Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Apa kamu mencintai nya?


__ADS_3

Diki bungkam saat mendengar pertanyaan yang Faris berikan, dia sendiri belum tau perasaan nya pada Mira bagaimana, dia hanya tidak ingin wanita itu bersikap cuek kepada nya dan juga tidak ingin jika Mira dekat dengan laki-laki lain. Satu hal lagi, dia begitu sering teringat pada wanita bercadar itu, bahkan dia sempat kesal sendiri karna Mira tidak membalas pesan nya.


"Kenapa kamu hanya diam di saat saya bertanya, apa kamu mendadak bisu?" tanya Faris kembali mengagetkan, Diki.


Lamunan Diki seketika buyar "Saya tidak tau, Tuan! Mungkin saya hanya penasaran pada nya." jawab Diki tanpa beban.


Alis Faris langsung terangkat sebelah "Cuma penasaran? Sebegitu besarnya penasaran mu padanya hingga kamu mengirimkan pesan puluhan pesan hanya dalam satu menit, bahkan marah jika dia tidak membalasnya," sergah Faris.


"Saya yakin seratus persen jika kamu sudah mencintai kucing liar mu itu." imbuh Faris lagi.


"Kenapa anda yang yakin, yang merasakan saya." elak Diki, dia masih tidak setuju dengan apa yang di ucapkan Faris.


"Karna kamu belum menyadari, tapi kamu akan sadar jika kamu mencintai nya setelah dia menjauh atau pergi darimu." timpal Faris dengan begitu serius, tatapan nya tidak lepas dari sang asisten.


"Dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi." batin Diki menyahuti ucapan Faris.


"Jika boleh aku berpesan, jika memang kamu memang mencintai dia, jangan buang waktu mu dengan mengirimkan pesan ketus seperti ini. Datangi dan ungkapkan, setelah itu temui orang tuanya,"celetuk Faris sangat bijak.


"Mudah sekali dia berkata, aku yang pusing harus memikirkan itu senua!" lagi-lagi batin Diki hanya menjerit.


"Saya hanya tidak yakin jika lelaki seperti saya pantas untuk wanita seperti dia." sarkas Diki.


"Tidak ada kekurangan di mata wanita yang benar-benar menerima kita apa adanya. Kamu bisa belajar dari pengalaman ku, ya meskipun itu masuk dalam tahap wajar, karna aku tampan dan menawan." nasehat Faris yang ujungnya malah muji diri sendiri.


"Maksud anda saya tidak tampan?"


"Kurang, masih kalah jauh kalau di bandingkan dengan saya."


"Tapi banyak juga wanita yang melirik ku," ucap Diki tidak terima, dia bangun dan mendekati Faris.


"Itu karna mereka belum melihat ku." Faris juga ikut bangun dan mendekati Diki.


Mereka saling perang dengan pandangan, saat mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba.


Ceklek...


"Ma--mas, Kak Diki. Apa yang kalian lakukan?" tanya Nabil yang baru sampai.


Mendengar suara sang istri, Faris langsung mengalihkan pandangannya.


"Sayang, kamu sudah sampai?" tanya Faris, dia langsung mendekati Nabil dan membawa nya dalam pelukan.


"Apa aku mengganggu waktu kalian? Seperti nya kalian sangat serius!" tanya Nabil kembali.

__ADS_1


Diki dan Faris sama-sama mengerutkan keningnya, kemudian mereka sama-sama menggeleng.


"Buang pikiran kotor mu itu, sayang! Aku hanya memberikan arahan kepada asisten bodoh ini."


"Arahan apa?" tanya Nabil tidak mengerti.


"Arahan cara mendapatkan banyak wanita, Nona!" imbuh Diki, Nabil yang mendengar nya langsung menatap tajam pada Faris, sedangkan yang di tatap langsung menggeleng.


"Apa kamu ingin hari ini terakhir kamu bekerja di sini?" tanya Faris mengancam Diki.


"Kenapa? Kak Diki tidak salah, kamu yang salah, karna memberikan arahan yang sesat untuk nya," tatapan Nabil beralih pada Diki.


"Kakak jangan dengarkan dia, cukup dia yang jadi lelaki banyak wanita, kakak jangan!" seru Nabil, Diki hanya mengembangkan senyumnya kemenangan sekaligus mengejek Bos nya itu.


Faris langsung menarik Nabil pada kursi kebesaran nya, kemudian dia langsung mendudukkan Nabil di atas pangkuan nya.


