
Suasana pagi hari ini, terasa sangat berbeda, tepatnya bagi Faris. Karna baru pertama kali dia menginap di rumah sang mertua, semenjak kemaren mereka sampai, Faris merasakan ketenangan hatinya menghangat, dia merasakan keluarga nya yang utuh.
Begitupun juga dengan Diki, meski hanya asisten dan teman Faris, tapi dia cukup bahagia melihat perubahan besar dalam diri bos nya itu, Diki yakin jika sebentar lagi Nabil akan mengubah kehidupan Faris.
"Nak, bagaimana keadaan Kakek? Dimana dia?" tanya abi Zainal di perjalanan pulang, karna subuh tadi abi mengajak Faris dan Diki untuk ke masjid, meski keberatan Faris tetap menyetujui nya.
"Kakek di luar negri, dan keadaan nya juga sehat!" jawab Faris seadanya.
"Hmm ... Syukur lah jika begitu," timpal abi lagi.
"Sampai sekarang Abi masih tidak menyangka jika putri Abi yang selama ini tinggal di pesantren, akhirnya berjodoh dengan seorang pebisnis terkaya di negara ini," gumam abi dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.
Faris mengerutkan keningnya sambil menatap Diki, namun asisten nya hanya mengedikkan bahu, juga tidak mengerti.
"Abi berlebihan sekali," tukas Faris.
Abi melihat pada menantu yang berjalan di sebelahnya, sambil terkekeh dia menjawab "Abi kira jodohnya adalah seorang ustadz atau guru ngaji nya, tapi perkiraan Abi salah, Allah telah mentakdirkan kalian berdua."
Bagikan hantaman keras yang mengenai lubuk hatinya, dia merasa tersinggung dengan ucapan sang mertua, apa ayah dari istri nya itu tidak suka mendapatkan menantu seperti dirinya.
"Apa Abi merasa saya tidak pantas menjadi pendamping, Nabil? Apa saya tidak layak? Atau Abi menyesal karna telah menikahkan saya dengan putri Abi?" tanya Faris berteteran, nafas nya memburu, sungguh pagi-pagi dia sudah di buat senam jantung oleh mertuanya.
Diki terkekeh di sebelah Faris, dia tau jika bosnya sekarang sedang menahan amarah, dalam hati dia hanya berharap jika Faris tidak akan membunuh mertua nya.
Mendengar komentar sang menantu, abi melayangkan pukulan di lengan Faris "Bicara apa kamu, Abi tidak mengatakan jika Abi tidak menerima mu," sergah abi, menyangkal ucapan Faris.
"Tapi Abi mengatakan kalau Abi berpikir menikahkan istri saya dengan guru nya," cerocos Faris lagi.
"Abi hanya tidak menyangka, jika pria mapan, tampan dan sukses seperti mu bisa terpikat dengan anak saya yang hanya gadis biasa." lanjut abi lagi.
Faris terlihat menghela nafas nya, dengan bangga dia pun tersenyum lebar karna mendengar sang mertua memuji dirinya lelaki yang tampan.
"Putri Abi sangat istimewa bagi saya, jadi jangan sebut dia gadis biasa," cibir Faris, tidak perduli yang berbicara itu ayah dari istri nya, yang jelas Faris tidak akan suka jika istri nya di anggap biasa, karna baginya Nabil seperti bidadari yang terlalu sempurna.
Lagi-lagi satu pukulan di layangkan abi pada lengan Faris "Heh, dia itu anak saya, kenapa kamu bicara seperti itu!" protes abi, tapi tersimpan senyuman di balik raut wajah yang sengaja dia buat bengis.
"Tapi dia istri saya," jawab Faris telak.
"Kenapa kalian sangat kekanakan, hanya masalah sepele kalian berdebat, ingat! Kalian itu mertua sama menantu." ucap Diki menengahi keduanya.
Abi dan Faris langsung menatap pada Diki "Kamu membentak kami?" tanya keduanya secara bersamaan.
