
Jarum jam terus berputar, menggantikan detik, menit, jam, hingga tanpa terasa hari yang si tunggu-tunggu Nabil dan Faris pun tiba.
Saat ini di kediaman Bagaskara, Nabil dan Faris sudah siap dengan pakaian couple, Nabil menggunakan gamis brokat yang sengaja di rancang beberapa hari lalu, hijab yang tidak terlalu besar, akan tetapi sangat cocok saat di padukan dengan niqab, dengan warna peach senada dengan baju yang Faris pakai.
Saat ini calon Abi dan Ummi itu tengah berjalan dengan begitu pelan, ketika mereka keluar dari dalam lift, mereka langsung melangkah, tangan Faris tidak pernah lepas dari pinggang Nabil dan juga bahu sang istri.
Sambil terus berjalan sesekali mereka saling melirik dan tersenyum, terlihat jika mereka tampak sangat bahagia.
Mira dan mamanya, sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Tak lupa Diki yang juga sudah duduk di sebelah calon Ayah mertuanya.
Nabil dan Faris di persilahkan duduk di hadapan semua orang yang berhadir, tempat mereka memang di sediakan khusus, sudah ada Abi Zainal dan Ummi Fatimah di sana selaku orang tua dari Nabil.
Acara di ruangan utama yang sudah di sulap menjadi tempat luas dengan sedikit dekorasi penghias yang menambah keindahan tempat itu.
Acara pun di mulai, di buka dengan lantunan ayat suci Al-Quran, tahlilan, tausiah dari ustadz yang sengaja Faris undang, yang terakhir adalah doa bersama.
Setelah rangkaian acara selesai, semua orang yang berhadir masing-masing mendapatkan kotak makanan dan kotak berisi kue selain yang sudah mereka makan di dalam, tidak tinggal juga amplop coklat yang berisi uang sejumlah satu juta untuk seorang anak yatim, sudah ada anak buah Faris yang membagi nya dengan rata.
Sementara di dalam rumah, Nabil, Faris, Diki, Abi, Ummi, dan kedua orang tua Mira tengah duduk di sofa, mereka tengah berbincang-bincang, sebelum akhirnya Mira dan kedua orang tuanya pamit untuk pulang.
"Apa tidak makan malam dulu?" tanya Ummi Fatimah pada bunda nya Mira.
"Lain kali saja, Nabil pasti sang leleh. Istirahat ya nak, semoga kamu dan kandungan mu di berikan kesehatan dan selalu dalam lindungan nya," ucap bunda.
"Aaminn ... Makasih, Bunda! Bunda dan Ayah juga hati-hati ya." timpal Nabil sambil mencium punggung tangan mereka.
Mira ikut memeluk, Nabil. Matanya sesekali melirik pada Diki yang sedari tadi menatap nya.
Diki sedari tadi sibuk menatap Mira, ingin rasanya menarik Mira berada di dekatnya, akan tetapi dia masih belum bisa berbuat apa-apa.
"Aku pulang ya, Bil! Sehat-sehat ya," tukas Mira pada sahabat nya itu.
"Iya, Mir! Lagian mungkin Insya Allah kita akan bertemu lagi dalam acara mu," goda Nabil membuat pipi Mira merona, sementara Diki hanya memasang wajah tenang, seolah obrolan Nabil tidak tertuju pada dirinya.
__ADS_1
Semua terkekeh mendengar ucapan Mira, begitupun dengan Faris, dia sudah sangat gemas melihat tingkah Nabil yang sangat menggemaskan bagi nya, terlebih kecantikan sang istri terus menguji kesabaran nya sedari tadi.
Selepas keluarga Mira pulang, Faris langsung minta izin pada Ummi, Abi untuk membawa Nabil masuk ke dalam kamar, dengan alasan Nabil yang kecapean.
"Jangan di paksakan, Ris! Istrimu capek," celetuk Diki menggoda Faris sambil mengayunkan langkah nya juga untuk masuk ke dalam kamar.
Faris sudah tidak menghiraukan lagi, membuat kedua orang tua Nabil tersenyum, Ummi dan Abi sengaja Faris minta untuk menginap, karna mereka akan membahas tentang pernikahan Diki, karna Diki hanya sebatang kara, maka Faris meminta mertuanya menjadi orang tua untuk Diki.
Ummi dan Abi menyetujuinya, mereka sudah sangat salut dan bangga dengan menantunya itu, meski dia terlihat cuek, dingin dan kejam, ternyata dia sangat perhatian kepada Diki.
...****************...
Sementara di dalam kamar, Faris tanpa sabar langsung membuka niqab dan hijab Nabil, dia yang sedari tadi sudah sangat tidak tahan melihat kecantikan sang istri langsung ******* bibir Nabil.
Sementara Nabil sendiri merasa sedikit bingung, pasalnya Faris mencium nya tergesa-gesa, meski masih dengan kelembutan.
Faris terus melu*mat bibir sek-si Nabil, tangan nya perlahan membuka resleting gamis yang di gunakan sang istri, hingga melorot ke lantai, Nabil semakin terkejut dengan keagresifan sang suami, tapi dia tetap membalas ciuman Faris.
"Kenapa, Mas?" tanya Nabil melihat raut wajah keberatan Faris.
Faris menyatukan kening ke duanya "Kenapa harus ada kain itu lagi, kamu tau, sedari tadi aku sudah sangat tersiksa menahan sesuatu yang bangun karna melihat kecantikan mu," lirih Faris pada sang istri, nafasnya menerpa lembut kulit wajah Nabil.
Nabil mengerutkan keningnya "Kamu kan tidak bisa melihat wajah ku tadi, Mas!" sarkas Nabil yang masih di hadapan wajah sang suami.
"Kamu tau sayang, matamu itu penuh dengan pesona, aku bisa tidak tahan walaupun hanya menatap mata indah mu itu, kecantikan mu sudah melekat pada dirimu, di mata ku mau kamu menggunakan pakaian berlapis-lapis akan tetapi kamu terlihat sangat cantik dan mempesona, apa lagi hari ini kamu menggunakan hijab yang sedikit kekecilan, hingga badan sek-si mu terlihat jelas, dan itu berhasil membangkitkan ini," ucap Faris sambil membimbing tangan sang istri pada burung pusaka nya.
Wajah Nabil seketika merona ketika merasakan burung suaminya yang begitu gagah, dia ingin menarik tangan nya, akan tetapi Faris menahan nya, dia menggerakkan tangan Nabil di sana, hingga terdengar suara lenguhan dari mulut Faris.
"Apa aku salah karna menggunakan tentop?" tanya Nabil mengalihkan perhatian dari pergerakan tangan nya saat ini.
"Ka--kali ini a-aku maklumi, t--tapi kedepannya jangan gunakan baju itu lagi, di saat ak--aku menginginkannya, ak--aku langsung pada intinya tanpa harus melepaskan kain ini duluh..." tukas Faris terbata-bata karena ulah nya sendiri.
Tidak tahan lagi dengan sensasi yang di rasakan nya, Faris langsung menuntun tubuh Nabil ke kasur.
__ADS_1
Sepuas hati Faris mencium setiap inci tubuh putih sang istri, Nabil merasa tidak nyaman, karna sedari tadi dia sudah berkeringat.
"Mas, tubuh ku sedari tadi berkeringat, apa kamu tidak jijik, aku merasa tidak nyaman," sarkas Nabil dengan sesekali mengeluarkan suara goib yang terdengar merdu di telinga Faris.
"Justru tubuh berkeringat mu semakin membangkitkan ga*r*h ku, sayang!" jawab Faris dengan suara berat nya.
Nabil sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi jika sang suami sudah memimpin, dia hanya bisa pasrah dan menikmati perlakuan manis sang suami.
Faris mencium Nabil dan meninggalkan tanda cinta dimana pun dia mau, bahkan tak jarang Faris meninggalkan bekas ciuman nya di dagu Nabil, dan pipi dekat telinga, karna dia tau jika itu tidak akan di lihat oleh orang lain karna Nabil selalu menggunakan penutup wajah.
"Anak-anak, Abi ... Abi datang menjenguk kalian ya, Nak!" gumam Faris sambil mengecup perut besar sang istri.
Perlahan tapi pasti, Faris bergerak semakin lincah, hingga mereka sama-sama merasakan k*n*km*t*n saat pelepasan.
Ntah sampai berapa kali mereka mengulang nya, yang jelas Faris terus menyalurkan rasa yang sedari tadi dia tahan.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Aaa kok aku panas ya, yang jomblo mari sini merapat yok, temenin aku gigit jari, wkwkwkwk....
...Aku up banyak loh, jangan lupa ya dukungan nya....
Like, komen dan juga Vote kakak ku sayang.
__ADS_1