
"Aakhhh! astaghfirullah!"
"Seorang wanita Solehah, dengan berat badan 45kg, tidak terlalu panjang hanya 160cm, golongan darah A, orang baik, lembut dan juga jarang bicara!" ucap Nabil menjelaskan semuanya. Membuat Nabil melongo mendengarkan penuturan Jane, bagaimana dinding bisa berbicara dan menderek dirinya, itupun betul semuanya.
"Kamu orang baru, dan orang yang ke empat memasuki kamar nya si, Boy!" jelas Jane lagi, kini Nabil di buat bingung, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Jane.
"Aku alat rancangan Boy, dia memberikan nama Jane kepada ku, aku hanya mematuhi perintah nya boy!" timpal Jane lagi, sampai suara bariton menghentikan Jane.
"Jane, diam! istirahat lah!" tukas Faris yang kini melangkah masuk ke dalam walk in closet, Nabil hanya melihat semua gerak gerik Faris tanpa berani menyapa.
Dalam hal ini Nabil merasa sedikit kejanggalan, karna setelah satu kata yang di ucapkan Faris untuk menyuruh dirinya masuk, lelaki yang sudah menjadi suami sah nya ini sama sekali berbicara lagi.
"Apa karna dia capek, aku harus apa? bahkan aku seperti tidak di anggap di sini!" batin Nabil, dia bingung karna Faris seperti tidak melihat keberadaan Nabil.
Faris selesai menggantikan pakaian nya, kemudian setelah itu, dia mendekati Nabil yang berdiri mematung di samping tempat tidur.
Lampu sengaja di nyalakan remang-remang, tujuan nya biar terkesan romantis, siapa lagi kalau bukan kakek Dinata yang mengurus semuanya.
Jantung Nabil berdegup begitu kencang, ketika satu persatu langkah Faris mendekati dirinya.
"Ya Allah, malam ini hamba akan menampakkan wajah hamba kepada seorang lelaki yang sudah menjadi suami hamba sendiri, tapi kenapa rasanya berat. Tapi, hamba pasrah menyerahkan diri ini kepada nya, karna itu memang sudah kewajiban hamba sebagai seorang istri. Ya Allah, beranikanlah diri hamba agar tidak merasa takut kepada suami hamba sendiri!" batin Nabil, dia mengira Faris akan meminta hak nya pada malam pertama.
Tapi, pemikiran Nabil ternyata salah, karna Faris bukan mendekati dirinya, melainkan mengambil ponsel yang berada di sebelah tempat tidur.
Dengan hanya tersenyum sinis, Faris langsung membalikkan badannya, Nabil melihat jika suaminya yang sudah berpakaian rapi berlenggang meninggalkan dirinya.
Sebelum keluar, Faris sempat berujar yang di dengar jelas oleh Nabil.
"Jangan menunggu ku, tidur saja duluan, aku ada urusan!" ujar Faris dengan nada dingin dan datar.
Nabil yang melihat tingkah aneh Faris semakin tidak tenang, kemana Faris yang kemarin begitu ramah, baik, sopan dan juga menunjukkan rasa sayang nya yang begitu besar untuk Nabil.
Dalam diam, wanita bercadar itu hanya menunduk sedih, di malam bahagianya, dia malah di tinggal oleh sang suami, bahkan suaminya belum sempat melihat wajah nya yang selama ini dia tutupi, yang sengaja dia perlihatkan hanya kepada suaminya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Faris terus melangkah, sambil dia menghubungi seseorang.
"Diki, ayo kita pergi sekarang! Dan ingat, jangan sampai kakek tau!'" sarkas Faris kepada Diki yang sedang berada dalam kamarnya sendiri.
"Kemana, Tuan!" tanya Diki.
"Jangan terlalu banyak bicara, dalam lima menit kamu harus sampai di depan pintu utama!" jawab Faris menegaskan.
"Baiklah!" jawab Diki dengan nada pasrah.
Faris mematikan sambungan telepon dengan asisten nya. Setelah itu, Faris mengetik pesan pada grup yang hanya ada dirinya bersama ke tiga sahabat nya itu, melalui via Whatsap.
"Kita bertemu di Bar, sekarang juga!" isi pesan yang di kirim kan Faris ke grup mereka.
Setelah itu Faris memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, bertepatan dengan terbuka nya lift yang dia masuki.
"Kita berangkat sekarang, Diki!" ajak Faris yang kini sudah berdiri di teras rumah, dengan Diki yang sudah standby di sana juga.
"Ta-tapi kemana?" tanya Diki tidak bisa menahan rasa penasaran nya.
"Tapi bagaimana dengan Nona muda?" tanya Diki lagi.
"Jangan banyak bertanya, Diki!" sergah Faris yang kini bernada dingin. Hingga Diki hanya bisa mengiyakan nya saja.
Tiga puluh menit, mobil Ferrari yang membawa Diki dan Faris sudah terparkir di depan bar yang pemiliknya adalah Faris sendiri.
Seperti biasa, Faris dan Diki menjadi sorotan para kaum hawa yang memandang mereka dengan takjub dan kagum, atas ketampanan yang ada pada diri keduanya.
"Kenapa dia malah ke sini di saat malam pertama nya, akan jadi apa nasib Nona muda, hanya tuhan yang tau!" batin Diki, meski kakinya terus melangkah tapi dalam hatinya terus menjerit, dia mengingat nasib wanita yang baru dinikahi oleh bos nya itu.
Sampai di ruangan VIP yang menang di khususkan untuk Faris, keduanya langsung melangkah masuk. Faris menduduki dirinya di sofa yang sudah ada bir di hadapannya. Diki mau tidak mau juga mendudukkan tubuhnya mengikuti tuan aneh nya itu.
Baru juga sebentar mereka duduk, dua orang perempuan sek-si sudah datang, untuk menuangkan minuman pada gelas dan di berikan kepada Faris dan Diki, tapi Diki menolaknya.
__ADS_1
"Apa anda merasa senang karna telah berhasil menikahi ustadzah, Nabil?" tanya Diki kepada Faris.
"Tentu, itu membuktikan jika aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan!" timpal Faris dengan enteng tanpa dosa.
"Semoga anda tidak mendapatkan karma nya, Tuan!" tukas Diki yang hanya mampu dia ucapkan dalam batin nya.
Tak berapa lama, ketiga sahabatnya pun datang, Faris langsung mengibas tangan nya kepada dua wanita yang duduk di samping nya. Wanita itupun patuh, dengan genit wanita itu menyentuh dagu Faris sambil melangkah keluar.
Rangga, putra dan juga Heri langsung duduk pada sofa yang masih kosong.
"Katakan, kenapa kamu mengajak kami bertemu di sini?" tanya Putra tanpa basa-basi.
Faris tersenyum sinis, lalu dia mengeluarkan dua buku kecil dan melemparkannya ke hadapan ketiga sahabatnya.
Mereka bertiga hanya saling lirik, lalu dengan cepat Rangga mengambil buku yang menandakan sah nya pernikahan antara Nabil dan Faris.
Nafas Rangga menggebu, suaranya tercekat, tangan nya gemetaran ketika melihat buku pernikahan milik wanita. Yang bertuliskan nama "Zaiyan Nabila"
"I-ini ...!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.
Jangan lupa Like, Komen dan juga Vote.