta Robert pada penjaga yang berdiri di dekat jeruji besi tempat dia di sekap.
"Hah ... Buat susah saja," hardik salah satu penjaga. Akan tetapi dia langsung membuka dan memanggil teman-temannya untuk berjaga-jaga.
Tau jika Robert adalah lelaki yang licik, mereka sampai merantai tangan dan kaki Robert, agar dia tidak bisa kabur.
Sampai di dalam kamar mandi, Robert melihat benda yang bisa membantu dia bebas dari hukuman nya.
Sudah beberapa saat dia di sana, akan tetapi Robert tidak menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan, hingga suara para penjaga mengagetkan dia.
Dor ... Dor ... Dor...
"Kenapa sangat lama, cepat keluar," ujar penjaga dengan badan tinggi dan besar.
"Tunggu sebentar lagi," jawab Robert dari dalam, dia semakin sibuk mencari sesuatu, hingga mata nya melihat pisau silet yang berada dalam pencukur kumis, tanpa menunggu lama, Robert langsung mengambil nya dan menyembunyikan benda itu di dalam bajunya.
Robert keluar, dia kembali di masukkan ke dalam penjara. Sekitar jam tiga dini hari, semuanya sudah terlelap, Robert yang sedari tadi berpura-pura tertidur pun mendudukkan tubuhnya kembali, dia mengeluarkan benda yang dia bawa dari dalam kamar mandi.
Pandangan Robert kosong menatap benda kecil namun tajam itu, air matanya seketika mengalir di pipinya.
Perlahan benda itu langsung dia arahkan pada pergelangan tangan nya .
"Maafkan Papa, Talia,"
Srek....
Robert mengiris tangan nya dengan silet kecil itu, akan tetapi karna tangan nya lumayan besar, Robert harus menahan sakit terlebih dahulu, karna harus menggores beberapa kali agar urat nadinya bisa putus.
__ADS_1
Hingga goresan yang kelima dia berhasil, tubuh Robert terbaring di lantai, dengan darah segar sudah keluar dari tangan nya.
Keesokan paginya, mereka sudah menemui Robert tak bernyawa, dengan rasa ketakutan Max menghubungi Faris, memberitahu tentang keadaan Robert yang sudah tiada.
...****************...
Kembali ke mansion Bagaskara "Sayang, aku berangkat dulu. Kamu hati-hati di sini," ucap Faris sambil mencium kening Nabil.
Setelah mengetahui Robert bunuh diri, Faris tidak jadi mengizinkan Nabil untuk ikut.
"Iya, Mas! Kamu juga hati-hati," Faris mengangguk, kemudian dia langsung melangkah masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan tidak ada yang bersuara, baik Faris maupun Diki sama-sama diam, Diki tidak berani kaena melihat aura dingin dan kejam dari wajah Faris. Dapat dia lihat tangan Faris terkepal kuat ntah dia marah pada siapa, Diki tidak berani bertanya.
Sampai di markas, Faris langsung di sambut oleh, Max.
Bugh....
Satu bogem mentah langsung Faris layangkan pada wajah Max "Kenapa kalian tidak becus seperti ini, menjaga dia saja kalian lalai,"
Max yang mendengar teriakan Faris hanya diam, sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
Max tidak membantah, karna itu memang kesalahan nya, yang sengaja memperdengarkan pada Robert jika lelaki itu akan di masukkan ke dalam penjara.
Faris masuk ke dalam ruangan, dimana jasad Robert sudah di masukkan ke dalam kantong pembungkus mayat, pihak kepolisan pun sudah berada di sana.
"Maaf pak, karena anak buah saya tidak becus menjaga nya," ucap Faris pada kepolisian.
Mereka tentu tidak menyalahkan Faris, karna Faris telah menyerahkan kasus itu pada pihak kepolisian, beserta dengan bukti-bukti yang dia punya.
Dan polisi tau jika itu bukan kesalahan Faris."Tida apa-apa, Tuan Faris. Mungkin ini memang sudah jalan takdirnya," jawab polisi.
"Apa ada pihak keluarga yang bisa di hubungi?" tanya polisi yang bernama Agus di tag nama nya.
"Dia hanya memiliki seorang putri, yang saat ini tengah depresi sedang berobat dengan dokter psikologi,"
"Apa kita harus memberitahu padanya?" tanya polisi itu lagi.
"Saya rasa tidak usah, Pak! Karna saya takut dia semakin depresi jika tau Papanya bunuh diri,"
"Baiklah, jika begitu kita akan langsung kebumikan dia,"
"Baik, Pak! Biarkan anak buah saya saja yang mengurus jenazah nya." tawar Faris, dan pak polisi pun mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Oh satu lagi, Pak! Ada seorang lagi di sini, dia orang yang telah menyebarkan fitnah terhadap saya dan istri saya, dia ada di ruangan sebelah, silahkan bapak membawa nya." tukas Faris lagi menyerahkan Jono juga pada pihak yang berwajib.
"Baik, Tuan! Kami permisi dan membawa orang tersebut."
"Silahkan, Pak! Terimakasih atas kerja samanya,"
Para kepolisian langsung meninggalkan markas Faris dengan membawa Jono si penyebar fitnah karna suruhan dari Talia.
"Cepat urus mayatnya," perintah Faris, dia masih merasa murka dengan anak buahnya karna tidak ada yang becus. Akan tetapi dia sudah tidak main pukul lagi sekarang, karna dia tau jika Max sudah dulu memberikan pelajaran pada anak buahnya yang tidak bekerja dengan baik. Sungguh sifat Faris sangat berubah, dulu dia adalah atasan yang tidak pandang bulu, setiap pengawal atau anak buahnya yang tidak becus, dia langsung memukul tanpa ampun.
...****************...
Setelah selesai mengurus mayat Robert, mereka langsung memasukkan jenazah itu ke dalam mobil, Faris menyuruh anak buahnya untuk membawa jenazah Robert untuk di kebumikan.
"Urus dengan baik, Max! Aku dan Diki akan pulang,"
"Baik, Tuan!"
Diki dan Faris tidak ikut di acara pemakaman Robert, dia menyerahkan semua urusannya pada Max.
"Bagaimana dengan Nona, Talia, Tuan?" tanya Diki pada Faris.
Faris menarik nafas panjang dan menghembuskan nya "Aku tidak tau, Diki! Ntah dia akan mengerti, aku hanya tidak ingin wanita itu menjadi gila setelah tau yang sebenarnya."
"Lebih baik kita sembunyikan dulu ini padanya," timpal Diki.
"Kau benar, Diki. Tunggu sampai dia benar-benar sembuh,"
Diki tidak menjawab, dia hanya mengangguk, kemudian memfokuskan diri menyetir.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Hayo ... Jangan ada yang tersenyum atas kematian Robert ya, kalian harus sedih juga. Wkwkwk
__ADS_1
Jangan lupa loh, like komen dan juga Vote.
Kasih juga hadiah sama bintang lima nya, aku maksa loh. Hehehe