"Apa kamu lebih mempercayai orang lain daripada suami mu sendiri?" tanya Faris, tangan nya sudah masuk ke dalam niqab, mengelus pipi lembut Nabil dari balik kain tersebut.


"Mas, ada Kak, Diki!" ujar Nabil, dia merasa malu karna ada orang lain di sana.


"Memang nya kenapa dengan dia, biarkan saja dia melihat kemesraan kita, biar dia secepatnya mencari pasangan." sergah Faris, tangan nya langsung lincah memegang gundukan sang istri, sedikit meremas dari luar baju, membuat Nabil harus menahan suatu aneh nya.


"Aku juga, dasar bos mesum." cerca Diki dalam hati.


"Ini hukuman karna kamu berbicara baik dengan lelaki itu." jawab Faris santai, tangan nya makin lincah meraba tubuh Nabil, sedikit menyikap baju yang di gunakan Nabil, hingga dia dengan leluasa mengelus paha mulus sang istri.


"Mas, lepaskan aku. Ada Kak Diki." bisik Nabil, Faris berhenti sejenak, melihat pada Diki.


"Apa kamu akan terus berdiri di sana dan melihat kami melakukan adegan selanjutnya?" tanya Faris pada Diki.


"Baik, saya keluar." pinta Diki dengan sangat sopan.


"Tadi menyuruhku tetap di ruangan nya." lanjut Diki dalam hati.


Setelah Diki keluar, Faris langsung melancarkan aksinya, yang pertama dia lakukan membuka niqab yang di gunakan sang istri, setelah itu dia langsung ******* bibir sang istri, Nabil pun ikut mengalungkan tangannya di leher Faris.


"Aku pingin, sayang, kangen juga sama si kembar." bisik Faris setelah melepaskan ciuman mereka.


Melihat mata Faris yang sudah sayu, Nabil paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesuai yang dia pikirkan, tubuhnya langsung terasa melayang saat sang suami menggendong dirinya masuk ke dalam kamar.


Faris membaringkan Nabil dengan begitu lembut, dia kembali mencium bibir Nabil. Tidak hanya di sana, bahkan terus turun hingga ke leher sang istri, memberi tanda kepemilikan di seluruh badan putih susu milik Nabil.


Dan penyatuan pun kembali terjadi, Nabil yang pasrah menerima setiap perlakuan lembut yang di berikan oleh suaminya.

__ADS_1


...****************...


Jam terus berputar, hari pun berganti malam. Mira baru saja selesai solat magrib beserta mengaji yang tidak pernah dia tinggalkan. Selesai merapikan mukena, bunda nya pun masuk dan memanggil dirinya.


"Nak, ayo turun kita makan. Jangan lupa pakaikan niqab mu ya!" seru bunda, Mira sedikit heran, pasalnya tidak biasanya bunda menyuruh dirinya menggunakan niqab untuk makan malam.


"Kenapa, Bunda?"


"Udah, kamu pakaikan saja dan cepat turun."


"Baik, Bun!" Mira langsung menggunakan khimar dan niqab setelah bunda menutup kembali pintu kamarnya.


Setelah selesai, matanya melihat ponsel yang sedari tadi tidak dia buka. Tepatnya setelah membaca pesan Diki, yang terus mengancam bahwa akan datang ke rumah untuk mengajak dirinya keluar.


Setelah melihat tidak ada pesan lagi, Mira meletakkan ponselnya dengan sedikit kesal.


"Dasar lelaki nyebelin, tadi dia mengirim pesan begitu banyak, tapi setelah itu menghilang ntah kemana. Tapi baik lah, berarti dia tidak menggangu ku lagi." gumam Mira sebagai, kakinya dia langkahkan keluar dari dalam kamar.


Berjalan dengan bersenandung sholawat dengan suara sedikit keras, dengan begitu riang dia terus menginjak satu persatu anak tangga agar dia bisa sampai pada meja makan.


Tapi dia merasa aneh saat melihat meja makan yang belum ada orang, hanya makanan yang sudah tertata dengan rapi.


"Tidak seperti biasanya," batin Mira, akan tetapi dia tidak mau ambil pusing, langkahnya pun dia ayunkan pada ruangan tamu, karna di sana terdengar orang yang sedang berbicara.


"Ayah, Bunda, kenapa masih di sini katanya tadi mau ma--"


Deg.....


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Ayo ... Kenapa dengan, Mira, ya?


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.

__ADS_1


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2