Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Ingin Bertaubat.


__ADS_3

Masih dalam kamar hotel dengan dua manusia yang tengah sama-sama memberi dan melenguh ken*kmatan surga dunia.


"Sayang ... Buka matamu, sebut namaku, aku ingin mendengar nya!" pinta Faris sambil terus bergerak di atas tubuh sang istri.


Nabil membuka matanya, saat kesekian kalinya sang suami meminta, dia pun menyebut nama Faris saat mendes*h ketika mencapai puncak.


Faris ambruk di atas tubuh sang istri, karna tidak ingin calon bayi tertindih, diapun menggeserkan tubuhnya di sebelah Nabil, memeluk dengan erat wanita yang sangat dia cintai itu.


"I love you, dear! really, really love you"


"Hanya kamu yang telah berhasil mencuri hatiku. Karna itu, tidak akan aku biarkan kamu pergi dari sisiku, karna kamu adalah milikku, milikku sayang! Aku mohon, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku, karna aku akan rapuh kembali jika kamu pergi!" ungkap Faris, ntah mengapa ada rasa takut menyelimuti hatinya, jika suatu saat istri nya akan pergi meninggalkan nya.


"Iya, Mas! Aku adalah milikmu, aku juga sangat mencintai mu, bahkan tidak ada niat sedikitpun dalam hati ku untuk meninggalkan mu, kamu adalah calon ayah dari bayi yang ku kandung, bagaimana mungkin aku bisa tanpa ayah dari anak ku, jangan kamu ragukan ketulusan ku, Mas! Karna apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan suami ku!" tukas Nabil berusaha membuat suaminya paham, jika dirinya juga sangat mencintai ayah dari bayi yang tengah dia kandung itu.


Faris semakin mengeratkan pelukannya "Ntah kenapa aku merasa jika setelah ini, hidupku akan kembali terpuruk, kamu akan pergi dari hidupku bersama bayi kita, aku berusaha menepis nya, akan tetapi rasa itu terus hinggap, membuat ku tidak ingin meninggalkan mu walaupun sedetik," imbuh Faris lagi, dapat Nabil lihat dari matanya jika suaminya sungguh-sungguh mengatakan nya.


Nabil mengelus kepala Faris, menelusup kan jemarinya ke dalam rambut hitam Faris.


"Jangan Mas takutkan apa yang belum terjadi, karna bisa saja jika selalu membayangkan yang kita takuti menjadi sebuah doa. Berpikir yang baik lah, menikah bukan hanya menyatukan dua manusia, akan tetapi di tuntut juga untuk saling percaya, sama-sama mengerti, sama-sama mencari solusi di saat ada masalah, saling mengontrol emosi di saat marah, dan saling mengalah di saat ada perdebatan baik itu besar atau kecil, sama-sama mempertahankan, bukan mengakhiri, atau pergi di saat kecewa atau masalah menerpa, ku rasa jika kita bisa melakukan itu, rumah tangga kita akan selalu bertahan dan tidak akan ada yang meninggalkan!" jelas Nabil sambil menatap dua manik biru Faris, meyakinkan suaminya, agar tidak terus berpikiran yang tidak akan mungkin dirinya lakukan.


Mendengar itu semua, Faris tersenyum sambil meraih tangan sang istri kemudian memberi kecupan di punggung tangan Nabil.


"Berjanjilah, apapun terjadi dan sebesar apapun rintangan yang kita hadapi, kamu selalu di sisiku!" ujar Faris lagi.


"Aku tidak akan berjanji, karna selama nyawa masih di raga, maka aku tidak akan melangkah tanpa izin dari mu, terkecuali hal di luar kemampuan ku, atau dirimu yang meminta ku pergi!" balas Nabil mencium balik tangan Faris.


"Dan itu tidak akan pernah aku lakukan!"


Mereka sama-sama tersenyum, Nabil langsung membenamkan wajahnya di dalam dada sang suami, tempat ternyaman bagi Nabil, dengan Faris memeluk nya dengan begitu erat.

__ADS_1


"Istirahat lah sebentar, sayang! Sebelum kita mulai ronde empat," tukas Faris berbisik di telinga sang istri, membuat Nabil reflek mencubit perut rata Faris.


"Aw... Sakit sayang!" pekik Faris dengan senyuman merekah di bibirnya.


Nabil hanya ikut tersenyum, sambil terus menyembunyikan wajahnya dalam dada hangat lelaki nya.


Pagi hari, selesai solat subuh, Nabil kembali membaringkan tubuhnya di sebelah sang suami, dia terus memandang wajah tampan Faris tanpa berkedip.


Pipi nya merona saat mengingat betapa gagah nya lelaki di hadapannya semalam, tanpa merasa lelah bahkan mereka melakukan tujuh ronde, itupun karena ada bayi yang sedang tumbuh dalam perut nya, kalau tidak dia tidak tau jam berapa suaminya itu akan berhenti.


Tangan nya terangkat mengelus wajah tampan Faris dan juga rahang yang sangat tegas.


