
Satu Minggu sejak pernikahan Diki dan Mira, dan hari ini Diki berencana membawa sang istri bulan madu.
Pasutri yang baru terikat dalam sebuah pernikahan itu sudah siap berangkat dengan penerbangan menggunakan jet pribadi keluarga Bagaskara.
"Kak, kita akan kemana sebenarnya?" tanya Mira yang kini berada dalam dekapan sang suami.
"Honeymoon, sayang! Kita pengantin baru," jawab Diki sambil menarik hidung Mira dari dalam niqab.
"Maksud aku tu, tempat nya dimana?" tanya Mira lagi.
"Nanti kamu bakalan tau, sayang!" jawab Diki ambigu.
"Huf ... Andai Nabil bisa ikut, pasti kita bisa sama-sama pergi jalan-jalan," keluh Mira yang menginginkan Nabil juga ikut.
"Lagian kenapa sih Tuan Faris tidak membawa Nabil ikut serta bersama kita?" tanya Mira lagi.
"Dia sedang hamil sayang, aku mengerti apa yang di pikirkan Faris, sebagai calon ayah dan suami tentu dia tidak ingin terjadi apa-apa pada istri dan calon anaknya," bela Diki yang paham dengan kekhawatiran Faris.
Mira hanya bisa menghela nafas panjang, lebih baik dia nikmati perjalanan saat ini, karna dia tidak tau jika sudah hamil Diki akan bersikap sama seperti Faris atau lebih dari itu lagi.
Diki mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri, mencium berulang kali pucuk kepala sang istri, seolah dia akan kehilangan wanita nya itu.
...****************...
Sementara di mansion Bagaskara, Faris baru saja siap untuk berangkat ke kantor. Tidak mungkin dia meninggalkan kantor tanpa ada dirinya atau Diki yang masuk, karna itu adalah tanggung jawabnya.
"Sudah selesai?" tanya Faris menggandeng tangan sang istri.
"Iya, Mas! Yuk kita berangkat sekarang," ajak Nabil, dia tersenyum manis di balik niqab yang dia kenakan. Perutnya yang sudah membesar sedikit membuat nya jalan melamban.
Seperti biasa, Nabil akan menemani sang suami di kantor jika Diki tidak masuk. Nabil tidak pernah mengeluh atau mengatakan capek, karna di sana dia hanya duduk, karna Faris tidak mengizinkan dirinya melakukan apapun.
"Kak Diki dan Mira sudah berangkat?" tanya Nabil pada sang suami yang tengah mengemudi mobil nya dengan fokus.
"Sudah tiga puluh menit yang lalu," jawab Faris dan Nabil hanya mengangguk.
Tangan Faris perlahan terulur menyentuh tangan sang istri "Apa kamu merasa sedih karna semenjak kita menikah aku tidak pernah mengajakmu honeymoon atau keluar negri?" tanya Faris tak enak hati.
"Maafkan aku karena belum bisa membuat mu bahagia, sayang! Aku berjanji setelah anak kita lahir, kita akan pergi bersama si kembar." lanjut Faris berceloteh.
Nabil berpaling menatap sang suami, dia pun juga membalas menggenggam tangan kekar Faris.
"Kebahagiaan ku hanya di saat berada di sisi Mas, tidak perduli tempat nya dimana, jadi jangan pikirkan selalu kebahagiaan ku, Mas pikirkan juga kebahagiaan, Mas!" jelas Nabil yang tau jika Faris merasa belum sepenuhnya membahagiakan dirinya. Padahal Nabil sudah cukup bahagia, karna Faris tidak pernah memikirkan diri nya sendiri.
"Berlibur bisa kita lakukan setelah anak kita lahir, jadi tidak ada alasan untuk aku bersedih. Aku juga ingin kita sama-sama bahagia, aku ingin Mas menikmati kebersamaan kita dan saling merasakan kenyamanan, bukan berarti Mas harus mengutamakan kebahagiaan ku selalu dan mengabaikan perasaan Mas." jelas Nabil. Padahal sudah jelas, suaminya itu tidak mau membawa nya pergi hanya karena tidak ingin dirinya kenapa-kenapa.
"Kebahagiaan ku adalah membuat mu bahagia, senyuman ku ada di bibirmu, sedihku ada di air matamu--"
__ADS_1
"Dan aku sudah sangat bahagia," timpal Nabil tanpa menunggu Faris selesai mengucapkan kalimat nya.
Faris tersenyum, mencium beberapa kali punggung tangan Nabil, dan kembali fokus menyetir. Ada rasa lega, haru dan bahagia saat mendengar ucapan sang istri yang selalu membuat nya merasa menjadi lelaki sempurna dan bertanggung jawab.
