
Pagi yang indah dengan matahari bersinar hangat, perlahan namun pasti, cahaya nya masuk ke setiap celah ruangan, menyapu apapun yang ada di dalam tempat itu.
Sepasang hati menghangat, tatkala membayangkan gairah dan kehangatan yang sama-sama di dapatkan oleh dua manusia yang masih menggulung diri dengan selimut.
Hati yang sempat teriris telah sembuh, saat benih cinta di rasakan masuk dalam rahimnya, hati yang sempat beku telah mencair, seperti es batu yang di sinari oleh cahaya mentari.
Nabil membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah wajah tampan lelaki yang sudah seutuhnya menjadi suaminya.
Pipinya tampak merona, mungkin memori kejadian semalam terus berputar di ingatan nya, membayangkan betapa kuatnya sang suami saat menggagahi dirinya.
Dari semenjak kecil hingga umur nya yang sekarang, Nabil memang kali ini dekat, bahkan bersentuhan langsung dengan seorang lelaki, meski itu adalah suaminya sendiri, tapi tidak mengurangi rasa grogi, canggung bercampur malu. Bahkan sampai saat ini mereka masih sangat dekat, bisa dj rasakan tangan kekar Faris memeluk erat pinggang nya yang ramping.
Apalagi mengingat betapa pasrah nya dia semalam, bagaikan orang yang sudah lama mendamba, padahal sama sekali belum terpikir oleh nya, jika suaminya yang kejam akan menyentuh dirinya.
Kejam, mengingat sikap Faris yang tidak pernah baik dengan dirinya, Nabil mulai merasa takut, jika setelah itu Faris akan kembali mengacuhkan dirinya. Sedangkan hati Nabil sudah sepenuhnya di berikan kepada sang suami.
Takut jika Faris terjaga dan marah saat mengetahui mereka begitu dekat, Nabil berniat menggeser kan tubuhnya, hendak memindahkan tangan Faris.
Tapi yang terjadi adalah hal yang tidak Nabil duga, bukan nya melepaskan, Faris malah mengeratkan pelukannya.
"Biarkan seperti ini dulu!" ujar Faris dengan suara serak khas bangun tidur. Sungguh hal yang tidak pernah di bayangkan oleh wanita cantik itu.
Jantung Nabil mulai memompa dengan begitu cepat, bahkan dia yakin, jika suaminya itu bisa mendengar irama jantung nya yang berdetak tak karuan.
Sedangkan Faris yang juga sudah terjaga, senagaja berpura-pura masih tertidur, cucu Adinata Bagaskara ini sangat menikmati momen saat ini, ntah kenapa memeluk wanita di samping nya saat ini adalah hal ternyaman yang pernah dia rasakan.
Dari semalam, Faris tidak bisa mengontrol diri jika sudah berdekatan dengan Nabil, hingga membuat nya menyerang Nabil hampir subuh. Nabil memberikan kebahagiaan dan kenikm*tan yang belum pernah di rasakan oleh nya.
Apalagi mengingat, jika dia adalah orang yang pertama menyentuh sang istri, membuat kebahagiaan tersendiri bagi Faris, dia yakin, karna saat mencium Nabil, wanita itu terlihat linglung dan kaku.
__ADS_1
"Jika tau seperti ini, dari dulu aku menyalurkan nya pada dia, toh dia juga istri ku. Mulai sekarang aku tidak akan melepaskan dirinya, meski aku belum mencintai nya, tapi dia bisa membuat ku menjadi pria normal, dia lah penawar dari penyakit ku, akan ku ikat dia dengan pernikahan ini!" batin Faris, dia tidak sadar dengan perasaannya, yang dia paham, saat ini dia membutuhkan Nabil hanya untuk keperluan nya saja.
Nabil masih tidak berkutik, hingga dia melihat jam pada dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, matanya langsung terbelalak, tatkala mengingat, jika dia melewati solat subuh.
Tapi mengingat dirinya tidak solat subuh karna ada halangan nya, karna tertidur. Dengan ragu Nabil meminta agar Faris melepaskan dirinya, setidaknya dia masih bisa menqadha solat subuh nya.
"Mas, bisa kah kita bangun, kita belum solat subuh, mari kita qadha solat nya, aku ingin Mas menjadi imam dalam solat ku!" ajak Nabil dengan suara begitu lembut, hingga membuat bulu sekujur tubuh Faris mengerang.
Tapi, mendengar ajakan sang istri, Faris langsung melepaskan pelukannya, lalu kembali memejamkan matanya. Nabil hanya menggeleng melihat tingkah Faris, kemudian dia menarik selimut untuk membalutkan tubuhnya yang polos. Tapi dia malah terkejut melihat pada tempat tidur, dimana suaminya terlentang polos tanpa sehelai kain.
Tidak mungkin juga dia menyerahkan selimut itu kepada sang sumi, hingga dia berencana mengambil selimut yang lain, untuk menutupi tubuh suaminya itu.
Sedangkan Faris masih bersikap santai, tidak mempermasalahkan dengan keadaan nya yang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.
Nabil hendak melangkah, tapi baru dia menggerakkan kakinya, dia sudah memekik kesakitan.
"Aw ... Astaghfirullah, sssttttttr!" jerit Nabil di iringi dengan ringinsan.
Faris kaget saat mendengar Nabil menjerit, dengan segera dia bangun dan berdiri di belakang sang istri.
"Ada apa?," tanya Faris.
"Ssssssttt, tidak apa-apa, Mas!" jawab Nabil berusaha menahan rasa perih di bagian miliknya.
"Apa sesakit itu?" tanya Faris lagi yang paham, dengan apa yang di alami sang istri.
Nabil hanya tersenyum simpul "Sedikit!" timpal Nabil, seolah dengan nada rengekan.
Faris paham, dia ingin menggendong Nabil, tapi wanita berkulit putih itu menahan nya.
__ADS_1
"Apa yang akan Mas lakukan?" tanya Nabil tampak panik.
"Kamu ingin ke kamar mandi kan? biar saya yang menggendong mu ke sana!" tukas Faris, kembali ingin menggendong wanita yang semalam telah memberikan rasa bahagia di hatinya.
"Dengan keadaan seperti ini?" tanya Nabil lagi, Faris langsung melihat arah pandangan Nabil yang tertuju pada burung nya yang masih polos.
"Memang nya kenapa? Bukan kah semalam kamu sudah menyicipi nya?" tanya Faris spontan, membuat kedua pipi Nabil merona.
"Bukan seperti itu, tapi tidak baik jika kita dalam keadaan seperti ini, lebih baik, gunakan pakaian Mas dulu!" ujar Nabil merasa ragu.
Faris sejenak terdiam, lalu dengan patuh dia melangkah ke dalam Walk in closed, membuat Nabil tercengang dengan sikap Faris yang sangat patuh.
Tidak menunggu lama, Nabil kembali melihat Faris keluar dari ruangan ganti, dengan menggunakan kimono tidur nya.
Tatapan nya terpukau, suaminya itu memang sangat tampan, apalagi di tambah rambut nya yang acak-acakan, membuat ketampanan berkali-kali lipat.
"Sekarang sudah bisa kan?" tanya Faris yang sudah berdiri tepat di depan Nabil, membuat istri nya tersadar.
Nabil menunduk, lalu mengangguk kecil, sebagai jawaban.
Faris dengan sigap, langsung menggendong Nabil ala bridal style, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung.