
...Manusia tak lain hanyalah tanah, bidang datar yang tak bisa menebak, kemana arah akan berjalar....
...Namun, Allah dengan Fasih memberi pilihan antara arah baik dan arah buruk, kamu sendiri yang menentukan nya....
...****************...
Faris dan Nabil sudah sama-sama siap, keduanya akan berangkat meski dengan tujuan yang berbeda.
"Mulai sekarang kemanapun kamu pergi, harus bersama supir!" ucap Faris saat mereka berada di depan pintu utama.
Nabil mendongak dan menatap pada suaminya "Aku memang tidak bisa bawa mobil, Mas!" ungkap Nabil dengan jujur.
Faris sedikit terkejut, dia baru ingat jika istri nya itu memang wanita yang selama ini terjaga, bahkan dia tidak pernah keluar tanpa sang Aby yang menemani nya.
"Lalu kemaren kamu berangkat dengan siapa?" tanya Faris mendelik.
"Kemaren aku ke kampus naik taksi, Mas!" jawab Nabil lagi.
lelaki berkulit putih ini tertegun, merasa sedikit rasa bersalah. Dia orang yang paling kaya raya, tapi istri nya lah malah harus naik taksi, terlebih membuat nya semakin kasihan, karna istri nya itu sama sekali tidak mengeluh apapun, dia menerima semuanya dengan lapang dada.
Tanpa bisa dia menahan nya, Faris langsung membawa Nabil ke dalam pelukannya, saat ini Nabil sudah bisa menguasai kegugupan nya, meski jantung nya terus melompat saat mencium wangi maskulin dari tubuh sang suami.
"Aku tidak tau kalau kamu tidak bisa membawa mobil. Tapi sekarang sudah ada supir khusus untuk mu, dia yang akan mengantar jemput mu kemanapun kamu pergi!" tukas Faris kini menatap mata indah Nabil.
"Tidak apa-apa, Mas! naik taksi juga tidak buruk!" timpal Nabil, memang benar bukan, naik taksi bukan lah menjadi masalah besar.
Faris gemes, lalu menarik hidung mancung Nabil dari balik niqab berwarna peach itu.
"Hari ini berangkat lah di antar supir, aku sudah terlambat, ada rapat penting hari ini, jika tidak, aku juga bisa mengantar mu ke kampus" celetuk Faris, yang di angguki oleh sang istri.
Kemudian Faris mencium kening Nabil, dan bergantian Nabil menyalami tangan sang suami.
Diki juga sudah sampai, dia hanya diam saat menyaksikan kemesraan bos dinginnya bersama dengan sang istri.
"Akhirnya anda menerima nya, Tuan. Saya sangat bahagia melihat nya!" batin Diki, sebagai seorang yang sangat dekat dengan Faris dan Nabil wanita yang sangat dia Kagumi, tentu saja Diki merasa senang, sebab tidak ada alasan lagi untuk Faris menyakiti Nabil. Pikiran Diki seketika langsung mengarah pada burung Faris yang dia tau selama ini hanya tertidur.
__ADS_1
"Kalau di lihat dari caranya memperlakukan Nona Nabil, seperti nya dia sudah sering, memeluk dan mencium istrinya itu, karna mereka tidak terlihat canggung sama sekali!" lanjut Diki membatin.
"Jangan-jangan!" Diki terus menduga, jika memang apa yang dia pikirkan itu benar, maka Diki lah orang yang pertama merasakan kebahagiaan untuk tuan nya itu.
"Apa kau akan berdiri di sini seperti patung sepanjang hari, Diki?" tanya Faris mengagetkan sang asisten, juga membuyarkan lamunan nya.
Diki tersentak, sepersekian detik dia langsung sadar dan membuka pintu mobil untuk Tuan nya.
Sebelum masuk Faris terlebih dahulu menatap mobil yang Diki bawakan hari ini, terlihat berbeda. Itu artinya asistennya itu benar-benar mengganti mobil nya.
"Ini mobil yang kamu pilih, Diki?" tanya Faris menatap intens pada benda di hadapannya itu.
