
Faris masih setia menemani sang istri yang saat ini juga masih terbaring lemah di atas tempat tidur, tangan nya tak henti terus saja mengelus perut juga kepala sang istri, sekali-kali berpindah mencium tangan Nabil.
Dr.Risak sudah izin untuk pulang, dan Mira pamit untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kapan Mas pulang?" tanta Nabil setelah dia merasa tenang.
"Baru saja, sayang!" jawab Faris menatap kedua manik sang istri.
"Apa pekerjaan, Mas di sana sudah selesai?" tanya Nabil lagi, tangan nya juga ikut mengelus punggung tangan sang suami.
"Jangan pikirkan yang tidak penting dulu, sayang! Saat ini kesehatan mu jauh lebih utama." timpal Faris lagi.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar mereka terdengar di ketuk dari luar. Melihat istri nya yang tidak menggunakan niqab, Faris memilih untuk membuka sendiri daun pintu kamar nya, karna takut jika yang mengetuk adalah laki-laki.
Sesuai dugaan Faris, yang sekarang tengah berdiri di depan kamarnya adalah Diki, asisten yang dia suruh cari dalang dari semua masalah yang sedang dirinya dan istri hadapi.
Sebelum Diki mengucapakan sesuatu, Faris sudah menyuruh nya diam.
"Kita bicara di ruangan kerja ku saja, panggilkan Mira untuk menemani istriku," perintah Faris.
"Baik, Tuan!" Faris kembali masuk, duduk di tepi ranjang, dia belum meninggalkan Nabil jika Mira belum datang.
Diki yang mendapat perintah memanggil Mira langsung memutar tubuhnya menghadap kamar di mana Mira berada.
Meski ragu, tapi Diki tetap mengetuk pintu yang tertutup rapat, wajah nya terlihat tegas, sangat jelas bahwa saat ini benar-benar tengah serius.
Sudah beberapa kali Diki mengetuk daun pintu kayu tersebut, tapi tidak ada tanda-tanda jika orang di dalam akan membuka nya.
"Nona, Mira! Bisa keluar sebentar?" tanya Diki, tapi masih tetap tidak ada suara dari dalam.
"Duh, kemana perginya kucing liar itu, kenapa dia tidak membuka pintu nya," gerutu Diki, tangannya pun bergerak merogoh saku celananya mengambil ponsel canggih miliknya.
__ADS_1
Sudah beberapa kali Diki mencoba menghubungi Mira, tapi tak kunjung di angkat.
"Ah ... Lama sekali sih kucing liar itu, mana aku lagi ada hal penting yang harus ku sampaikan pada Faris lagi, apa aku cek saja ya di dalam?" gumam Diki pada dirinya sendiri.
Mengingat dia ada hal penting yang harus di bicarakan sekarang, Diki memegang handel pintu dengan tangan gemeteran.
"Bagaimana kalau dia menganggap aku tidak sopan masuk ke dalam kamar orang," celetuk Diki pada dirinya sendiri.
"Tapi kalau aku tidak menemui nya, Faris akan sangat marah, karna di kira aku nggak becus," Diki terus saja berdebat dengan pemikiran nya sendiri.
"Akhhhhhh ... Persetan dengan kemarahan kucing liar itu, aku harus segera memberitahukan pada Faris tentang informasi yang aku dapatkan." tanpa ragu Diki langsung mendorong pintu kamar Mira.
Ceklek...
Diki membuka pintu, sedangkan Mira menutup pintu kamar mandi, Mira berbalik, alangkah terkejutnya dia melihat seorang lelaki yang berdiri kaku di ambang pintu kamarnya menatap nya tanpa berkedip.
Reflek Mira langsung berteriak karena merasa sangat terkejut, Diki yang melihat keindahan manusia di hadapannya langsung menegang, tatapan nya tak berkedip sekalipun, nafasnya terasa tercekat, suaranya hanya sampai di tenggorokan.
Mira hanya memakai kimono handuk seukuran betis, karna dia baru selesai mandi, rambutnya yang basah seukuran bahu, wajah nya yang berseri-seri, bagaikan jelmaan bidadari yang di turunkan ke bumi ini.