Diki terlihat menganga dengan mulut terbuka, sepersekian detik dia kembali menetralkan mimik wajahnya.
"Sudah, kita sekarang sudah sampai. Abi, Tuan, saya masuk duluan, mau mandi." ujar Diki langsung menghilang dari hadapan Faris dan juga abi Zainal.
Keduanya menggeleng kepala, kemudian ikut masuk ke dalam rumah.
...****************...
Pukul tujuh lewat, Faris dan Nabil sudah berdiri di ambang pintu dengan Diki berdiri di samping mobil, sambil memegangi pintu yang telah dia buka untuk tuan mudanya.
Nabil menyerahkan tas kerja kepada sang suami, kemudian dengan sopan dia mencium punggung tangan Faris.
"Kamu jadi ke rumah sahabat mu nanti?" tanya Faris setelah melepaskan ciuman di dahi Nabil.
__ADS_1
"Jadi, Mas! Aku akan memasak terlebih dahulu untuk makan siang mu." jawab Nabil dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"Jangan terlalu capek, Diki bisa memesan makanan untuk ku," tukas Faris bermaksud tidak ingin membuat sang istri terlalu banyak beraktivitas, tapi malah salah di pahami oleh Nabil.
"Jadi kamu lebih suka makanan yang di pesan daripada masakan ku?" tanya Nabil langsung menunduk, ntah lah selama hamil Nabil memang terkesan sangat sensitif.
Mendengar hal tersebut membuat Faris mengerutkan keningnya, dia menatap pada Diki sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang ... Hei, aku tidak bilang begitu, aku hanya tidak ingin kamu kelelahan saja," sarkas Faris, tangannya memegang pundak sang istri, kemudian membawa Nabil dalam pelukannya.
"Aku akan menunggu mu di kantor." lanjut Faris lagi, dan Nabil langsung melihatnya dengan tatapan bahagia.
Sungguh, Faris merasa lega sekaligus bingung, mood istrinya bisa berubah dalam hitungan detik.
Setelah yakin Nabil tidak marah lagi, Faris langsung berangkat, Nabil melambaikan tangan nya ke arah mobil yang suami nya naiki, saat berlalu di hadapannya.
Sampai di kantor, Faris dan Diki langsung melangkah masuk, keduanya tidak pernah lepas dari tatapan mengagumi, para karyawan wanita seolah tidak pernah bosan memandangi dua manusia tampan yang terkesan kaku ini.
"Diki, apa jadwalku hari ini?" tanya Faris sesaat setelah menduduki kursi kebesaran nya.
Tangan Diki langsung aktif menggeser layar persegi di atas pahanya.
"Kita akan mengadakan rapat tentang rancangan gelang canggih yang akan segera di desain," jawab Diki dengan cekatan.
"Setelah itu, banyak berkas yang perlu Anda periksa dan tanda tangani! Dan lusa kita akan ke luar kota untuk mengecek saham di cabang perusahaan." lanjut Diki lagi, Faris langsung menatapnya tajam.
"Apa? Keluar kota? Kenapa tiba-tiba, dan bagaimana aku meninggalkan istri ku yang sedang hamil muda," protes Faris.
"Hanya sekedar mengecek saham di perusahaan kita, Tuan. Kita tidak akan lama." usul Diki lagi, dan Faris hanya diam, dia tau itu memang tanggungjawab nya, meski dia harus meninggalkan sang istri untuk beberapa hari.
...****************...
Sekarang ini Nabil tengah berdiri di samping meja makan, berjalan ke sana kemari sambil sesekali melihat jam tangan nya.
"Kenapa Kak, Diki belum sampai ya?" gumam Nabil bertanya pada dirinya sendiri.
"Nak, kamu sudah siap?" tanya ummi Fatimah yang sedang berjalan ke arahnya.
"Sudah, Ummi. Nabil sedang menunggu kak Diki!" jawab Nabil sekaligus menjelaskan.