"Aku tidak meminta yang sempurna, karna kamu sudah hadir menjadi lelaki penyemangat ku, pendamping hidupku yang selalu membuat ku bahagia, dan aku sangat bersyukur untuk itu, aku hanya berharap semoga Allah segera membuka pintu hati mu, agar mau menyembah Allah, karna aku sangat ingin di imam kan oleh mu, aku ingin mencium tangan mu setelah kita salat dan kamu mencium kening ku, setelah itu kamu berbaring di atas pangkuan ku, aku ingin kamu membangun kan aku untuk melaksanakan solat subuh," gumam Nabil terus mengelus wajah Faris yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus.


"Aku ingin kamu percaya jika Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang benar-benar ingin bertaubat, Allah senantiasa selalu membuka pintu maaf bagi orang yang ingin kembali ke jalan nya, aku hanya ingin kamu percaya atas kuasa Allah, dan aku ingin kamu mengerti, Allah memberikan cobaan hanya untuk menguji hambanya, dan karna dia tau jika kamu mampu, tapi kamu sudah menyerah, mungkin saja waktu itu Allah telah pilihkan kamu sebagai hamba yang beriman, tapi kamu sudah mengingkari nya." lanjut Nabil lagi, semua keinginan nya di utarakan satu persatu pada manusia yang masih memejamkan mata itu.


"Jika Allah menyayangi ku, kenapa dia timpakan cobaan yang begitu berat?"


"Astaghfirullah, Mas! Kamu mengagetkan ku!" tukas Nabil pada sang suami, dia ingin menarik tangan nya, akan tetapi Faris menahan dan mencium nya.


"Jawab pertanyaan ku!" timpal Faris lagi.


"Di dalam Al-Qur'an Allah pernah berkata, tidak lah beriman seseorang terkecuali setelah mampu melalui semua cobaan dari ku. Itu artinya jika seseorang sudah mengaku dirinya beriman, tentu Allah timpakan atas nya cobaan, sebagai seleksi, jika seseorang mampu menghadapi dengan kesabaran dan ikhlas, maka dia lolos sebagai orang beriman. Allah menguji hamba bukan karna marah atau tidak menyayangi hambanya, justru sebaliknya, karna Allah dekat dengan Mas, maka dari itu Allah berikan cobaan, ataupun sebagai teguran karna kita telah melupakan nya, jika kita menyayangi seseorang tentu kita akan marah jika dia membuat hal yang merugikan dirinya, bukan karna benci akan tetapi karna peduli, bisa mas pahami dari kata-kata ku?" tanya Nabil menghentikan ucapannya.


"Jangan kan kita yang hamba biasa, Rasul-Rasul tuhan pun selalu mendapatkan ujian, jangan lupakan Nabil Ibrahim yang sedari kecil mendapatkan cobaan hingga dia tua, ingat kah Nabil Aiyub yang di landa penyakit dan diasingkan dari kampung halaman, dan Nabi kita, Nabi Muhammad yang sedari di dalam kandungan sudah di tunggal oleh ayahanda nya!"


"Dari sana kita bisa mengambil pelajaran, bahwa semua yang di cintai oleh Allah akan di berikan cobaan sebagai bentuk perjuangan kita memantaskan diri sebagai makhluk yang di cintai nya. Bukan kah selama Mas menjauh dari sisi-Nya, Mas tidak pernah lagi mendapatkan kesusahan dan cobaan?" tanya Nabil pada akhirnya, Faris hanya menggeleng.


"Itu karna Mas tidak lagi dekat dengan-Nya. Karna Allah telah jauh dari hati mu. Aku mohon, kembali lah ke jalan-Nya! bukan kah selama ini Mas selalu gelisah tatkala mengingat kedua orang tua Mas, Mas lampiaskan dengan meminum minuman haram, bukan kah dia hanya menghilangkan kesadaran mu, tapi tidak menghilangkan kegelisahan mu?"

__ADS_1


"Kegelisahan tidak akan hilang dengan cara kita bepergian untuk berlibur, atau pergi bersenang-senang, karna kedamaian dan ketenangan hanya bisa di dapatkan dengan mengingat Allah dan berzikir kepada nya!"


Faris menyimak dengan baik apa yang terucap dari mulut sang istri, itu memang benar selama dia mendengar istrinya mengaji dan bersolawat, di sana lah dia mendapatkan ketenangan yang selama ini belum pernah dia dapatkan.


Faris menatap Nabil dalam, seolah tengah memantapkan dirinya untuk melakukan sesuatu hal yang besar, menggenggam erat tangan sang istri.


"Mau kah kamu berada di sisiku untuk mengajar kan ku dekat dengan Tuhan mu? Mau kah kau menunggu ku sampai ku bisa menjadi imam yang baik mu? Mau kah kau menjadi pembimbing ku ke jalan yang benar? Dan mau kah kau mulai hari ini aku yang akan menjadi imam sholat mu?" tanya Faris dengan bersungguh-sungguh.


Tidak ada keraguan di mata Faris, Nabil melihat nya dengan penuh keyakinan, mata Nabil seketika berkaca-kaca, apa ini jawaban dari semua doa nya, apa benar yang dia dengar jika sang suami ingin bertaubat.


"Apa aku tidak salah dengar?"


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Yang bener nih babang Faris mau bertaubat? Kok aku kaget ya!

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2