
"Apa-apaan ini, hah! Kamu mau meracuni ku dengan rasa makanan seperti ini?" bentak Faris, dia benar-benar sangat marah.
Sedangkan Nabil yang sudah terlanjur sakit, kini tidak dapat lagi membendung air matanya, cairan bening itu keluar dengan sendirinya saat kue yang dia buat dengan susah payah tepat terkena pada wajah nya.
"Maaf, Mas! Tapi saya baru belajar!" pinta Nabil sambil menundukkan kepalanya. Jantung nya terasa di tampar, hatinya terasa perih, melihat sikap Faris yang semakin hari semakin berubah kejam.
"Apa juga yang kamu bisa, hah! buat makanan saja tidak becus, cih!" Cibir Faris sebelum akhirnya meninggalkan Nabil yang terduduk merosot di atas lantai.
Semakin ke sini, Nabil semakin di buat bingung oleh sikap Faris, yang sangat berbeda saat dulu mengejar nya.
"Ya Allah ... Kenapa semuanya jadi seperti ini. Mengapa mas Faris berubah menjadi orang yang kejam!" gumam Nabil, air matanya sudah tidak sanggup dia tahan.
Nabil memang bukan wanita yang kuat, tapi dia tetap berusaha tegar, karna bagaimana, pun hidup jauh dari kedua orang tua bertahun-tahun bukan lah yang mudah, maka dari itu, dia tetap menguatkan hatinya dan menyerahkan semuanya kepada maha kuasa.
Dengan tangan gemetar diapun membereskan semua makana yang di buang Faris. Sakit? Sudah tentu, istri mana yang tidak kecewa dengan perlakuan suami nya seperti itu, istri mana yang akan senang jika sikap orang yang menikahi nya tiba-tiba berubah dalam sekejap.
Sedangkan Faris, masih dengan rasa kesalnya keluar dari dalam kamar langsung turun, kakinya melangkah menuju ke taman yang lengkap dengan kolam renang.
Akhirnya dia menduduki bokongnya pada kursi dengan meja bulat di hadapannya. Hanya dengan sekali tepukan, semua barang yang di perlukan Faris sudah berada di hadapannya.
Layar persegi sudah berada di hadapannya, dia ingin menghilangkan rasa kesalnya yang tidak beralasan terhadap Nabil, dengan memeriksa beberapa email yang masuk kepada nya dari perusahaan.
Satu persatu Faris menyelesaikan pekerjaan nya, hingga wajah cantik seseorang melintas di dalam pikirannya. Tapi dia mencoba untuk kembali fokus terhadap barang di hadapannya. Namun, lagi-lagi mata berbulu lentik seorang wanita kembali terbayang dalam ingatan nya.
Siapa lagi kalau bukan wanita yang baru saja dia bentak, wanita yang dia pergunakan untuk sebuah alasan agar keinginan nya tersampaikan.
Tapi meskipun dalam ingatan nya terbayang betapa cantiknya wajah Nabil, Faris semakin marah terhadap istri nya itu. Terutama karena kakek nya terlalu menyayangi Nabil, dan dia tidak bisa menceraikan Nabil karna itu.
"Lihat saja, akan ku buat kamu menderita hingga kamu sendiri yang akan menggugat perceraian dengan ku, hingga kakek tidak akan menyalahkan aku!" gumam Faris dengan senyuman licik di bibirnya.
Kemudian, lelaki tanpa perasaan inipun kembali melanjutkan aktivitas nya.
__ADS_1
Sedangkan di bandara, Rangga, Heri dan juga Putra sedang merangkul satu sama lain. Seperti yang di ucapkan Rangga, bahwa dia akan pergi dari hidup Nabil dan juga melupakan nya, dia akan pindah ke luar kota dengan alasan mengurus perusahaan peninggalan sang kakek yang sudah lama di pegang oleh asisten nya.
"Gw berangkat dulu ya!" ucap Rangga.
"Iya ... hati-hati lo di sana, Gw masih heran kenapa lo tiba-tiba pindah ke sana, perasaan dari dulu lo itu nggak mau mengurus perusahaan kakek lo, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya putra yang masih belum tau jelas alasan Rangga.
