
"Tu-tuan!" pekik Nabil karna rasa terkejutnya.
"Aku datang ingin meminta jawaban mu, ukhti!" ucap lelaki itu yang ternyata adalah Faris.
"Ja-jawaban?" tanya Nabil masih terbata-bata. Dia merasa sangat gugup.
"Apa aku harus mengulangi nya lagi?" tanya Faris dengan sebisa mungkin menunjukkan senyuman di bibirnya.
Nabil langsung menunduk malu, kemudian diapun mengulurkan kedua tangan nya, memberikan kertas putih untuk lelaki di hadapannya.
Faris menaikkan alisnya sebelah, merasa heran dengan apa yang di lakukan wanita yang sering dia sebut buruk rupa.
"Apa ini?" tanya Faris lembut, tapi tidak dengan hatinya. Karna dalam batin Faris terus mengumpat Nabil, dia menganggap jika wanita bercadar itu terlalu mempermainkan dirinya.
"Ambillah, inilah jawaban saya!" jawab Nabil dengan suara lembut.
Faris akhirnya mengambil kertas tersebut, meski masih terlihat jelas dahi nya masih berkerut, menandakan dia masih belum pagam.
Nabil memalingkan wajahnya ketika Faris mengambil kertas tersebut, setelah itupun dia langsung pamit dan berlari dari hadapan, Faris.
"Dasar aneh!" rutuk Faris, saat melihat tingkah Nabil.
Kemudian diapun membuka kertas tersebut dan membaca tulisan di atas kertas putih di tangan nya.
__ADS_1
..."Jika anda serius dengan saya, jangan mengajak saya berpacaran, dan juga jangan tanya kepada saya, tapi datang dan temui lah kedua orang tua saya. Minta lah restu mereka!" ...
Wajah tampan Faris langsung memerah, sambil menggeratkan gigi tangan nya meremas kuat kertas yang tak berdosa tersebut, terlihat jelas urat-urat menonjol di tangan putih nya itu.
"Kurang ajar! Berani-beraninya wanita buruk rupa itu mempermainkan saya, jika bukan karena taruhan sialan ini, sudah dari dulu saya kasih pelajaran untuk wanita aneh itu. Dia membuat saya seperti orang bodoh yang mengemis cinta kepada dia!" umpat Faris, dia benar-benar merasa sangat marah, karna kemaren Nabil mengatakan jika dia akan menjawab pertanyaan Faris, dan hari ini malah menyuruh nya mendatangi orang tua Nabil.
Mungkin bagi para lelaki yang lain, akan merasa senang jika wanita yang dia lamar menyuruh mereka datang menghadap kedua orang tua wanita tersebut. Tapi tidak dengan Faris, dia merasa jika Nabil seolah mempermainkan dirinya.
Diki yang melihat kejadian itu hanya bisa membatin, sungguh tidak satupun yang mengerti dengan jalan pikiran Faris, dia yang membuat taruhan. Tapi seperti dia yang merasa dendam dengan Nabil.
"Dimana-mana orang akan senang jika di suruh mendatangi orang tua dari mereka, itu tandanya bos sudah mendapatkan lampu hijau. Bos kau orang yang pintar, tapi terkadang kau juga bodoh!" ingin sekali Diki mengatakan itu, tapi dia masih menyayangi nyawa juga pekerjaan nya. Melihat Faris sedang menahan emosi, Diki memilih diam.
"Diki, persiapkan! Nanti malam kita akan ke rumah wanita buruk rupa itu!" perintah Faris, lalu berjalan mendahului Diki.
"Untuk apa, bos?" tanya Diki belum paham.
Sedangkan Diki yang sudah membuka pintu mobil, seketika terkejut. Diapun langsung menutup nya kembali, tanpa menyadari jika tangan Faris sudah memegang pintu. Hingga suara teriakan Faris mengagetkan dirinya.
"Ahhhkkkkk ... Diki sialan, apa yang kau lakukan, hah!" Teriak Faris, dia melihat tangan nya sudah terjepit pintu mobil.
Diki yang melihat nya pun kaget, refleks dia juga berteriak "Ahh, kenapa bos menjepit tangan mu sendiri!" tanya Diki begitu khawatir, diapun langsung menarik kembali pintu mobil dan melihat tangan Faris yang sudah memerah.
Untungnya Diki tidak terlalu keras menutup pintu mobil, jadi tidak ada luka atau patah di jari tangan Faris.
__ADS_1
Faris langsung mengibas-ngibas tangan nya yang terasa memanas, satu pukulan pun tak bisa dia tahan untuk tidak di berikan kepada asisten ceroboh nya itu.
Bughhh...
Meski tangan Faris sakit, namun Diki merasakan jika pukulan Faris di hidung nya sama seperti biasanya jika dia mempunyai kesalahan.
"Maaf, Tuan! tapi saya kaget karna anda mengatakan ingin membakar rumah, ukhti Nabil!" jelas Diki dengan meminta maaf, tangan nya memegang hidung nya yang terasa perih.
"Seperti nya aku sudah harus ganti sekertaris yang lebih cerdas, dan juga tidak ceroboh!" ucap Faris sambil masuk ke dalam mobil.
Diki langsung kaget mendengarnya "Jangan, Tuan! Saya minta maaf, saya tidak sengaja tuan!" pinta Diki masih berdiri di luar mobil, tangan nya masih menahan pintu mobil seraya memohon kepada Faris.
"Tutup pintunya atau aku akan benar-benar mencerminkan asisten baru sekarang juga!" celetuk Faris mengancam. Mendengar itu Diki dengan begitu kuat menutup pintu mobil, hingga mengagetkan Faris.
"Ssshhhhiiiiittt, asisten tidak berguna!" umpat Faris sambil memejamkan matanya menahan kesal, dia masih meniup-niup jari tangan nya yang terasa sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.
Jangan lupa Like, Vote dan juga komen ya temen-temen ku❤️❤️.