
Tuhan. Kenapa engkau memberikan orang-orang konyol seperti ini di sekitarku?
Asisten Kim lalu mengambil guling dan melemparnya kearah wajah Dokter Juna membuat pria itu terkejut.
"Anda tega sekali Dokter mengenalkan wanita seperti Lena kepadaku!" ucap Asisten Kim kesal.
"Kenapa? Dia baik. Kau saja yang aneh"
Asisten Kim tidak menggubris ucapan Dokter Juna. Dia meraih handuk lalu langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya.
Yang aku inginkan hanya gadis baik dan polos seperti Mauren. Apakah masih ada yang seperti itu?
10 menit kemudian.
Dia lalu cepat-cepat menyiram tubuhnya yang sudah dipenuhi sabun dan setelah itu mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk dan melilitkan handuk itu pada tubuhnya.
Asisten Kim berjalan keluar dari kamar mandi tetapi matanya tercekat karena melihat Dokter Juna tengah membuka laci mejanya yang di penuhi foto Mauren.
"Anda sungguh tidak sopan, Dokter!" ucap Asisten Kim marah.
Dia berjalan menghampiri Dokter Juna dan langsung merebut semua foto Mauren, ia juga langsung membuang foto itu ke tempat sampah.
"Maaf Kim. Aku hanya mencari kertas dan bolpoin untuk mencatat nomor,"
Asisten Kim berdecak, ia segera mengambilkan kertas dan bolpoin untuk Dokter Juna tetapi kakinya yang masih basah menjadi terpeleset lalu terjatuh diatas tubuh Dokter Juna. Mereka saling terkejut dan bertatapan tetapi tiba-tiba pintu apartemen pria itu terbuka yang ternyata Sean.
Sean langsung ternganga melihat pemandangan yang begitu mengejutkan.
"Kalian sudah sinting! Wanita begitu banyak malah kalian memilih sesama ular," ucap Sean sambil berjalan kearah mereka.
Asisten Kim segera bangun dari badan Dokter Juna, ia segera memakai pakaian dan ikut bergabung dengan kedua temannya. Dia segera mengambil berkas laporan untuk melaporkan pekerjaan hari ini selama di kantor.
"Tidak usah, Kim. Aku percaya padamu," ucap Sean yang tau jika sang Asisten sudah lelah.
Asisten Kim tersenyum, ia meletakan kertas laporannya di meja lalu ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri bersama mereka berdua.
"Bagaimana kencanmu Kim?" tanya Sean sambil memainkan ponselnya.
"Saya tidak menyukai wanita agresif Tuan"
"Kau saja yang aneh," celetuk Dokter Juna yang masih menatap layar TV.
Asisten Kim menatap sinis Dokter Juna, ia masih kesal kepada pria itu.
Yang dia harapkan hanya gadis polos bukan wanita agresif seperti Lena.
"Ayo kita main game!" ajak Sean.
Mereka berdua setuju lalu mengambil ponsel mereka masing-masing, dengan cepat mereka bermain game favorit mereka tidak lupa mulut Sean dan Dokter Juna sambil mengoceh seperti burung beo.
"Giblik kau Sean! Kenapa kau kesana? Gara-gara kau aku terkena serangan musuh," gerutu Dokter Juna sambil fokus menatap layar ponselnya.
"Diam kau Junaedi. Ini tak tik ku untuk menyerang pertahanan musuh. Sialan! Kim, kau ikut aku!" ucap Sean sangat antusias.
__ADS_1
"Jangan Kim! Kau kesini saja denganku," ucap Dokter Juna.
"Brengs*k! Ikut aku saja bodoh!"
Sedangkan Asisten Kim kebingungan dengan teman teranehnya, ia justru keluar dari game membuat permainan mereka menjadi kalah.
Asisten Kim cuek, ia langsung merebahkan dirinya dan memeluk guling.
Sean sangat geram lalu menendang Asisten Kim sehingga membuat pria itu terjatuh dari ranjang.
Gubraaaak...
"Awwww....," teriak Asisten Kim yang kesakitan.
"Gara-gara kau kita jadi kalah! Ku potong gaji kau, Kim!" ucap Sean kesal.
"Potong saja Tuan! Uang saya sudah banyak," jawab Asisten Kim sambil merebahkan dirinya lagi di ranjang.
"Sialan! Ayo bertengkar Kim!"
"Besok saja, Tuan. Saya lelah"
Sean seketika menindih tubuh Asisten Kim dengan kuat membuat pria itu kesakitan. Dia terlihat menjambak rambut Asisten Kim. Mereka bertengkar seperti anak kecil. Sedangkan Dokter Juna menyoraki mereka seperti wasit.