Rangga tersenyum "Hati manusia kan bisa berubah-ubah!" jawab nya yang mendapat anggukan dari kedua sahabatnya.
"Tapi kamu tidak memberitahu kepada Faris?" celetuk Heri juga ikut bertanya.
Yang di tanya hanya menggeleng "Dia kan baru nikah, kalian taulah kalau pengantin baru itu tidak suka di ganggu!" imbuh Rangga dengan menampakkan senyuman simpul di bibirnya. Padahal hati nya begitu sakit saat mengatakan hal demikian.
Keduanya pun mengangguk "Oke, baik-baik lo di sana. Ingat, kalo lo ke sini jangan lupa untuk nemuin kita!" tukas Putra lagi.
Rangga hanya mengangguk lalu berkata "Gw jalan dulu ya!" ucapnya.
"Iya, Ga! Semoga sampai tujuan dengan selamat!" timpal Heri.
Jam menunjukkan pukul 19:00 malam, Nabil baru selesai mengerjakan ibadah solah magrib nya. Saat ini bibir bervolume Nabil sedang komat kamit melantunkan ayat suci Al Quran, dia membaca dengan suara yang sangat merdu.
Pergerakan Nabil dari mulai dia masuk ke dalam kamar mandi untuk wudhu, hingga saat ini yang sedang duduk di atas sajadah. Tidak pernah lepas dari mata Faris, meskipun hanya dengan ekor mata, namun dia tetap melihat setiap gerakan sang istri.
"Haduh ... Kenapa dia mengaji begitu lama sih!" batin Faris melihat bengis terhadap Nabil.
"Apakah kamu akan membacakan itu sampai pagi, hah!" Hardik Faris.
Nabil yang mendengar ucapan sang suami langsung mengecil kan suaranya, tapi dia tetap melanjutkan bacaan nya, hingga dia selesai.
Setelah itu wanita yang nasibnya di permainkan oleh Faris ini langsung mengangkat ke dua tangan bya untuk berdoa.
"Ya Allah ... Engkau yang maha mengetahui segalanya, kau lah tempat ku bersandar, engkau lah tempat ku berharap, memohon pertolongan. Kuatkan lah hati hamba menerima setiap perlakuan suami hamba, bersihkanlah hati hamba agar tidak ada rasa marah atau dendam sedikit pun terhadap nya, Ya Allah!" dengan deraian air mata Nabil berdoa dan berharap agar hatinya bisa merasa tenang, ingatan nya kembali pada saat dia mengajak Faris untuk melaksanakan solat magrib secara berjamaah.
__ADS_1
"Mas, ayo kita solat! Aku ingin mas yabg menjadi imam nya!" ucap Nabil mengajak sang suami untuk mengerjakan kewajiban nya.
"Aku masih banyak urusan!" hanya jawaban itu yang Nabil dapatkan.
"Tapi, Mas! Magrib adalah waktu yang sebentar!" imbuh Nabil masih kekeh mengajak sang suami.
"Kalau sebentar memang nya kenapa, bukan kah masih ada hari esok!" elak Faris yang sudah mulai dengan nada meninggi.
"Tapi, Mas! Umur kita belum tentu sampai besok!" timpal Nabil yang tidak mau kalah memperingati Faris.
Tapi kata-kata Nabil malah membuat Faris marah "Apa kamu mendoakan agar saya cepat mati, hah!" Bentak Faris yang tidak terima dengan ucapan sang istri.
Nabil tersentak, dia hanya menggeleng sambil berkata "Sama sekali tidak ada maksud ku seperti itu, mana mungkin seorang istri mendoakan hal yang buruk untuk suaminya!" jawab Nabil memberikan penjelasan.
"Cih, jangan pernah menyuruh ku atau memerintahkan aku untuk solat, urus saja dirimu sendiri!"
Begitu lah yang Nabil terima saat berencana mengajak Faris untuk melaksanakan solat. Salah kah dia jika ingin menjadi makmum dari sang suami yang kemaren begitu rajin ke masjid, itu semua hanya dia curah kan kepada sang khalik, mengharap hari esok suaminya kembali seperti saat mereke pertama bertemu.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan juga Vote nya ya Reader ku ter❤️.