Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Rindu.


__ADS_3

...Tidak ada yang bisa membendung rasa rindu, karna itu amat lah menyiksa. Sebesar apa kita berusaha, jika kata Rindu sudah membuncah, maka hanya pertemuan lah penawar nya....


...****************...


Faris dan Diki turun dari pesawat jam delapan malam, saat ini keduanya masih di jalan menuju pulang.


Berbagai sumpah serapah Diki lontar kan kepada bos nya yang terkadang sinting itu, seenaknya memerintah. Rasa penatnya seharian tidak kunjung mendapatkan jeda, tatkala dia ingin mengistirahatkan tubuh nya, panggilan masuk dari Faris membuat nya harus mengurung niat nya kembali.


Kasur yang empuk yang dia bayangkan seketika hilang dari angan nya, karna dia harus kembali ke kota mereka, karna perintah Faris.


Tidak ada yang bisa membantah di saat sang bos memberikan perintah, maka semuanya harus mematuhi nya, termasuk anak buah dan juga pengacara yang mereka bawa, sama sekali tidak di berikan waktu untuk istirahat oleh bos yang minim akhlak itu.


Tanpa mereka tau, jika Faris segera ingin pulang karena tidak sabar menemui sang istri, bahkan di dalam mobil sudah beberapa kali dia memarahi Diki, karna menurutnya, Diki begitu pelan mengendarai mobil yang mereka tumpangi.


"Sudah berapa lama kamu tidak menservis mobil ini, Diki? Mengapa begitu lambat" tanya Faris, dengan nada protes.


"Baru Minggu kemaren saya menservis nya, tuan!" jawab Diki dengan begitu jujur.


"Apa karna sudah lama, hingga mobil ini melambat, besok carikan mobil baru dengan pengeluaran terbaru!" tukas Faris memberi perintah, Diki langsung terbelalak. Pasalnya mobil yang mereka tumpangi saat ini baru di pakai Faris sekitar lima bulan.


"Anda yakin, Tuan?" tanya Diki memastikan.


"Apa kamu pernah melihat aku bermain-main dengan ucapan ku?" tanya Faris dengan nada begitu datar.


"Tidak, Tuan! baiklah besok akan saya carikan!" timpal Diki, kenapa dia yang pusing, toh itu uang Faris, bukan milik dirinya.


Mobil Ferrari keluaran terbaru berhenti tepat di bangunan bertingkat, Faris terlihat begitu tergesa-gesa turun dari mobil, lalu dengan mengayunkan langkah begitu cepat, lelaki bermata biru ini masuk ke dalam rumah.


Di ruangan pertama dia tidak melihat sang istri, itu memang sudah biasa, karna Nabil selalu menunggu dirinya di dalam kamar.

__ADS_1


Tanpa sabar, Faris masuk ke dalam lift, rasanya dia ingin segera menatap wajah cantik, Nabil. Terlebih dia ingin segera mengungkung Nabil di bawahnya.


Ting...


Pintu lift terbuka, dengan langkah begitu lebar Faris kembali berjalan, sampai di depan pintu kamar, Faris malah berhenti, dia terlihat merapikan jas dan dasinya, ntah kenapa dia merasa grogi.


"Hekhem!" Faris berdehem terlebih dahulu, untuk menelisir kegugupan nya, setelah itu tangan nya langsung memegang handle pintu dan mendorong daun pintu tersebut.


Ceklek...


Pintu terbuka, pemandangan yang pertama dia lihat sesuatu hal yang membuat nya tenang, dia melihat jika sang istri sedang melantunkan ayat suci Al Quran, membuat hatinya yang tadi gelisah menjadi tenang.


Tapi sejak kapan Faris senang mendengar Nabil mengaji, bukan kah dulu dia paling membenci nya, tapi sekarang dia tampak menikmati nya.


Tanpa ingin mengganggu sang istri, Faris melangkah masuk, lalu duduk di atas ranjang, sambil terus menatap pada wajah mempesona milik Nabil.


"Wajah nya begitu sempurna, tanpa ada kekurangan sedikit pun, suaranya juga begitu lembut dan indah, kenapa aku baru menyadari nya sekarang!" batin Faris yang masih menatap pada sang istri.


"Ma-mas Faris!" ucap Nabil terbata-bata.


"Mendekat lah!" ujar Faris, sambil menepuk pahanya, menyuruh Nabil duduk di atas pangkuan nya.


Yang di panggil malah menunduk malu, Faris dapat melihat rona merah pada wajah sang istri, membuat nya tambah gemes.


"Ayo, mendekat lah! kenapa kamu masih malu?" tanya Faris sekaligus memerintah.


Perlahan Nabil melangkah, saat sudah di hadapan sang suami, Faris langsung menarik pinggang nya dengan sedikit kasar, hingga tubuhnya terhuyung dan berakhir dia duduk tepat di atas paha Faris.


Posisi mereka sangat lah dekat, Faris langsung mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri, kepalanya dia jatuhkan pada ceruk leher sang istri, menghirup aroma yang semalam membuat nya terasa mabuk.

__ADS_1


Nabil tidak bergeming, meski jantung nya meloncat-loncat bagaikan ingin keluar, tapi dia tetap pada posisinya, membiarkan sang suami menyalurkan rasa lelah yang dapat Nabil lihat dari wajah Faris.


Faris masih memeluk Nabil dengan begitu erat, merasakan kenyamanan yang menenangkan. Kemudian dia mengangkat wajah dan menatap wajah Nabil yang semakin merona.


Faris mendekat, terus mendekat hingga ciuman keduanya pun tidak bisa di hentikan lagi, Faris benar-benar menyalurkan rasa rindu yang sedari tadi mengganggu dirinya.


Nabil masih belum cukup pandai dalam hal membalas, hingga membuat Faris sedikit kesusahan, tapi itu membuat nya sangat senang, setiap membayangkan, seorang wanita cantik dan sempurna dia yang pertama menyentuh nya.


Tidak berapa lama, Faris melepaskan ciumannya, kemudian dia membingkai wajah Nabil dengan kedua tangan nya.


"Siapkan aku air mandi, lalu kamu harus menerima hukuman mu, karna telah berani tidak mengangkat telpon ku saat aku memanggil mu!" tukas Faris dengan suara serak.


Sudah tidak bisa di bayangkan lagi perasaan Nabil, dadanya naik turun, jantung nya terasa di pompa dengan begitu cepat, kata-kata Faris mampu membuat nya merinding.


Dengan suara kecil Nabil menjawab "Air nya memang sudah aku siapkan, karna Mas bilang akan pulang malam ini!" jawab Nabil, wajah mereka masih sangat dekat, bahkan hanya berjarak beberapa senti.


Faris tampak sedikit menarik sudut bibirnya, kemudian dia mencium bibir Nabil sekilas, lalu berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung.


__ADS_2