"Ayo Sentet! Ayo Sukim! Tunjukan kehebatan kalian! Hahaha Dasar anak kecil!" ucap Dokter Juna.
Tetapi dengan cepat Sean menarik Dokter Juna dan menggelitiki tubuh pria itu. Tampak Dokter Juna sangat kegelian dan memberontak.
"Sialan kalian! Aku sudah berumur 30 tahun masih di ajak bertengkar. Mana wibawa kalian yang sebagai presdir dan seorang asisten hebat?" ucap Dokter Juna memberontak.
"Baik Tuan"
"Brengs*k! Jika mengerjaiku saja kalian sangat kompak. Cepat lepaskan!" ucap Dokter Juna.
Ceklek...
Pintu apartemen Asisten Kim terbuka ternyata Mauren yang membukanya. Dia kaget ketika trio somplak bertengkar diatas ranjang seperti anak kecil. Mauren lalu mengelus perutnya dan berharap anaknya nanti tidak seperti mereka.
Amit-amit jabang bayi. Batin Mauren.
Sean terkejut lalu melepaskan Dokter Juna, ia pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Asisten Kim berpura-pura menonton TV.
"Lihatlah Mauren! Suamimu sangat sinting," ucap Dokter Juna sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Apa?" jawab Sean santai.
Mauren lalu memeluk Sean dan terduduk dipinggir ranjang. Dia mencium pipi Sean, Sean heran kenapa Mauren bisa tau kode pin apartemen sang asisten. Tetapi ia tidak mau bertanya dan mempermasalahkan karena kini Mauren sedang hamil.
Sedangkan Asisten Kim berpura-pura menonton TV, dia tidak mau melihat kemesraan sang mantan gebetan bersama sang suami.
"Dimana yang sakit Kim? Biar aku periksa? Apakah disini? Dadamu sakit? Aduh kasian...," ucap Dokter Juna menggoda Asisten Kim.
"Apaan sih Dokter?"
__ADS_1
"Jangan khawatir Kim! Aku masih punya teman wanita yang cantik dan aku akan mengenalkanmu padanya"
"Aku tidak mau jika seperti Lena"
"Tidak. Dia sangat baik, akan ku kirim nomornya kepadamu. Kau telpon dia sendiri"
Mauren melirik Asisten Kim, ia sebenarnya masih merasa kasian.
Tetapi bagaimana lagi? Dia tidak bisa menghindar dari pria itu.
Semoga kau mendapat gadis yang baik Kak Kim. Batin Mauren
"Kau ingin gadis yang polos 'kan Kim? Bagaimana jika kau pilih salah satu dari adik sepupu Sean?"
"Sialan kau Juna! Mereka masih sekolah dan jangan kalian mencoba mendekati adik-adikku!" ucap Sean marah.
"Kau punya adik-adik cantik jangan pelit Sean, ayolah berikan kepada kita," ucap Dokter Juna bercanda.
"Ayo bertengkar Juna! Dasar Dokter mesum kau!"
"Hahaha... bercanda Sean. Jangan marah!"
***
Zara menyiapkan seragam magangnya, ia sangat antusias karena besok ia akan magang di hotel milik Reno. Dia lalu memandangi foto Reno yang tersimpan di ponselnya, hatinya sangat berdebar ketika membayangkan wajah tampan milik Reno.
Sedangkan Sera sedang bermain ponselnya, ia mengirim pesan kepada pacar rahasianya. Ya... kini ia sudah mulai berani berpacaran dibelakang sang Mama dan Kakeknya.
Sera memang memiliki sikap yang berani tetapi cuek dan tidak takut kepada ancaman sang Kakek yang menyuruhnya tidak boleh berpacaran.
"Sera?"
"Apa?"
"Besok rambutku biar terlihat rapi enaknya di apakan ya?" tanya Zara sambil memegangi rambutnya.
"Di botak saja," jawab Sera santai.
"Isshh... kau selalu begitu Sera"
"Pertanyaanmu tidak penting sekali"
Zara menghela nafas, ia membenamkan wajahnya ke bantal dengan kakinya yang menghentak-hentak sambil memikirkan Reno. Setelah itu ia melirik Sera lagi yang tengah memainkan ponselnya.
"Bagaimana jika aku mengungkapkan perasaanku ke Kak Reno?"
"Terserah"
"Issh... Dasar! Lebih baik aku curhat dengan Kak Mauren"
"Eh ngomong-ngomong dengan Kak Mauren, sejauh apa ya hubungannya dengan Kak Sean?" tanya Sera penasaran.
_____________
__ADS_1
Ayo dong .. budayakan jika sudah membaca tekan tombol LIKE nya... Hargai author ya kawan... like komen dan vote dari kalian sangat berarti buat saya...