Mobil yang di bawa Faris kini berhenti di parkiran khusus Presdir, Faris turun mengitari mobil, kemudian membuka pintu untuk sang kekasih hatinya.
Seperti biasa, semua mata mantap takjub dan memberi hormat untuk pasutri yang semakin hari semakin terlihat harmonis.
Jika biasanya lelaki akan malu dan menyembunyikan sang istri di rumah saat hamil tua, justru Faris semakin mesra dan menjaga Nabil bak berlian yang sangat berharga.
Sepanjang jalan masuk ke dalam kantor, tangan Faris tak pernah lepas dari pinggang sang istri, memeluk erat seolah Nabil akan terjatuh.
Sampai di dalam ruangan, Faris langsung mengerjakan pekerjaan nya, sementara Nabil duduk di sofa dangan Qur'an kecil di tangan nya, dia sendiri menghibur diri dengan membaca ayat Al-Qur'an, sekaligus memperdengarkan pada calon anak juga pada suami tercinta.
...****************...
Hampir dua jam Faris mengerjakan pekerjaan nya, Nabil yang sudah bosan duduk pun bangun, dia berjalan mendekati Faris, kemudian tanpa mengucapkan apapun dia langsung duduk di atas pangkuan calon Abi dari anak-anak nya.
"Apa belum selesai?" tanya Nabil, kepala nya di sandarkan pada dada liat yang kekar itu.
"Apa istri ku sudah bosan menunggu?" tanya Faris sambil mencium kening bumil itu.
"Aku lapar, anak-anak mu juga sudah meronta-ronta," jawab Nabil dengan wajah di buat manyun.
"Kesayangan aku sudah lapar rupanya, ya sudah, aku pesan makanan dulu ya!" usul Faris, akan tetapi Nabil dengan begitu cepat menggeleng.
Sebelah alis Faris langsung di sentak ke atas "Tumben sayang kamu mau makan di luar?"
"Aku ingin makan ice krim," rengek Nabil sambil memainkan kancing kemeja sang suami.
Faris hanya menatap gemes apa yang di lakukan sang istri di tubuh nya, jika dulu tidak ada perempuan yang boleh menyentuh tubuhnya, kini dengan Nabil, wanita itu bebas memperlakukan apa saja dengan tubuh miliknya itu.
"Kita bisa pesan ice krim nya ke sini, sayang!"
"Tapi aku maunya makan di tempat nya langsung,"
Faris menarik nafas dan menghembuskan nya "Baiklah, kita berangkat sekarang,"
"Apa Mas keberatan?"
"Tentu saja iya,"
Mendengar itu seketika Nabil langsung turun dari pangkuan sang suami.
"Kalau begitu aku akan pergi sendiri," ancam Nabil ingin melangkah.
"Hei, tunggu sayang! Aku keberatan jika kamu tidak pernah meminta apapun dari ku, dan sekarang aku sangat senang saat istri ku yang tengah mengandung anak ku ini mengutarakan keinginannya,"
__ADS_1
"Aa ... Makasih suami ku tersayang." ucap Nabil sambil berhamburan masuk ke dalam pelukan sang suami.
"Sama-sama istri ku tercinta,"
Akhirnya Faris menggandeng tangan sang istri untuk keluar dari ruangan nya, menuju restoran yang akan di pilih oleh wanita nya.
...****************...
Sudah berjam-jam berada dalam pesawat, Mira merasakan tubuhnya di goncang dengan lembut, bersamaan dengan suara yang memanggil namanya.
"Mira!"
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai." Mira membuka mata, karna terlalu penasaran dengan tempat yang akan dia kunjungi, Mira langsung membuka lebar matanya dan segera turun, meninggalkan Diki yang masih duduk di tepi ranjang.
Mata Mira terbelalak saat melihat tempat dia menginjakkan kaki sekarang ini. Saat ini mereka berada di bandara Charles de Gaulle Paris. Rasanya Mira belum percaya jika dirinya tengah berada di tempat yang sangat ingin dia datangi.
"Kak, apa benar aku berada di sini?" tanya Mira pada sang suami yang sudah menyusul dirinya.
"Iya, apa kamu bahagia?"
"Aku sangat-sangat bahagia," teriak Mira sambil memeluk Diki dengan erat.
Kota dengan lambang menara Eiffel yang terkenal dengan sebutan the City of love atau kota cinta, Paris. Menjadi tempat pilihan Diki untuk mengukir kisah bersama sang istri.
Melihat bagaimana kebahagiaan yang terlihat dari sang istri, membuat nya senang, karena tidak salah memilih tempat untuk berlibur.
"Kita akan kemana sekarang, kak?" tanya Mira.
"Ke sesuatu tempat."
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Stop bang ... Diriku yang tersakiti melihat kemesraan kalian, Huhuhu.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
__ADS_1