"Kenapa anda masuk ke dalam kamar saya, hah?" bentak Mira dari dalam, dia sungguh tidak rela karna Diki sudah melihat dirinya tanpa khimar dan niqab, terlebih tubuh montoknya terlihat jelas yang hanya berbalut kimono berwarna putih tersebut.
Diki masih tidak bisa menjawab apa yang di lontarkan oleh Mira, pikiran nya masih terbayang tentang wajah Mira yang ternyata sangat ayu dan cantik, hingga dia mendengar suara tangis dari dalam kamar.
"Hiks ... Hiks ..." Mira menangis sambil memakai khimar dan juga niqab nya, dia juga langsung menggunakan sarung supaya menutupi betis putih mulusnya agar tak terlihat lagi.
Mendengar Mira terisak, Diki menjadi penasaran, kenapa tiba-tiba wanita itu malah menangis.
"Ada apa denganmu, kenapa malah menangis?" tanya Diki tanpa rasa bersalah.
"Ada apa katamu? Anda orang yang tidak punya etika, masuk ke dalam kamar orang lain tanpa permisi, dan anda telah melihat wajah saya tanpa izin dari saya," cerca Mira nada tinggi.
__ADS_1
"Hanya melihat wajah, bahkan tidak sampai lima menit, dan kamu telah mengatai ku dengan berbagai macam hal, lalu kenapa kamu masih menangis, mengapa wanita yang menutup wajah sangat berlebihan, bahkan di luar sana banyak yang memperlihatkan tubuhnya tapi biasa saja, sedangkan kamu hanya tanpa sengaja ku lihat wajah mu, tapi sudah menangis seperti aku sudah melakukan sesuatu hal yang tidak-tidak dengan mu," imbuh Diki dengan enteng mengucapkan semua itu. Dia juga merasa tersinggung dengan ucapan Mira yang mengatakan tidak memiliki etika, seumur hidupnya baru ini kali pertama mendapat kata-kata kasar dari seorang wanita.
"Bahkan aku sama sekali tidak tertarik dengan wajah mu itu." lanjut nya lagi.
Mendengar itu semua membuat Mira semakin meradang, tapi kini dia tidak menanggapi dengan nada kasar atau suara lantang lagi, melainkan dia mendekati Diki dan berdiri di belakang lelaki yang masih memunggungi dirinya.
"Bertahun-tahun saya menjaga kesucian dan kehormatan saya, bertahun-tahun saya menutup aurat saya di depan semua laki-laki, tapi hari ini ada lelaki yang melihat nya, bagaimana saya tidak sedih? Saya tidak rela, karena bukan suami saya yang melihat nya pertama kali, karna wajah dan semua yang ada pada diri saya, saya ingin suami saya yang melihatnya pertama kali," ujar Mira dengan begitu lirih.
"Dan tolong, jangan samakan saya dengan wanita di luar sana, semua memiliki sifat dan pemikiran masing-masing, mereka bangga dengan kecantikan mereka dan memamerkan nya, tapi saya tidak ingin ada yang melihat rupa saya selain dari mahram saya, saya belum pernah membuka pakaian walaupun hanya penutup wajah, apa tidak wajar jika saya merasa sedih?" tanya Mira lagi masih dengan sesugukan.
Diki terdiam seribu bahasa, dia mencerna semua ucapan wanita di yang ada di belakang dirinya saat ini, Diki terus berpikir sebegitu nya Mira menjaga dirinya untuk suaminya kelak.
"Maafkan saya, karna saya sudah lancang, saya tidak tau jika anda sedang mandi, jika bisa tolong maafkan ucapan saya. Untuk ke depan saya akan berusaha menjaga etika saya," imbuh Diki ingin melangkah berjalan.
"Ah ya, satu lagi, Tuan Faris meminta tolong menjaga Nona Nabil, karna ada sesuatu hal yang perlu kami bahas." setelah memberitahu Mira, Diki langsung melangkah, meninggalkan Mira tanpa melihat wanita yang sudah terduduk di atas lantai kamarnya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Duh ... Kok Diki dan Mira makin rumit ya, kasian juga Mira.
__ADS_1
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.