
Faris yang melihat Nabil memasuki ruangan nya, langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita yang sedang mengandung darah daging nya ini, sambil memberikan kode pada seorang lelaki yang tidak Nabil kenali untuk keluar. Dan dengan patuh pria yang berumur sekitar 35 tahun ini, berpamitan kemudian dia langsung melangkah keluar dari ruangan Presdir tersebut.
"Sayang, kenapa sangat lama?" tanya Faris sambil menarik tangan Nabil untuk duduk di sofa.
"Maaf, Mas! Tadi asik bercerita dengan Bunda nya, Mira," pinta Nabil merasa bersalah karna terlalu lama membuat suaminya menunggu.
"Apa Mas sudah sangat lapar?" tanya Nabil, dia segera membuka kotak makan yang tadi dia siapkan dari rumah.
"Tidak apa, sayang. Yang terpenting kamu selamat!" sergah Faris, dia memperhatikan dengan intens setiap pergerakan Nabil.
Tangan Faris terangkat, membuka niqab berwarna biru muda yang Nabil kenakan. Hingga terlihatlah cantik nan ayu milik sang istri.
Nabil membiarkan saat tangan Faris bergerak mengelus pipinya lalu turun menyentuh bibir bervolume merah muda alami.
Cup...
Faris langsung mencium bibir sang istri, membuat Nabil menghentikan gerakan tangan nya dari rantang karna harus mengimbangi ciuman yang di berikan Faris.
Cukup lama mereka berciuman, hingga Nabil merasa kehabisan nafas, langsung saya dia memukul pelan dada sang suami, memberi kode jika dia sudah tidak sanggup lagi.
Faris melepaskan ciumannya, tersenyum sambil mengecup tangan putih Nabil.
"Maafkan aku, tapi sungguh, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri jika sudah berdua dengan mu," imbuh Faris mengelap sudut bibir Nabil dengan ibu jarinya.
"Tidak apa-apa, Mas! Karna kamu memang berhak atas diriku." jawab Nabil menatap dalam kedua manik suaminya.
__ADS_1
"Ya, aku memang berhak, karna kamu adalah milik ku, semua yang ada pada dirimu, termasuk senyuman bahkan tatapan mu hanya untuk ku, tidak ada yang boleh mendapatkan nya selain aku!" ucap Faris posesif, merengkuh erat tubuh sang istri.
"Insya Allah aku akan menjaganya," sergah Nabil penuh keyakinan.
"Dan aku mempercayai nya."
Setelah itupun Nabil kembali menuangkan nasi ke dalam piring yang memang sudah tersedia di sana, mungkin Faris memang sengaja menyuruh OB untuk mengantarkan piring terlebih dahulu agar tidak ada lagi yang masuk di saat mereka berdua, tentu saja karna dia selalu membukakan kain penutup wajah Nabil dan tidak ingin orang lain melihat nya.
"Mas mau makan sendiri atau seperti biasa?" tanya Nabil, ya seperti biasa kalian tau sendiri, Faris hampir selalu meminta Nabil menyuapi dirinya.
"Aku makan sendiri saja, sayang!" Faris langsung mengambil alih piring dan sendok dari tangan Nabil, kemudian memakan dengan begitu lahap masakan sang istri yang sudah terasa sangat pas di lidah nya.
"Kamu juga ikut makan ya," ujar Faris seraya menyendokkan nasi serta lauknya, kemudian menyodorkan nya di hadapan Nabil.
Nabil memakan setiap suapan yang di berikan Faris, mereka makan dengan sangat lahap dan juga romantis.
Nabil menatap pada Faris, dia melihat netra tidak senang di mata suaminya, seulas senyuman pun dia berikan sebagai bentuk dukungan.
"Pergi lah Mas, aku akan menunggu mu di sini, Mas tidak akan lama kan di sana? Lagian ada bi Mila dan maid lainnya di rumah, nanti aku akan mengajak Mira untuk menginap, selagi dia belum kembali mondok." timpal Nabil, sebagai istri dari pebisnis paling berpengaruh di seluruh dunia, Nabil harus mengerti dengan kesibukan sang suami.
"Kamu beneran tidak keberatan?" tanya Faris memastikan, dan Nabil mengangguk dengan sangat yakin.
"Anak Papa apa kabar, kamu baik-baik ya di dalam sana," celetuk Faris sembari mengelus perut rata sang istri, menyapa janin yang di kandung Nabil. Setelah meletakkan piring dari tangan nya.
"Jangan Papa!" protes Nabil.
__ADS_1
Faris mengerutkan keningnya "Terus, kamu mau mereka memanggil ku dengan sebutan apa? Papi, Daddy, atau Ayah?" tanya Faris tanpa jeda.
"Aku ingin anak-anak kita memanggil orang tuanya dengan sebutan Abi dan juga Ummi." jawab Nabil lembut, selembut tangan nya yang sedang mengelus dada sang suami.
"Sssttttt," terdengar suara jeritan halus Faris karna ulah Nabil.
"Tapi aku merasa tidak pantas di panggil seperti itu oleh anak-anak kita kelak!" elak Faris dengan suara tertahan, yang dia ketahui jika di panggil Abi harus seorang ustadz atau orang yang mengerti ilmu agama.
"Maka dari itu, Mas harus mementaskan diri mas untuk di sebut Abi oleh anak kita nanti," timpal Nabil lagi, tangan nya masih aktif di area dada keras Faris, ntah ada tujuan apa atau hanya sekedar suka saja, yang jelas karena nya, Faris merasa tegang, hasrat nya langsung memuncak.
"Ssstttttt ... Kita pikirkan itu nanti, sekarang kamu harus bertanggung jawab karna telah membangun kan burung ku yang tadinya tertidur pulas." ucap Faris vulg*r, dia langsung menggendong Nabil dan membawa sang istri ke dalam kamar dalam ruangan kerja nya.
Mulai dari ciuman lembut Faris berikan, hingga ciuman yang sangat menggairahkan, dari puncak kepala hingga turun pada mata, pipi, bibir tak tertinggal juga leher jenjang yang putih bagaikan susu itu, kemudian ciumannya kembali turun kebawah, hingga Faris mencium setiap inci tubuh Nabil yang sudah polos.
.
.
.
.
~Bersmambung.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Mohon dukungan ranting dan juga hadiahnya ya😁.