"Iya Tuan, Mobil Lamborghini Veneno Roadster, pengeluaran terbaru. Dengan top speed nya, menggunakan mesin V12, berkapasitas 6.2liter, yang mampu meledakkan sebesar 740ph. Kemampuan dan kecepatan nya bisa mencapai 0-100km/jam, hanya dalam waktu 2.9detik. Kecepatan maksimal nya 355km/jam" jelas Diki yang paham jika Faris ingin mendengar rincian nya.
Faris mengangguk-angguk mendengar yang baru saja di jelaskan oleh Diki, sambil tangannya di gerakkan untuk mengelus dagunya. Dia merasa senang, asistennya itu memang selalu bisa di andalkan, paling tau apa yang dia inginkan.
Nabil yang masih berdiri di belakang Faris, langsung melebarkan matanya, saat mendengar penjelasan Diki, bahkan dalam satu tarikan nafas, Diki mampu menjelaskan segala nya begitu rinci.
"Bagus, Diki, aku suka mobil ini!" puji Faris. Dia memang selalu puas dengan pilihan Diki.
"Berapapun harganya, tidak mungkin membuat ku menjadi miskin bukan?" tanya Faris dengan nada angkuh dan sombong.
Nabil hanya menggeleng, ingin dia mengatakan jika Allah tidak akan suka kepada orang sombong, tapi dia itu hanya sampai pada tenggorokan nya.
Yang benar saja, mana mungkin dia berani menegur sang suami yang mempunyai mata tajam.
"Berapa harganya?" tanya Nabil yang merasa penasaran, karna asisten suaminya tidak jadi memberitahu.
Diki tidak langsung menjawab, dia terlebih dulu menatap pada Faris, seolah meminta persetujuan.
Meski dengan wajah kesal, Faris sedikit mengangguk, menyatakan bahwa Diki bisa berbicara dengan istrinya.
"Harganya hanya 74,6Miliar, Nona!" jawab Diki dengan begitu santai. Namun, tidak dengan Nabil, dia tampak begitu terkejut.
"Tu-tujuh puluh empat Miliar?" ulang Nabil memastikan.
__ADS_1
"Sudah, jangan terkejut seperti itu, Suami mu ini orang yang sangat kaya, bahkan aku mampu membeli 100 unit mobil yang sama seperti ini!" celetuk Faris mengalihkan perhatian Nabil.
"Ya sudah, karna ini mobil baru ku, jadi pagi ini aku akan mengantar mu ke kampus!" ajak Faris sudah menggenggam tangan sang istri untuk masuk ke dalam mobil.
"Tapi, Mas kan harus ikut rapat!" elak Nabil, karna tadi dia ingat jika Faris mengatakan ada rapat penting.
"Lupakan soal itu, aku adalah bos, mereka tidak bisa rapat tanpa aku, jadi mereka pasti akan menunggu!" tukas Faris lagi, dan akhirnya Nabil tidak biasa menolak lagi.
Di sepanjang perjalanan, Faris tidak pernah melepaskan Nabil dari pelukan nya, dia merebahkan kepala sang istri pada dadanya yang bidang, tangan nya sedari tadi terus masuk ke dalam niqab yang di gunakan Nabil, memainkan wajah mungil dari balik kain tersebut.
Diki terus memperhatikan kedua nya, hingga suara Faris mengagetkan dirinya.
"Buang pandangan mu itu, Diki! Apa kamu iri?" tanya Faris tanpa perasaan, hingga membuat jiwa jomblo Diki tersinggung.
Namun, dia hanya mengatakan tidak apa-apa, dan akhirnya kembali fokus pada jalanan.
Hingga mereka sampai tepat di depan gerbang kampus Nabil, sebelum turun, tentu nya tidak lupa Faris memberikan ciuman nya pada dahi Nabil, dapat di lihat kalau saat ini dia begitu sangat mencintai Nabil, meski dia beranggapan hanya memerlukan tubuh Nabil.
"Aku turun ya, Mas, Assalamualaikum!" ucap Nabil, Faris sama sekali tidak mau menjawab salam Nabil.
Nabil turun, sedangkan Diki langsung ingin menancap gas mobil Kembali, tapi suara seseorang memanggil Nabil sungguh membuat telinga Faris terasa panas.
"Ukhti Nabil!" panggil seseorang.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan juga vote ya 😊😊❤️