Belum sempat ummi menjawab, suara klakson mobil sudah terdengar dari luar rumah.
"Itu mungkin Diki, Nak!" ujar ummi menebak.
"Iya, Mi! Itu pasti kak Diki, ya sudah kalau begitu Nabi pamit ya, Mi," pinta Nabil mencium tangan wanita yang sangat dia sayangi ini.
"Iya nak, hati-hati ... Sering-seringlah main kesini" tukas ummi.
"Pasti, Mi." berpelukan sebentar, setelah itu, Nabil mengambil dua kotak makan dan menjinjing nya, kemudian dia langsung melangkah keluar, dan benar saja dia melihat Diki sedang membukakan pintu mobil untuk dirinya.
"Aku menunggu Kakak sedari tadi," gumam Nabil dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar oleh Diki.
"Maaf, Nona! Jalanan kota macet!" jawab nya singkat.
"Iya kak, Nabil paham." timpal Nabil lagi.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada percakapan di antara ke duanya, suasana di dalam mobil terkesan hening. Wajar saja, karna Nabil memang sangat menghemat bicara jika dengan lelaki lain, sedangkan Diki lelaki dingin, kaku dan cuek, wajar saja jika perjalanan mereka hanya di temani oleh keheningan.
Tidak terlalu lama berada di jalan, mobil mereka berhenti sebuah rumah minimalis dengan arahan Nabil. Tidak terlalu kecil, bahkan di katakan besar juga mewah.
"Kita turun, Kak!" ajak Nabil, dia langsung memakai tas selempang nya kembali, kemudian tangan lentiknya mengambil kotak makanan yang dia siapkan untuk, Mira.
"Saya tunggu di sini saja, Nona!" jawab Diki sopan juga sangat formal.
"Tidak, tidak ... Kakak harus ikut turun!" celetuk Nabil dengan begitu tegas.
"Tap-"
"Tidak ada tapi-tapian, kakak harus ikut, kalau kakak membantah, Nabil aduin sama Mas Faris" ucapan Diki langsung terputus karna Nabil menyelanya.
Diki menarik nafas panjang "Aku pikir dia ketularan sifat suaminya yang suka memaksa dan juga mengancam." batin Diki, tidak ada pilihan lagi, dia pun ikut turun mengikuti istri tuan nya.
Sekarang mereka sudah berada di depan pintu utama rumah Mira.
Ting..tong..ting..tong!
Suara bel rumah Mira yang di tekan Nabil, setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara dari dalam menyahuti nya.
Ceklek...
Pintu rumah terbuka, muncul lah wanita paruh baya yang masih sangat cantik nya dengan hijab yang dia kenakan.
"Bunda," panggil Nabil sambil menyalami tangan ibu sahabatnya.
"Nabil, kamu ke sini nak? Bunda sangat merindukan kamu" ujar nya langsung memeluk, Nabil dan Nabil pun membalasnya.
"Nabil juga sangat merindukan Bunda, Nabil dengar Mira sakit ya bun?" tanya Nabil setelah melepaskan pelukan mereka
"Iya, Nak! Sudah hampir satu Minggu dia pulang dari pesantren," jelas bunda lagi.
"Nabil mau melihat Mira, Bun'' pinta Nabil.
"Oh iya silahkan, Nak! Ayo kita masuk dulu" ajak nya baru sadar jika mereka berdiri di ambang pintu, tapi sebelum masuk, dia bertanya pada Nabil dengan mengisyaratkan mata, seolah dia bertanya siapa lelaki ini.
"Ah ya, kenalkan Bunda, ini Kak Diki, orang kepercayaan nya Mas Faris." jelas Nabil tidak langsung mengatakan asisten suaminya.
Diki tersenyum saat bunda dari Mira menatap nya, kemudian Diki ikut mengalami nya.
"Siapa, Bun?" suara lemah terdengar dari belakang bunda.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like komen dan juga Vote.
Oh ya ranting nya juga kalo nggak keberatan, beserta bunga nya😁❤️.