
Jarum jam terus berputar, matahari pun mulai turun, menggantikan siang dengan malam yang mulai gelap, para tamu pun semuanya sudah pulang, tinggal para keluarga yang masih di tempat tengah menyantap makan malam di hotel tempat di adakan resepsi pernikahan Faris dan Nabil.
Semua terlihat begitu bahagia, akhirnya anak mereka sudah meresmikan pernikahan, di tambah dengan kehadiran calon anak yang sudah tumbuh dalam perut Nabil.
"Akhirnya acaranya selesai juga, dan pernikahan kalian di ketahui oleh semu orang, Ummi sangat bahagia karna Nabil mendapatkan suami seperti Faris, dia benar-benar mencintai Nabil dan selalu membuat nya bahagia," ujar ummi berhenti menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
Nabil hanya tersenyum malu, sedangkan Faris begitu bangga karna di puji oleh mertuanya.
"Aku juga bahagia Nabil yang menjadi pendamping hidup cucuku, karna dia wanita yang soleha, sopan, penyabar, dan juga sangat baik!" imbuh kakek yang kini memuji Nabil.
Bukan nya senang, Nabil malah merasa malu saat di puji seperti itu.
"Semoga pernikahan kalian bertahan selamanya dan hidup bahagia dengan anak cucu kalian kelak." timpal abi yang juga merasa begitu bahagia.
Semua mengucapkan kata Amin, atas doa yang di panjatkan sang Abi, sedangkan Diki hanya diam, tidak tau harus menyahuti apa, dia hanya ikut merasakan bahagia kedua mempelai dan juga kedua keluarga nya itu.
Faris menyelesaikan makan malam nya "Ummi, Abi, dan Kakek, kami permisi dulu ya, kasian Nabil sedari tadi sudah kecapean, saya mau bawa Nabil untuk istirahat!" pinta Faris pada seluruh keluarga. Ummi dan abi langsung saling lirik, begitu juga dengan kakek.
"Nabil yang capek atau kamu yang udah nggak sabar?" tanya kakek menggoda sang cucu.
Blus ... Pipi Nabil langsung berubah merah mendengar ejekan kakek nya itu.
"Apapun itu, yang jelas aku ingin segera ke kamar!" sarkas Faris, langsung menggendong Nabil dan membawa wanita nya masuk ke dalam lift.
Nabil hanya memekik karna kaget tiba-tiba Faris menggendong dirinya, akan tetapi dia langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Memang dia cucu yang mini sekali akhlak." cerca kakek sambil menggelengkan kepalanya melihat punggung cucunya yang hilang di balik lift. Sedangkan ummi dan abi hanya tersenyum.
"Kamu Diki tunggu apa lagi? Segera halalkan dia, Kakek lihat dia juga sama baiknya dengan Nabil!" usul kakek kini menatap pada asisten cucunya.
"Ukhuk...!" Diki yang sedang memakan makanan nya sontak tersedak mendengar penuturan lelaki paruh baya yang sudah dia anggap seperti kakek nya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa jadi saya?" tanya Diki sambil meletakkan gelas berisi air yang baru dia minum.
"Ya kamu, kan yang masih singel di sini kamu,"
"Tapi wanita mana yang Kakek maksud, aku tidak paham!" jawab Diki berlagak sok cuek dengan memakan kembali makanan nya.
"Kamu kira Kakek tidak tau, kamu sedang menjaga seorang wanita bukan? Yang tak lain adalah sahabat Nabil,!" perkataan kakek sukses membuat Diki terdiam kaku.
"Bagaimana Kakek tau?" batin Diki menegang, ada rasa malu juga dalam hatinya.
"Ya tentu aku tau, sebagai orang tua aku selalu tau apa yang di inginkan oleh cucu-cucu ku!" jawab kakek seolah mendengar jeritan batin Diki.
Ummi Fatimah dan Abi Zainal saling tatap "Apa benar, Nak Diki menyukai, Mira?" tanya Ummi yang kini juga menatap Diki.
Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum simpul "Ntah lah, Ummi. Saya juga masih ragu,"
"Kenapa? Hal baik nggak usah ragu, dan juga jangan lama-lama, karna pernikahan adalah ibadah, semakin cepat akan semakin baik." timpal ummi lagi.
Diko tertegun mendengar penuturan orang tua Nabil, dia bahkan belum memikirkan ke arah sana.
"Jadi kamu menyerah?" tanya kakek tiba-tiba.
"Allah menciptakan pasangan tidak selalu yang sama-sama sempurna, atau yang sama-sama pandai. Akan tetapi Allah memberikan kesempatan untuk setiap hambanya yang ingin berusaha dan terus berdoa, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah menghendaki. Pasangan itu untuk melengkapi kekurangan satu sama lain, tidak semua manusia sempurna, jika dia sudah tulus mencintai mu, maka dia akan menerima mu apa adanya! Tugas mu hanya memperbaiki diri, bukan memaksa agar mementaskan dengan dirinya, akan tetapi supaya Allah memudahkan mu mendekatkan mu dengan nya juka memang dia jodoh mu!" timpal Abi panjang lebar.
"Terus lah berusaha dan yakin jika Allah itu mampu membolak-balikkan hati manusia, Mira anak yang baik, meski dia sedikit keras kepala, itu karna dia merasa trauma sebah Amir memutuskan pertunangan mereka. Jadi kamu harus tambah kesabaran menaklukkan hati nya, Abi dan Ummi sudah menganggap Mira sebagai anak kami, jadi Abi setuju jika Mira dengan mu, karna Abi tau, kamu anak yang bertanggung jawab." lanjut abi lagi meyakinkan asisten menantu nya itu.
Diki meresap dengan baik setiap pencerahan yang telah di berikan abi Zainal, membuat nya semakin yakin dan bersemangat untuk mengejar Mira yang memang sejak pertemuan ke dua mereka sudah merebut hatinya.
...****************...
Sementara para keluarga tengah memberikan motivasi pada Diki, lain halnya dengan pengantin lama bagaikan pengantin baru ini.
__ADS_1
Faris tengah menggendong Nabil dari kamar mandi dan membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur dengan begitu hati-hati.
Setelah mandi bersama, Faris hanya melilitkan handuk di tubuh polos sang istri, begitupun dirinya yang hanya di baluti handuk putih sepaha.
Nabil memejamkan matanya, pipinya sudah seperti udang rebus, menahan malu karna Faris yang duduk di samping dirinya tengah memandangi tubuhnya dengan tatapan mengingini.
Meski ini bukan yang pertama bagi Nabil, akan tetapi dia tetap merasakan malu sekaligus gugup, karna mendapatkan perlakuan begitu manis dari sang suami.
"Buka matamu, sayang. Pandang aku! Aku ingin kita menghabiskan malam ini saling menikmati dan juga saling memandang, aku ingin selalu melihat cinta di matamu untuk ku!" bisik Faris tepat di telinga Nabil, tangan nya mengelus lembut pipi sang istri.
Nabil mencoba membuka matanya, di lihatnya sang suami tengah tersenyum begitu manis ke arahnya, semakin membuat Nabil merasa gugup.
Faris memajukan wajahnya hingga tidak ada jarak di antara mereka, calon ayah ini menjatuhkan ciuman nya di dahi sang istri, mengecup dengan begitu lama hingga akhirnya turun pada mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir.
Faris ******* bibir ranum sang istri, menggigit agar sang istri membuka mulutnya.
Nabil menikmati setiap sentuhan lembut yang di berikan sang suami, ciuman Faris turun ke leher jenjang Nabil, tangan lelaki itupun sudah membuka handuk yang menutupi dada Nabil.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Du du duh... mas Faris, kok manis banget sih sama mbak nabil, aku harus gigit jari ini, Heheh.
__ADS_1
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.